Pengamat: Doktrin Kelompok Radikalis Kanan Sasar Polisi

Ilustrasi
Ilustrasi (Pixabay)

KLIKPOSITIF -- M Zaki Mubarak, pengamat gerakan Islam dari Universitas Islam Negeri Jakarta, mengungkapkan sejak tahun 2010 lebih dari 70 persen serangan teroris radikalis kanan menyasar aparat polisi ataupun kantor-kantor korps Bhayangkara.

Hal ini dikatakan Zaki dalam diskusi bertajuk "Mengapa Teror Pada Polisi Terjadi Lagi" di Kedai Sirih Merah, Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

baca juga: Sanggah Menag, Menko PMK Tegaskan Masjid Istiqlal Belum Bisa untuk Salat Id

"Sejak 2010 itu lebih dari 70 persen serangan teroris itu memahami memang menyasar aparat polisi atau kantor-kantor polisi. Lebih dari 70 persen ya. Hanya sedikit sekali tempat ibadat, gereja dan lain-lain," ujar Zaki.

Karena itu, kata Zaki, dirinya tak terkejut terhadap adanya bom bunuh diri yang menyasar target aparat kepolisian di Mapolrestabes Medan, Rabu (13/11/2019).

baca juga: Pendapatan Negara Jeblok, APBN Defisit Rp 257,8 Triliun

Sebab, sambung Zaki, doktrin kelompok teroris kekinian adalah menyasar aparat kepolisian.

"Ada doktrin yang sangat jelas, kurang lebih 10 tahun terakhir di kalangan jihadis. Mereka menyatakan bahwa sasaran utama adalah aparat berbaju cokelat," ucap dia.

baca juga: Booming Sepeda Sanki di Payakumbuh, Minions Rider Restorasi Sepeda Jadul Jadi Trendi

Zaki mencontohkan aksi teror bom bunuh diri di Masjid Adz Dzikro Kompleks Mapolresta Cirebon pada Jumat (15/4/2011) silam dengan pelaku Muhammad Syarif. Menurut dia, polisi yang menjadi target, bukan masjid.

Kemudian juga penyerangan terhadap anggota Polsek Wonokromo, Surabaya dan terbaru bom bunuh diri Mapolrestabes Medan. (*)

baca juga: Deteksi COVID-19, Pemkab Solok Lakukan Pool Test pada 30 Kluster

Sumber: Suara.com

Penulis: Eko Fajri