Catatan Duka Korban Kerusuhan Wamena

Sekretaris IKM Wamena Nofri Zendra
Sekretaris IKM Wamena Nofri Zendra (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - "Saya, bagian dari mereka yang selamat masih bertahan di sini. Menikmati kenangan indah Kota Wamena di sela puing-puing luka," tulisan pembuka dari Nofri Zendra dalam tulisannya "Mengenang Tangis Nasrul Abit di Bumi Papua " dikirim ke KLIKPOSITIF .

Tragedi Wamena berdarah pada Senin 23 September 2019, menyisakan luka yang mendalam bagi kita semua, terutama bagi perantau Minang yang selama ini mengais rezeki di ujung Indonesia itu.

baca juga: Pemerintah Perpanjang Masa Pelaksanaan Pekerjaan Venue PON XX

Pagi, sekitar pukul 08.30 WIT ratusan massa tiba-tiba menyerang kios-kios yang rata-rata dihuni oleh pedagang Minang. Kelompok massa membabi buta dengan membakar kios-kios pedagang. Bahkan 9 warga Minang asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat meninggal dunia.

Benar kata tetuah. Ada hikmah di balik setiap peristiwa, ada pula pembelajaran usai rusuh Wamena. Kekompakan urang awak di seluruh Indonesia kian nyata di Nusantara. Terlebih setelah kedatangan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit (NA) di Wamena, perhatian pemimpin begitu terasa. Kami sempat menangis bersama.

baca juga: PON XX Papua 2020 Ditunda Hingga Oktober 2021

Para korban Wamena mengungsi ke Kodim dan Polres sejak awal kerusuhan. Mereka menyelamatkan diri hanya dengan pakaian dibadan. Saat itu kami tidak tahu harus berbuat apa-apa. Sembilan warga Sumbar menjadi korban mau diapakan.

Sehari setelah kejadian jenazah para korban sudah dibawa ke rumah sakit. Saya selaku Sekretaris IKM (Ikatan Keluarga Minang) Kabupaten Jayawijaya mendapat telepon dari keluarga korban di kampung halaman. Keluarga meminta tolong diuruskan jenazah korban agar bisa dipulangkan ke Pesisir Selatan.

baca juga: Komite II DPD RI Minta Pemerintah Evaluasi Keberadaan Pasukan Non-Organik di Papua

Keluarga mengaku siap menanggung biaya asalkan korban dimakamkan di rumah. Saya sedih. Terbayang nasib mereka, sudah ditinggal keluarga, harus pula menanggung biaya pemulangan. Malam itu saya sempat menangis sendiri di pengungsian. Kepada siapa harus mengadu. Kami semua di sini adalah korban.

Setiap saat saya selalu menjalin komunikasi dengan Ketua DPW IKM Papua Zulhendri Sikumbang via telepon. Berdiskusi untuk mencari solusi. Di sela-sela komunikasi dengan beliau yang akrab saya penggil “mamak”, karena sama-sama suku sikumbang, saya sampaikan, bagaimana kalau dalam situasi seperti ini, IKM mengadu kepada Pemda Sumbar.

baca juga: 63 Tapol Papua Desak Kasusnya Dibawa ke Meja PBB

Kala itu saya mengakui tidak punya akses. Namun, koordinasi penting untuk menjalin komunikasi dengan Pemda Jayawijaya. Beliau menyetujui dan siap menghubungi Pemda Sumbar. Selang beberapa menit telepon saya kembali berdering. Mamak Zulhendri meminta nomor telepon Bupati Jayawijaya.

Tidak sampai 1 jam Mamak Zulhendri Sikumbang menghubungi saya kembali. Katanya jenazah akan dipulangkan ke Sumbar dibiayai Pemda Jayawijaya. Hanya peti jenazah yang dibebani pada korban.

Peti jenazah bukan perkara mudah. Harga satu peti mencapai Rp 8 juta. Ketua DPW IKM Papua itu pun langsung berkoordinasi dengan Pemprov Sumbar. Peti jenazah akan ditanggung Pemprov Sumbar. Saya terharu sambil melafalkan kalimat alhamdulillah.

Saya bersama masyarakat lainnya langsung menjemput peti jenazah dan membawa ke rumah sakit. Pada hari itu jenazah berangkat menuju Kabupaten Jayapura. Berhubung waktu sudah sore jenazah bermalam di sana dan diterbangkan ke Padang esok hari, 26 September. Sekitar Pukul 21.00 WIB jenazah sampai di BIM. Jenazah diterima langsung oleh Wagub Nasrul Abit untuk kemudian diserahkan pada pihak keluarga.

Momen mengejutkan terjadi. Pagi di 27 September Wagub berangkat ke Jayapura. Beliau sampai esok hari. Sesampai di Jayapura beliau menyambangi warga Minang di tempat pengungsian di Sentani. Sebab, sebagian pengungsi waktu itu sudah diterbangkan menggunakan pesawat Hercules dari Wamena.

Wagub menjenguk Buk Putri, salah seorang korban yang lolos dari pembakaran. Keseokan harinya tanggal 29 september beliau melanjutkan perjalanan ke Wamena beserta rombongan. Di sinilah awalnya pengungsi merasakan bagaimana sosok seorang Nasrul Abit yang sebenarnya.

Pengungsi tidak lagi melihat seorang Wagub, bukan seorang pemimpin daerah. Namun, kami melihat kedatangan sosok seorang ayah untuk melihat anak-anak yang dapat musibah di perantauan. Beliau memastikan keadaan anaknya dan keluarganya dalam keadaan baik. Saya, warga Minang yang (mungkin) pertama kali menyalami sesampai di Wamena, menyaksikan sabak di matanya.

Suasana semakin haru hingga tangis membuncah. Kami menangis bersama.
Seorang ibu-ibu yang ikut bersama Wagub pun tak tahan menahan tangis. Dia tersedu. Kemudian waktu saya ketahui, perempuan berhati lembut itu bernama Hilma, Kepala Bidang Rantau di Biro Rantau Pemrov Sumbar.

Kami kemudian meninggalkan bandara bersama rombongan untuk mengelilingi Kota Wamena. Menyaksikan langsung puing-puing sisa kebakaran. Kebetulan kala itu saya satu mobil dengan Buk Hilma.

Sepanjang perjalanan beliau menangis melihat sisa kejadian. Di benak beliau terlintas jerit tangis korban saat kejadian. Perjalanan kami terhenti seiring pijakan rem sopir kendaraan di Kodim 1702 Jayawijaya. Rombongan menghampiri warga yang mengungsi di sana.

Sesampai di Kodim rombongan sudah ditunggu di halaman Kodim oleh ratusan warga asal Minang. Rombongan Wagub langsung masuk ke halaman. Masih segar diingatan saya, Wagub pertama kali mendekati seorang anak kecil yang sedang duduk di tengah keramaian. Si anak beliau peluk dan dicium. Spontan pengungsi lain terdiam.

Suasana hening pecah sesaat kemudian saat pengungsi mengerumuni beliau sambil berteriak harap, “Bapak, kami ingin pulang”. Wagub berupaya menenangkan lewat satu kalimat pasti, semua yang ingin, akan kita pulangkan.
Tanpa saya sadari air mata saya meleleh menyaksikan suasana yang penuh haru itu.

Buk Hilma kembali menangis. Lalu Wagub mengambil microphone yang sudah disiapkan oleh Dandim setempat. Baru berucap salam, kalimatnya langsung terbata.

Kata-kata sulit menyelinap di sela tangis. Lebih banyak diam. Beliau kemudian berupaya tegar di tengah kecemasan warga. Kalimat menenangkan suasana perlahan disampaikan. Wagub berjanji akan membawa kami semua pulang, Proses pemulangan akan dibicarakan dengan Gubernur Sumbar,Irwan Prayitno.

Pengungsi pun minta foto bersama. Sesaat luka warga terobati. Nampak keceriaan dari wajah warga Minang di saat itu. Bahkan beberapa warga berpelukan dengan Nasrul Abit. Pengungsi telah didatangi seorang pahlawan. Pada kunjungan itulah, pertemuan antara Pemrov Sumbar, Pemda Wamena dan IKM Jayawijaya menuai kesepakatan. Difasilitasi Dandim, permohonan membawa pengungsi kembali ke Sumbar sementara waktu diterima Pemda setempat.

Sebelum pamit kembali ke ranah Minang, pengurus IKM Jayawijaya mengajak Wagub makan di sebuah rumah makan Padang. Wagub menolak. Dirinya tak akan mampu menelan makanan melihat kondisi pengungsi. Kami hanya bisa diam.

Pesannya yang saya tak akan lupa, jangan terprovokasi isu tak jelas. Wagub benar, keyakinan harus ada. Tragedi 23 September 2019 itu bukanlah akhir segalanya. Keharmonisan bisa dirajut kembali. Esok, lusa, bulan depan atau tahun depan, semua hanya soal waktu. Saya percaya! (Penulis merupakan Sekretaris IKM Wamena/Nofri Zendra)

Penulis: Joni Abdul Kasir