Dibawah Ancaman Kabut Asap Kiriman, DLH Klaim Kualitas Udara di Sumbar Relatif Baik

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Sumbar diselimuti kabut asap dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir. Asap yang menyelimuti Ranah Minang itu disinyalir merupakan asap 'impor' dari provinsi tetangga, yakni Riau dan Jambi, yang memang berbatasan langsung dengan wilayah tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Siti Aisyah mengakui, cuaca di wilayah Sumbar memang berkabut beberapa hari terakhir. Namun paparan kabut asap tersebut bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumbar. Melainkan kabut asap kiriman dari provinsi tetangga (Riau).

baca juga: Tanah Datar Masih Diselimuti Kabut Asap, Pemkab Liburkan Sekolah Dua Hari

"Data kualitas udara di Sumbar per jam masih terbilang relatif baik untuk hari ini," kata Siti Aisyah, Selasa, 10 September 2019.

Maka dari itu, jelas Siti Aisyah, berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dari DLH Sumbar tercatat Particulate Matter (PM-10) di Sumbar berada di angka 27 dan Sulfur Dioksida (SO2) pada angka 4 dengan status kualitas udara baik.

baca juga: Cegah ISPA, Dinkes Pessel Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

"Untuk parameter kualitas udara yang meliputi SO2, karbon dioksida (CO2), ozone (O3), nitrogen oksida (NO2) masih masuk kategori sehat," jelas Siti Aisyah.

Siti Aisyah menuturkan, standar yang digunakan DLH untuk mengukur kualitas udara adalah dengan standar partikel debu PM-10. Sebab, regulasi yang berlaku di Sumbar dengan menggunakan 5 (lima) jenis parameter pengukuran indeks kualitas udara, yaitu PM10, SO2, CO, O3, dan NO2 yang dipantau selama 24 jam.

baca juga: Dampak Kabut Asap, Ribuan Balita di Pessel Terjangkit ISPA

"Sedangkan nilai konsentrasi PM 2.5 sudah diatur sebesar 65 ug/m3 (perbandingan dengan baku mutu udara ambien nasional atau ukuran batas unsur pencemar) per 1 jam. Standar ini sedikit lebih rendah dari standar PM10 sebesar 150 ug/m3," terang Siti Aisyah.

Oleh karena itu, Siti Aisyah mengingatkan masyarakat agar tidak perlu khawatir jika ingin melakukan aktivitas di luar ruangan karena kualitas udara di Sumbar masih baik. Selain itu, masyarakat juga perlu terlibat melakukan pencegahan kebakaran lahan terutama dilingkungan tempat tinggal.

baca juga: Kabut Asap Semakin Pekat, Empat Daerah di Sumbar Liburkan Siswa

Hal senada juga disampaikan Seksi Karhutla Dinas Kehutanan Sumbar, Dudi Badrudin. Menurut pantauan dari Dinas Kehutanan terkait kondisi udara di Sumbar saat ini masih dalam kondisi baik. Sehingga menunjukan kualitas udara yang tidak memberikan efek buruk bagi kesehatan manusia.

"Kita perkirakan kondisi udara di Sumbar yang berkabut belakangan ini dipengaruhi oleh provinsi Riau," kata Dudi.

Selain itu berdasarkan pantauan hot spot (titik api) di Sumbar, Dudi mengaku memang ditemukan 4 (empat) hot spot di provinsi itu. Akan tetapi masih dengan tingkat kepercayaan dibawah 60 persen. Artinya, belum bisa dipastikan bahwa itu adalah titik api atau belum mengkhawatirkan.

"Ya kadang-kadang kayak gini lah kan (kondisi udara di Sumbar, red). Kadang-kadang memang ada kabut asap . Memang di Riau dan Jambi itu sudah terjadi kebakaran hutan yang cukup besar," kata Dudi.

Sementara di Sumbar, sambung Dudi, hingga saat ini tidak ada laporan kebakaran. Maka bisa disimpulkan Sumbar aman dalam artian belum berdampak besar kepada kesehatan masyarakat seperti terserang ISPA dan harus menggunakan masker meskipun ada kebakaran di provinsi Riau.

"Misalnya masyarakat harus pakai masker, terserang ISPA, itu di Sumbar tidak ada. Kalaupun ada asap, itu pun kirimam Riau dan Jambi," sebut Dudi. (*) 

Penulis: Joni Abdul Kasir