Pengamat: Peluang Caleg Gagal Tipis di Pilgub 2020, Perlu Strategi

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di Sumatera Barat (Sumbar) memang masih jauh. Namun beberapa tokoh mulai mengukur-ngukur kapasitas untuk maju bakal calon baik calon gubernur Sumbar dan bupati walikota.

Tidak ketinggalan, tokoh yang sudah mencoba peruntungan dalam pemilu serentak 2019 sebagai calon legislatif (Caleg) namun gagal duduk menjadi anggota dewan. Kini mereka mengukur sembari menyiapkan diri untuk bursa Pilkada.

baca juga: Suhatril-M Tonic Tidak Serahkan Syarat Dukungan Perbaikan, Pilkada Agam Tanpa Calon Independen

Nama-nama besar itu seperti Shadiq Pasadigoe maju bersama Partai Amanat Nasional (PAN), Fauzi Bahar dari Nasdem, Ketua PKB Sumbar Febby Dt Bangso dan masih banyak lagi caleg yang gagal telah mulai bangkit pasca Pileg.

Selain mereka ada beberapa deretan nama yang non partai seperti Kapolda Sumbar Fakhrizal dan Donny Monek Sekjen DPD RI.

baca juga: Ferizal-Nurkhalis Serahkan 19.020 KTP untuk Perbaikan Dukungan ke KPU, Maskar-Masril Menyerah

Pengamat politik dan komunikasi dari Unand Najmuddin M Rasul menilai kegagalan di Caleg bukti mereka tidak diinginkan masyarakat. Walaupun begitu mereka yang gagal dalam Pileg tetap memiliki peluang, namun sangat tipis sekali.

"Jadi, semua yang memenuhi syarat sesuai regulasi boleh maju kandidat kepala daerah termasuk mereka yang gagal Pileg. Cuma, bagaimana strategi mereka pasca gagal perlu menjadi catatan," ujarnya kepada KLIKPOSITIF , Kamis, 1 Agustus 2019.

baca juga: Pilkada Pasbar: Agus-Rommy Serahkan 27.188 Syarat Dukungan Perbaikan

Persoalan lainnaya, kata Najmuddin, apakah mereka akan maju melalui jalur partai atau Perseorangan. Jika dengan partai tentu banyak pertimbangan partai untuk mencalonkan si calegal (caleg gagal) ini.

"Begitu juga perseorangan akan sulit mendapatkan dukungan dalam pengumpulan KTP misalnya. Walaupun begitu, dalam politik tidak ada yang tidak mungkin, apapun bisa terjadi," kata dia.

baca juga: Tegaskan SK Gerindra Tidak Berubah, Andre: Kita Segera Konsolidasi Menangkan NA-IC

Menurutnya, si calegal perlu melakukan beberapa strategi untuk bisa meyakinkan masyarakat agar kekalahan di Pileg bisa tertutupi. Kemudian perlu melakukan survey untuk mengetahui elektabilitas.

Selain itu perlu juga feasibilitas untuk membuat langkah - langkah politik seperti merancang pola dan metode komunikasi politik yang akan digunakan, penggunaan media dalam mendobrak elektabilitas, pemilihan pesan politik, data base dan swot analysis," terangnya.

Terkahir disampaikan Najmuddin, jika pola dan metode itu bisa atur dengan baik, maka potensi keterpilihan caleg gagal cukup tinggi. "Peluangnya seperti itu untuk Pilkada, sebab mereka akan berada dalam kontestasi yang lebih besar dari sebelumnya (Pileg)," tukasnya.

Sependapat dengan Najmuddin, Direktur Eksekutif SBLF Research and Consultan Edo Andrefson juga punya pandangan demikian.

"Butuh kekuatan ekstra dan waktu lama untuk membangkitkan elektabilitas mereka kembali. Apalagi jarak Pilkada dan Pileg sangat dekat. Masih kuat diingatan masyarakat soal kegagalan mereka," ujarnya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir