Kehilangan Rumah Karena Abrasi, Jasmawati dan Keluarganya Tinggal di Musala

Jasmawati (65) korban abrasi di Kampung Muaro, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan, terpaksa tinggal di musala pasca abrasi terjadi pada September lalu di daerah itu.
Jasmawati (65) korban abrasi di Kampung Muaro, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan, terpaksa tinggal di musala pasca abrasi terjadi pada September lalu di daerah itu. (KLIKPOSITIF/ Kiki Julnasri)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Kehilangan rumah, Jasmawati (65) korban abrasi di Kampung Muaro, Nagari IV Koto Hilie, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan, terpaksa tinggal di musala pasca abrasi terjadi pada September lalu di daerah itu.

Jasmawati yang tidak lagi memiliki tempat tinggal, kini ia menumpang di MDA musala setempat. Sebab, tenda pengungsian yang disediakan Pemda tidak membuat ia dan keluarganya betah.

baca juga: Diguyur Hujan, Kampung di Pessel Ini Dilanda Banjir

BACA JUGA:  Sudah Dimekarkan Sejak Delapan Tahun Lalu, Warga Nagari Ini Harap Pengaspalan Jalan

"Karena kalau hujan (di tenda pengungsian) sering kebanjiran, dan hujan selalu masuk (ke tenda). Jadi kami (sekarang) di MDA musala yang lebih aman," ungkap saat ditemui KLIKPOSITIF , Kamis 24 Oktober 2019.

baca juga: Bawaslu Sumbar Tegaskan Bawaslu Kabupaten dan Kota Harus Proses Seluruh Laporan Pelanggaran

Ia menjelaskan, pasca abrasi terjadi, ia dan keluarga sudah hampir satu bulan tinggal di musala tersebut, dan barang-barangnya juga ditempati di musala.

BACA JUGA:  Abrasi Pantai Kembali Terjadi di Batangkapas Pessel , Ini Harapan Warga

baca juga: Bawaslu Telusuri Informasi Oknum Wali Nagari dan Camat yang Diduga Terlibat Dukung Paslon di Pessel

Selain keluarganya, keluarga lainnya juga menumpang di musala tersebut. Sebab, tidak mau menambah beban keluarga akibat duka yang dialami.

"Keluarga juga susah, jadi kami pilih aja tinggal sampai ada tempat tinggal baru. Dan pengurus-pun mengizini," jelasnya.

baca juga: Ruas Jalan Nasional di Bukit Pulai Dilanda Longsor, Akses Painan-Bengkulu Terganggu

Sementara itu, untuk persedian sembako sendiri, ia dan korban lainnya masih memiliki persedian yang cukup dari pemerintah setempat. Hanya saja, tidak bisa berusaha karena terganggu dampak abrasi .

BACA JUGA:  Kembangkan Pesantren di Pesisir Selatan, Begini Perjuangan Heru Kisnanto

"Saat ini usaha kami terganggu. Biasanya kami bisa berusaha. Sekarang tidak," terangnya.

Lanjutnya, terkait kondisi yang dialaminya dan keluarga saat ini, ia berharap pemerintah secepat memberikan solusi. Sebab, sudah hampir sebulan mereka masih terkatung mau tinggal di mana.

"Harapan kami kalau memang ada bantuan rumah, cepat dibangun, agar anak-anak sehat. Kalau bisa, relokasi kami tidak jauh-jauh dari sini. Karena selain masjid jadi sepi, tempat usaha kami jadi jauh. Tapi kalau seadainya tidak bisa, apa boleh buat. Kami terpaksa ikut saja," tutupnya.

BACA JUGA:  Amorphophallus Titanum Becc Ditemukan di Limau Gadang Lumpo Pessel

Diketahui, jumlah korban yang terdampak abrasi di kampung ini ada sekitar 38 KK, dan sebelumnya sudah disediakan logistik sandang dan pangan serta tenda untuk pengunsian semantara.

Pasca abrasi 27 September lalu, Kamis 24 Oktober 2019 abrasi kembali melanda kampung tersebut, tidak hanya sekedar mengikis tebing pantai dan menumbang pepohanan, abrasi juga terus meluas ke permukiman warga. (Kiki Julnasri)

Penulis: Eko Fajri