Tim Advokasi Novel: Laporan Politikus PDIP Ngawur

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan usai diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/6)
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan usai diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/6) (Suara.com)

KLIKPOSITIF -- Tim advokasi Novel Baswedan menilai, laporan politikus PDIP Dewi Ambarwati alias Dewi Tanjung ke Polda Metro Jaya yang menyebut penyerangan terhadap Novel rekayasa adalah laporan tidak jelas atau ngawur.

"Ini tindakan yang sudah mengarah pada fitnah, dan merupakan tindakan di luar nalar serta rasa kemanusiaan. Karena penyerangan yang mengakibatkan Novel mengalami kebutaan jelas dan telah terbukti sebagai fakta hukum ," tegas Alghiffari Aqsa, anggota tim advokasi Novel, Kamis (7/11/2019).

baca juga: Prabowo Bakal Dilantik Kembali Jadi Ketum Gerindra

BACA JUGA:  PDIP Temukan Anggaran Tidak Wajar di Dinas Pendidikan Jakarta, Pasir Rp 52 Miliar

Ia menuturkan, penyerangan air keras terhadap Novel sudah dibuktikan secara medis maupun penyidikan aparat kepolisian.

baca juga: Viral Curhatan Tagihan Listrik Naik Jadi Belasan Juta, Biasanya Rp400 Ribu

Tidak hanya itu, lanjut dia, kasus itu juga diselidiki oleh Komnas HAM dan direspons oleh Presiden Joko Widodo dengan perintah menuntaskan pengungkapan kasus Novel, meski sampai sekitar 2,5 tahun belum berhasil diungkap.

BACA JUGA:  Novel Baswedan Dituduh Sebat Hoax, Ini Respon KPK

baca juga: Polres Bukitinggi Musnahkan 11 Kilogram Ganja Kering

"Secara tidak langsung, pelapor sebenarnya telah menuduh bahwa Kepolisian, Komnas HAM termasuk Presiden tidak bekerja berdasarkan fakta hukum benar. Oleh karena itu, semestinya kepolisian tidak memproses laporan ini lebih lanjut," ucap Alghiffari

Ia juga menyatakan laporan tersebut adalah bentuk kriminalisasi dan serangan terhadap Novel seperti halnya serangan yang selama ini diterima Novel di media sosial menggunakan pendengung atau buzzer, pernyataan-pernyataan politikus, tokoh ormas, dan orang-orang yang tidak suka dengan KPK.

baca juga: Anggota DPR: Secara Teknikal Indonesia Sudah Resesi

BACA JUGA:  Konsumsi Susu Ternyata Berpengaruh Pada Jerawat

"Kali ini serangan termasuk dilakukan dengan pelaporan pidana yang tidak berdasar," kata dia.

Patut diduga, kata dia, laporan tersebut bermaksud menggiring opini publik untuk mengaburkan dan mengecilkan dukungan kepada upaya penuntasan kasus penyiraman air keras Novel, penolakan terhadap pelemahan KPK, dan gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia secara keseluruhan.

"Laporan ini dilakukan bersamaan waktunya dengan desakan publik tentang penerbitan Perppu KPK dan desakan agar kasus penyiraman mata Novel, penyidik KPK, segera dituntaskan sehingga menimbulkan pertanyaan mengapa laporan ini dilakukan saat ini mengingat kasus ini sudah berjalan hampir tiga tahun," tuturnya

BACA JUGA:  Kritik TdS Tidak Meriah, Indra Catri: EO-nya Harus Cerdas

Atas hal tersebut, kata dia, tim advokasi Novel pun menyampaikan empat sikap.

"Pertama, meminta kepolisian untuk tidak melanjutkan proses hukum terhadap laporan yang diajukan oleh politikus PDIP (Dewi Tanjung)," ujar Alghiffari.

Kedua, tim advokasi akan mengambil langkah hukum , baik perdata maupun pidana terkait dengan fitnah yang ditujukan kepada Novel.

BACA JUGA:  Tokoh Minang Roehana Koeddoes Akan Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

"Ketiga, mendesak kepada Presiden Joko Widodo untuk segera menuntaskan pengungkapan kasus Novel dengan membentuk tim independen yang bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden," tuturnya.

Terakhir, meminta dukungan masyarakat untuk terus mengawal penuntasan kasus Novel maupun kasus teror dan serangan terhadap penyidik atau pimpinan KPK yang merupakan bagian dari upaya pelemahan KPK dan semangat pemberantasan korupsi. (*)

Sumber: Suara.com

Penulis: Eko Fajri