Begini Cara Petani Kerinci Meningkatkan Harga Jual Kopi

Kopi Kerinci
Kopi Kerinci (KLIKPOSITIF/Halbert Caniago)

KERINCI , KLIKPOSITIF  -- Hubungan Kopi dan Kerinci terhitung sangat dekat. Tercatat, 730 ribu hektare tanah di kaki gunung dengan ketinggian 3805 Mdpl itu dipenuhi kebun kopi .

Sebagian besar kebun kopi tersebut merupakan Kopi Arabika yang ditanam petani di kaki Gunung tertinggi di Pulau Sumatera itu.

baca juga: Mau Ngopi dengan Tampilan Berbeda? Yuk ke Kedai Kopi Oppa Mahmud

Hongly Farnando, seorang yang berperan untuk meningkatkan perekonomian petani kopi di daerah tersebut mengatakan bahwa ia mencoba meningkatkan kualitas kopi yang ada di kampung halamannya itu.

"Awalnya saya miris dengan harga jual kopi yang dibeli oleh pabrik kepada petani, lalu saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman bagaimana caranya meningkatkan perekonomian petani kopi ," ujarnya kepada KLIKPOSITIF .com, Jumat 8 November 2019.

baca juga: Ngopi Santai Racikan Alumni Hard Rock Caffe, Plus Sunset Danau Maninjau

Ia mengatakan, dirinya mulai membantu petani dengan menjual biji kopi dengan harga yang lebih mahal dibanding sebelumnya.

"Sebelumnya petani menjual kopi kepada pakang dengan harga Rp2.500 per kilogram. Saya mencoba meningkatkan harga jual petani dengan membeli Rp4.200 per kilogramnya," ujarnya.

baca juga: Kolaborasi Anak Muda Payakumbuh Lahirkan Tempat Nongkrong di Era New Normal

Meskipun membeli dengan harga yang tinggi, ia tidak mau asal-asalan. Ia membeli biji kopi dengan kualitas yang lebih baik dengan harga yang lebih mahal.

"Saya mencoba mengajarkannya kepada petani agar memetik kopi dengan kualitas super," lanjutnya.

baca juga: Palai Pensi PalantAbo dari Tepian Danau Maninjau

Menurutnya, kopi dengan kualitas super tersebut adalah kopi yang dipetik saat benar-benar sudah matang. "Saya mengajarkan kepada petani agar memetik kopi yang sudah berwarna merah. Itulah yang membuat kualitasnya naik," lanjutnya.

Menurutnya, memanen kopi saat benar-benar sudah matang itu memiliki banyak keuntungan untuk petani.

"Kalau dipanen saat kopi masih berwarna hijau, untuk proses pembuahan selanjutnya akan lebih lama. Tapi kalau sudah berwarna merah, maka prosesnya lebih cepat dan petani bisa panen lebih sering," sambungnya.

Menurutnya, di Kaki Gunung Kerinci terdapat kebun kopi untuk Robusta seluas 50 ribu hektare dan 680 ribu hektare untuk Kopi Arabika.

"Untuk Kopi Greenbeen kami bisa memproduksi sebanyak 50 ton per bulan dan untuk bubuk kami memproduksi sebanyak 250 kilogram sebulan," lanjutnya.

Ia memroses kopi tersebut hingga menjadi Kopi Kerinci yang khas dan dipaket dengan kemasan yang memiliki filosofi tersendiri.

"Filosofi kemasan kami ini di bagian atas ada biji kopi yang membentuk gunung itu Gunung Kerinci , di bagian bawah kami memasang bentuk batik yang merupakan ciri khas daerah kami dan selanjutnya background kuning ini merupakan warna khas di sini juga," lanjutnya.

Ia mengatakan untuk penjualan kopi yang sudah dipaket, ia membandrol dengan harga mulai dari Rp10 ribu hingga Rp500 ribu per kilogramnya.

"Untuk harga kopi tertinggi yang kami jual di sini sebesar Rp500 ribu per kilogramnya yaitu kopi jenis Wine Robusta," lanjutnya.

Ia berharap agar petani kopi di daerahnya bisa sejahtera dengan apa yang telah ia lakukan selama dua tahun belakangan dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda setempat.

[Halbert Caniago]

Penulis: Iwan R