Jelang Idul Adha, Situs Mande Rubiah Ramai Dikunjungi

Situs sejarah Mande Rubiah
Situs sejarah Mande Rubiah (Kiki Julnasri/Klikpositif)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Jelang Idul Adha 1440 Hijriah, situs peninggalan Mande Rubiah di Nagari Lunang, Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan -Sumatera Barat ramai dikunjungi masyarakat.

Mande Rubiah dikisahkan dalam sejarah kerajaan Pagaruyung sebagai anak keturunan raja pada abad ke 14 Masehi, hingga kini diyakini sebagai bukti sejarah dalam peradaban Minangkabau.

baca juga: 10 Tips Bersepeda 'Ala' Ketua ISSI Pessel

Sebagai bukti sejarah, tidak sertamerta kelestarian cerita ini hilang ditelan masa. Baik lokal maupun luar setiap hari-hari besar menjadi sasaran wisata religi.

"Kunjungan meningkat, terutama saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha . Tetapi, Idul Fitri yang paling ramai," ungkap Zulrahman Sekretaris Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat yang juga anak dari pewaris ke tujuh Mande Rubiah saat ditemui KLIKPOSITIF .

baca juga: Tim BNPB Verifikasi Usulan Pemkab Pessel Terkait Kebencanaan Daerah

Dalam tahun ini hingga awal Agustsus, kata Zulrahman jumlah masyarakat yang sudah berkunjung mencapai seribuan orang. Jumlah itu relatif meningkat terutama saat hari besar Islam sebelum maupun sesudah.

"Jumlah itu dihitung dalam catatan setiap rombongan, satu rombongan dalam sehari terkadang mencapai 50 orang, dan paling sedikit, keluarga sekitar 8 orang," terangnya.

baca juga: Tetap Pakai Protokol COVID-19, Ini Lokasi Salat Idul Adha di Kota Padang

Salah satu objek sasaran masyarakat untuk berwisata ke situs peninggalan Mande Rubiah, diantaranya mengintip Rumah Gadang, berziarah ke pemakaman Mande Rubiah dan melihat benda-benda sejarah yang berkaitan dengan Minangkabau.

"Setiap objek jadi sasaran, baik berkunjung ke Rumah Gadang, komplek pemakaman dan mengenal setiap benda-benda sejarah yang ada," terangnya.

baca juga: Soal Anggaran COVID-19 di Pessel, DPRD Minta Pengawasan Penegak Hukum

Sementara itu, salah pengujung mengaku, hampir setiap hari raya besar Islam berkunjung ke tempat ini. Selain, dianggap memiliki keramat, situs ini juga menjadi tempat eduksi terhadap sejarah di Minangkabau.

"Selain ziarah, kami datang setiap hari raya Idul Adha dan Idul Fitri membawa anak-anak mengenal cerita Mande Rubiah dan melihat langsung peninggalannya ," sebut Yuni (38) pengunjung dari daerah tetangga Muko-muko Provinsi Bengkulu.

Situs Mande Rubiah diresmikan pada Maret 1980 malalui SK Bupati Pesisir Selatan nomor 1.08.26/268/BPT-PS/1998, dan dilindungi Undang-undang 5 tahun 1992 dibawah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batu Sangkar Provinsi Sumbar- Riau.

Dikisahkan dalam jejak keturunan kerajaan Pagaruyung, dimana Mande Rubiah merupakan seorang Putri Bundo Kandung yang bernama Putri Salasiah Pinang Masak yang melarikan diri dan kemudian membangun isatana di hilir Batang Lunang.

Situs Mande Rubiah diperkirakan berjarak sekitar 250 kilometer dari pusat Kota Padang dengan tempuh perjalanan 6-8 jam, dan 151 kilometer dari Painan tepatnya di Nagari Lunang, Kecamatan Lunang dengan waktu tempuh 3 jam lebih kurang.

(Kiki Julnasri)

Penulis: Rezka Delpiera