JNE Tekankan Pentingnya Detil Alamat Penerima Paket atau Dokumen di Era Digital

Salah satu aktifitas di JNE.
Salah satu aktifitas di JNE. (Dok. JNE)

KLIKPOSITIF JNE yang sebentar lagi merayakan hari jadinya ke-29 tahun sejak didirikan pada 1990 silam, kini telah memiliki lebih dari 7000 titik layanan di seluruh nusantara, mulai dari kota besar hingga ke pelosok.

Jaringan yang hinggi kini terus diperluas tersebut, berdasarkan jumlah pulau berpenghuni yang jumlahnya sebanyak tak kurang dari 6000 pulau di Indonesia menurut data dari berbagai sumber.

baca juga: Webinar JNE Bahas Strategi Digital UMKM Menghadapi The New Normal

Berdasarkan survei penduduk antar sensus (Supas) 2015, jumlah penduduk Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta jiwa. Seluruhnya tersebar dan berada di sebanyak 83.447 kelurahan atau desa.

Dalam menjalankan proses pengantaran paket semua pelanggan setianya, seluruh destinasi di puluhan ribu kelurahan atau desa tersebut telah dapat dijangkau oleh JNE . Dari sekian banyak daerah, banyak juga yang memiliki kemiripan nama, bahkan sama persis dalam penulisan atau pengucapannya, misalnya kota Kediri di Jawa Timur dan kecamatan Kediri di Bali. Ada pula kota Depok di Jawa Barat dengan kecamatan Depok di Yogyakarta.

baca juga: Kontribusi Nyata JNE Sebagai Brand Lokal di Tengah Pandemi COVID-19

Bahkan, di wilayah lainnya, terdapat juga daerah dengan nama yang sama dalam satu kota atau kabupaten, seperti kecamatan dan kelurahan/ desa Widodaren di Ngawi, Jawa Timur. Oleh karena itu, sejak tahun 1980-an, Indonesia mulai menerapkan sistem kode pos, setelah tahun 1941 sistem kode pos dijalankan untuk pertama kalinya oleh Jerman.

Kode pos sangat penting untuk diketahui karena merupakan penanda resmi yang menginformasikan mengenai identitas suatu wilayah di sebuah Negara, apalagi untuk pengiriman paket maupun surat. Saat ini, dimana aktifitas pengiriman paket dan surat menjadi bagian utama dalam proses transaksi e-commerce, maka kode pos menjadi salah satu hal yang sangat penting untuk dicantumkan dalam kelengkapan data alamat tujuan atau penerima paket.

baca juga: JNE Bersinergi dengan Ikhlas Foundation Berbagi 1500 Nasi Bungkus untuk Buka Puasa

Hal tersebut agar paket dapat terkirim kepada penerimanya dengan lancar dan mencegah terjadinya kendala dalam proses distribusi. Eri Palgunadi, VP of Marketing JNE mengatakan, “Aktifitas pengiriman paket atau logistik adalah salah satu pilar utama selain online platform dan payment gateway dalam e-commerce, agar keseluruhan proses dalam transaksi antara online seller dengan buyer dapat terselesaikan dengan lancar.

Oleh karena itu, seluruh komponen dalam proses pengiriman paket atau dokumen harus lengkap, salah satunya detil alamat termasuk kode pos penerimanya”. Terkait pentingnya kode pos ini pun telah ditegaskan oleh online marketplace terkemuka seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Blibli, dan yang lainnya.

baca juga: JNE Raih The Most Intelligent CIO dalam iCIO Awards 2020

Online buyer atau pembeli yang melakukan transaksi online melalui berbagai online marketplace tersebut diwajibkan untuk memasukan kode pos ketika melengkapi alamat atau transaksi tidak bisa dilanjutkan ke proses pembayaran.

Eri pun menjelaskan bahwa hingga saat ini JNE terus menghimbau para pelanggan setianya melalui berbagai cara, agar selalu mencantumkan kode pos dalam alamat tujuan penerima paket. “Jika lupa atau tidak hafal kode pos dari alamat tujuan penerima paket, maka jangan segan atau ragu untuk menanyakannya kepada petugas sales counter di titik layanan JNE terdekat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Pundi F Akbar