Ini Solusi Untuk Penuhi Ketersediaan Kebutuhan Pangan Oleh DTPHP Pasbar

Kasubag Perencanaan evaluasi dan pelaporan, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan, Fitria Santi.
Kasubag Perencanaan evaluasi dan pelaporan, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan, Fitria Santi. (KLIKPOSITIF/ Irfan Pasaribu)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF -- Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Pasaman Barat terus berupaya mengembalikan alih fungsi lahan tanaman tahunan ke tanaman musiman (pangan) di daerah itu.

"Ketersediaan dan kebutuhan pangan jelas tidak dapat di tawar lagi. Pasalnya menyangkut masa depan masyarakat," ucap Kasubag Perencanaan evaluasi dan pelaporan, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan, Fitria Santi kepada KLIKPOSITIF , Senin (21/10).

baca juga: Kontak dengan Dua Pasien COVID-19, Puluhan Warga Pasbar Test Swab Massal

Ia mengatakan, sejak tahun 2016 hingga 2018 pihaknya telah melakukan alih fungsi lahan perkebunan ke lahan sawah didaerah itu. "Kita telah melakukan cetak sawah sebanyak 175 hektare yang tersebar di Kecamatan Kinali dan Kecamatan Ranah Batahan.

Sambungnya, lahan pertanian tanaman pangan tidak bisa dibiarkan berubah fungsi selamanya. "Hal itu sama saja mengorbankan hilang nya stok komoditas pangan di Kabupaten Pasaman Barat yang dulunya dikenal berlimpah," katanya.

baca juga: Pulang Dari Aceh, Dua ASN di Pasaman Barat Terkonfirmasi Positif Corona

Disamping dari keinginan pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan, permintaan petani terus meningkat untuk terus mangalih fungsi kan lahan perkebunan sawit mereka ke lahan sawah.

Faktor permintaan yang mempengaruhi petani dikarenakan harga sawit yang terus anjlok, sehingga penghasilan petani itu sendiri tidak stabil dan mempengaruhi kebutuhan hidup mereka.

baca juga: Diterima di Universitas Al Azhar, Santri Asal Kapar Pasbar Terkendala Biaya Berangkat

"Kesadaran akan penting nya kebutuhan hidup pun sangat mempengaruhi para petani. Beras sebagai makanan pokok mendesak petani untuk mengalih fungsi kan lahan mereka ke lahan sawah," paparnya.

Ia menjelaskan, pengalihan fungsi lahan tahunan ke lahan musiman tidak semudah itu karena dipengaruhi PH tanah, ada di beberap lokasi di Pasaman Barat kadar keasaman tanah terlalu tinggi.

baca juga: Warga Pasaman: Pohon Pelindung Bukan Untuk Wadah Kampanye

Seperti di Kecamatan Ranah Batahan, dilokasi itu kendala yang ditemukan unsur hara tanah perlu dilakukan pengapuran, jika tidak dilakukan tanaman musiman tidak akan berkembang dan sifat asam ini racun," jelasnya.

Untuk itu pihaknya terus melakukan penyuluhan yang intensif kemasyarakat dengan menyarankan dilakukan pengapuran agar PH tanah kembali normal. "Ya dengan memberikan pupuk organik yang berasal dari pupuk kandang dan pupuk kompos," terangnya.

Namun di tahun 2019 ini pihaknya tidak ada melakukan cetak sawah. "Tahun ini kita hanya melakukan desain, dan pengerjaannya InshaAllah di tahun depan," ungkap Fitria.

Disamping itu Fitria mengatakan, untuk tanaman pangan pada tahun ini terus meningkat, seperti Jagung contohnya, sepanjang tahun 2019 per Januari hingga Agustus, ada sekitar 23.899 hektare lahan yang ditanami jagung.

Akan tetapi, sebagian dari total jumlah lahan yang ditanami tanaman jagung itu hanya peralihan fungsi lahan sementara, hal itu disebabkan banyak nya lahan perkebunan sawit yang di repelanting hingga tanaman sawit itu berproduksi.

Sedangkan untuk lahan tanaman Padi ada sekitar 18.989 hektare, Kacang Tanah 287 hektare, Kacang Hijau 96 hektare, Ubi Kayu 114 hektare dan Ubi Jalar 114 hektare. [Irfan Pasaribu]

Penulis: Eko Fajri