Mengenal Getaran Gempa yang Berpotensi Tsunami

Dampak tsunami Mentawai pada 2010
Dampak tsunami Mentawai pada 2010 (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pakar gempa dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumbar, Ade Edward menilai sosialisasi mitigasi bencana selama ini ada yang keliru dan perlu diluruskan kembali agar tidak menyesatkan.

Selama ini banyak yang menyebut ciri-ciri tsunami itu diawali dengan gempa yang kuat. Menurut Ade Edward, pandangan ini keliru, karena tidak semua gempa kuat itu berpotensi tsunami dan tsunami itu bisa saja terjadi tanpa harus didahului gempa kuat.

baca juga: Gempa Turki, Belum Ada Laporan WNI Jadi Korban

Baca juga : Gempa : Jangan Sampai Sumbar Terkecoh" href="http://news. KLIKPOSITIF .com/baca/59352/pakar-gempa--jangan-sampai-sumbar-terkecoh">Pakar Gempa : Jangan Sampai Sumbar Terkecoh

Ade Edward menjelaskan, pada prinsipnya ada dua tipe getaran gempa , yakni gempa getaran cepat (rapid earthquake) yang ciri gempanya darasakan bergetar dengan frekwensi tinggi/cepat dan biasanya menimbulkan bunyi hingga menderu. Menurutnya, bila gempa cepat ini dirasakan berlangsung lama lebih dari 30 detik maka berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan, retakan tanah dan longsor, tetapi biasanya tidak diikuti tsunami .

baca juga: Tsunami Akibat Gempa Turki Tak Berdampak di Indonesia

Kemudian tipe yang kedua menurut Ade Edward adalah gempa mengayun lambat (slow earthquake), yang merupakan tipe gempa dengan getaran lambat yg dirasakan mengayun. Biasanya gempa ini tidak menimbulakan suara yg berarti dan dampaknya tidak merusak fisik bangunan. Menurut Ade Edawrd, bila gempa tipe ini berlangsung lebih dari 30 detik, maka besar kemungkinan akan erpotensi tsunami .

"Bila ini yg terjadi, masyarakat tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami . Masyarakat langsung putuskan untuk segera ambil tindakan, evakuasi ke tempat tinggi terdekat," ulasnya.

baca juga: Turki Diguncang Gempa, Tsunami Kecil Sempat Muncul

Ia melanjutkan, untuk dapat mengenali karakter rasa gempa kedua tipe tersebut, masyarakat hanya perlu waktu kurang dari satu menit untuk dapat mengambil keputusan secara mandiri, sehingga bisa lebih cepat dan tepat dalam mengambil keputusan untuk menyelamatkan diri.

"Selama ini ada kekeliruan yang beredar di publik bahwa gempa kuat akan menimbulkan tsumami di pesisir pantai. Istilah gempa kuat ini rancu dan membingungkan. Yang jadi ukuran dalam mengenali gempa yang dirasakan seharusnya adalah lamanya gempa dirasakan, bukan kuat atau tidaknya gempa , karena gempa yang membangkit tsunami justru tipe gempa lambat yang dirasakan mengayun lambat, tidak terasa kuat," papar Ade Edward.

baca juga: Gempa 7,0 SR Landa Laut Aegea dekat Yunani dan Turki, Begini Kondisinya

Ade Edward mencontohkan, getaran mengayun ini pernah terjadi saat gempa dan tsunami di Pangandaran pada tahun 2006 lalu, serta gempa dan tsunami di Mentawai pada tahun 2010 yang lalu. (*)

Penulis: Iwan R