KPU Terus Matangkan Rekapitulasi Berbasis Elektronik

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Rencana Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) menerapkan rekapitulasi berbasis elektronik (E-Rekap) terus dimatangkan, salah satunya dengan mendengar penerapannya di berbagai negara.

Menghadirkan narasumber dari Commissioner of Commission Election (COMLEC), Luie Tito F Guia dan Expert Consulting Building of International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA), Peter Wolf isu tentang pelaksanaan e-rekap di berbagai negara pun diulas dalam Focus Group Discussion (FGD).

baca juga: Kalung Antivirus Corona Tak Cukup Bukti, Ahli: Kalau Buat Jualan Emang Laku

Ketua KPU RI, Arief Budiman menyampaikan bahwa penggunaan teknologi dalam Pemilu di Indonesia bukan hal baru, pada Pemilu Serentak 2019 penyelenggara pemilu telah menggunakan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) meskipun sifatnya hanya menjadi alat bantu.

Arief berharap penyelenggara pemilu mendapat berbagai informasi dan catatan penting dari pelaksanaan pemungutan suara berbasis elektronik di berbagai negara.

baca juga: Jawab Keraguan Eucalyptus Sebagai Antivirus, Kementan RI: Secara Ilmiah Bisa Dibuktikan

"Target kita akhir tahun 2019 semua perangkatnya hukum, aturan, model, kemudian pelatihan awal bisa diselsaikan di 2019. Tahun 2020 kita bisa simulasi di Kabupaten/Kota dan Provinsi yang laksanakan pemilihan 2020. Lalu kita putuskan ini (E-Rekap) digunakan atau tidak digunakan, timeline harus jelas kita terapkan di seluruh tempat, di sebagian tempat, atau bagaimana," ungkap Arief di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Sementara itu, memulai paparan diskusi, Peter menceritakan pengalamannya melihat pelaksanaan pemilu di berbagai negara. Mulai dari Pakistan dan Kenya yang sudah menggunakan handphone dalam tahapan pendaftaran pemilih sampai penghitungan suara. Kendati demikian, pada negara maju seperti Belanda pelaksanaan pemilu justru kembali pada surat suara manual dikarenakan sistem pemilu berbasis elektronik dianggap tidak aman dan serangan cyber.

baca juga: Kementan Produksi Kalung Antivirus Corona, Said Didu: di Luar Akal Sehat

Di sisi lain, Luie menceritakan kesuksesan pelaksanaan pemilu berbasis elektronik di Filipina. Kurang lebih 15 tahun sejak 1992, Filipina mulai menyiapkan berbagai perangkat mulai dari sistem informasi, SDM, sampai regulasi.

Pelaksanaan pemungutan suara di Filipina pun sudah menggunakan alat khusus yang dapat memindai QR Code pada surat suara yang sebelumnya di berikan kepada pemilih.

baca juga: Tidak Terawat, UMSB Rencana Bangun Replika Markas Syafruddin Prawiranegara di Koto Tinggi Limapuluh Kota

Untuk Memastikan penghitungan dilakukan serentak, mesin pemindai surat suara tidak terhubung dengan koneksi internet. Koneksi internet akan dihidupkan sesaat setelah waktu pemungutan berakhir.

Suara yang dipindai oleh mesin pun kemudian akan disokong dalam tiga server, salah satu servernya dapat menampilkan penghitungan suara dan dapat diakses langsung oleh masyarakat. (*)

Penulis: Eko Fajri