10 Tahun Lalu, Gempa Dahsyat Porak Porandakan Sumbar

Suasana di kawasan Pondok Kota Padang setelah diguncang gempa pada 30 September 2009 yang lalu
Suasana di kawasan Pondok Kota Padang setelah diguncang gempa pada 30 September 2009 yang lalu (KLIKPOSITIF/Haswandi)

PADANG , KLIKPOSITIF  -- Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 30 September 2019 pukul 17.16 WIB, terjadi gempa dahsyat yang mengguncang Sumbar . Gempa M=7.9 yang kemudian dimutakhirkan menjadi M=7.6 itu terjadi di wilayah 57 kilometer barat daya Pariaman, dengan kedalaman 71 kilometer.

Akibat gempabumi tersebut, sebanyak 1.117 orang meninggal dunia yang tersebar di beberapa kota dan kabupaten di Sumbar . Selain itu, tercatat 1.214 orang mengalami luka berat dan 1.688 orang mengalami luka ringan.

baca juga: Untuk Wilayah Sumbar, Indeks Pencemaran Udara di Kota Padang Terendah Selama 2020

Gempabumi  itu juga membuat 135.448 bangunan mengalami rusak berat, 65.380 rusak sedang dan 78.604 mengalami rusak ringan.

“Waktu itu saya sedang berada di balai kota dan Camat Padang Barat sedang menghadap saya. Tiba-tiba terjadi gempa. Semuanya rebah, termasuk akuarium. Saking kerasnya guncangan gempa, mau menangkap ikan yang tergelatk saja saya tidak sempat. Saya lalu pulang ke rumah dan melihat ibu masih ada,tapi satu anak saya tidak ada,karena sedang les. Namun tak lama keumidan ia pulang dan saya suruh dia ke bypass, sementara saya lari ke Stasiun Radio RRI,” ujar Mantan Wali Kota Padang , Fauzi Bahar ,mengenang kejadian sepuluh tahun lalu.

baca juga: Ramadan Kali Ini, Pemko Padang Tidak Buka Pasar Pabukoan

Fauzi Bahar menilai, radio sangat efektif menyampaikan informasi kepada masyarakat, terutama saat terjadi bencana. Ketika listrik mati dan jaringan telepon terganggu,masyarakat akan memilih radio untuk mendapatkan informasi. Ketika sedang lari ke tempat tinggi, warga yang menggunakan mobil bisa sambil mendengar informasi melalui radio.

“Saat itu, listrik mati dan siaran RRI Padang juga mati. Tapi ada genset. Saya bisa menghidupkan genset, tapi tidak bisa menghidupkan siaran RRI. Makanya saya meminta on air siaran RRI. Melalui radio saya minta TNI/Polri untuk membantu masyarakat di sekitar mereka. Saat siaran itu, saya juga dapat kabar banyak anak-anak yang terkurung di Bimbel (bimbingan belajar) Gama, dan saya arahkan TNI dan Polri untuk evakuasi di sana,” lanjut Fauzi Bahar .

baca juga: Ini Aturan Untuk Rumah Makan di Padang Selama Bulan Puasa

Menurut Fauzi Bahar , semenjak sore setelah gempa hingga malam, kosentrasi warga terfokus pada dampak gempa, mulai dari aktivitas evakuasi korban dan barang dalam reruntuhan bangunan, hingga evakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi.

“Saya rasa, seharian itu, banyak yang tidak makan. Barulah esoknya banyak yang mencari makan, karena kedai dan toko sebagian besarnya tutup. Selain itu juga terjadi kebakaran di 37 titik dalam waktu yang bersamaan. Ada LSM yang bilang pemerintah lamban dalam menangani kebakaran ini. Sebenarnya, mobil pemadam stand by, tapi sopirnya hanya sedikit, karena sebagian besar dari petugas damkar juga menjadi korban gempa,” ulas Fauzi Bahar .

baca juga: Kualitas Udara Semakin Buruk, DLH Padang Rancang Perda Pengendali Udara

Setelah 10 tahun kejadian gempa berlalu, Fauzi berharap kemampuan mitigasi bencana masyarakat Sumbar lebih meningkat. Pasalnya, Sumbar sudah sering diterpa bencana seperti gempa, tanah longsor,banjir dan bencana lainnya,sehingga bisa lebih peka terhadap segala bentuk bencana.

“Kemampuan atau skill mitigasi bencana itu penting untuk dimiliki. Latihannya perlu dilakukan secara kontinyu, baik untuk sekolah, hotel dan yang lainnya. Jika terjadi gempa, apa yang harus dilakukan? Kita harus tahu, supaya lebih familiar,karena gempa tidak hanya terjadi di Padang saja, tapi bisa di mana saja. Jika terjadi gempa di daerah lain, kita bisa langsung menyesuaikan. Mitigasi bencana ini harusnya juga masuk kurikulum sekolah, agar pemahaman bencana ini sudah diasah semenjak usia dini. Hari ini bisa belajar bencana longsor, besok tsunami dan seterusnya,” harap Fauzi Bahar .

Pembangunan shelter menurut Fauzi Bahar juga perlu dilanjutkan, untuk menekan angka korban jiwa jika terjadi tsunami. Menurutnya, minimal masing-masing kelurahan di Kota Padang harus memiliki shelter, sehingga bisa menampung warga di sekitar shelter tersebut.

“Membangun shelter bisa dicicil. Misalnya, satu dalam setahun. Kalau cari tanah sulit, dibangun saja di sekolah, bikin berlantai empat. Lantai 1-3 ruangan kelas, sementara lantai 4 bisa untuk shelter,” papar Fauzi Bahar .

Fauzi Bahar menambahkan, peringatan mengenang 10 tahun kejadian gempa itu bukan untuk membuat warga bersedih, tapi untukmengingatkan kembali bahwa ada pernah terjadi gempabumi dahsyat yang banyak menelan korban jiwa dan harta benda.  “Mari kita berdoa untuk keluarga korban , agar lebih tabah menerima semua kejadian ini,” tutup Fauzi Bahar . (*)

Penulis: Iwan R