Potret Perjuangan Hidup Buyung Ali, Pantang Mengemis Meski Tinggal di Gubuk Reok Berlantaikan Tanah dan Berlampukan Bintang-bintang

Buyuang Ali (62) warga Kota Pariaman yang menghuni gubuk reok nan penuh tambal, lantai beralasan tanah
Buyuang Ali (62) warga Kota Pariaman yang menghuni gubuk reok nan penuh tambal, lantai beralasan tanah (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF -- Di Kota Pariaman tepatnya di kawasan Kampuang Jao Duo, ada seorang tua bernama Buyuang Ali, sudah 62 tahun usianya.

Dia menghuni gubuk reok nan penuh tambal, lantai beralasan tanah, sementara bila malam tiba, bintang-bintang terciduk dari lobang-lobang atap seng rumahnya.

baca juga: Nggak Muluk-muluk, Ini Tipe Cowok Idaman Chef Renatta

Waktu itu, Buyuang Ali nan akrab disapa Pak Ali, ditemui sedang berdiri sembari mempererat ikat pinggang dari tali plastik. Tampak perut kurusnya kembang kempis.

Dia sedikit melongo melihat kedatangan KLIKPOSITIF dan beberapa rekan wartawan lainnya. Percakapan dimulai sesudah itu, usai sapaan kenal mengenal.

baca juga: Cegah Potensi Pelanggaran, Kontestan Pilkada di Bukittinggi Deklarasi Tolak Politik Uang

"Iya, ini rumah saya, lihatlah cuma saya sendiri hidup di sini," kata Pak Ali sambil berdiri di depan rumahnya.

Rumah Pak Ali dipenuhi tambal dari poster iklan berbagai produk, tentu saja untuk menutupi dinding rumahnya yang bolong.

baca juga: DPR Sambut Baik Pembukaan Umrah Oleh Arab Saudi

Lalu Pak Ali menuntun untuk melihat bagian dalam rumahnya yang berukuran 2 kali 4 meter persegi.

"Kemarin hujan, atap bocor, ya basah tikar saya. Di sini saya tidur," ungkap Pak Ali sembari menunjuk tikar.

baca juga: Sandiaga Uno Diprediksi Akan Kembali Bertarung di Pemilu 2024, Siapa Pasangannya?

Ketika menapaki bagian dalam rumahnya untuk melihat lebih dekat, tak perlu membuka alas kaki segala, dia silakan saja.

"Tak usah buka sepatu, rumah tak ada lantai, cuma beralasan tanah," sebut Pak Ali.

Rumahnya yang sekecil itu terasa pengap dari dalam. Satu meter dari bagian rumahnya adalah tempat tidur, selebihnya dipenuhi kain teronggok.

"Tempat tidur ini terbuat dari susunan papan dan saya alas dengan tikar plastik. Kalau kasur mana bisa beli," jelas dia.

Saat dicermati, tempat tidur Pak Ali itu berjarak sekitar 30 centimeter dari permukaan tanah. Tanpa bantal, tanpa selimut untuk menghangatkan diri.

"Kalau tidur begini a, seperti ini," kata Pak Ali sambil memperagakan posisi tidurnya.

Saat dia berbaring, tampak kakinya terkatung lantaran tak cukup papan untuk membujur kan kaki.

"Gelap ya. Memang tak ada lampu listrik dalam rumah, cuma cahaya masuk dari celah atap seng yang berlobang," sebut Pak Ali.

Dari cahaya yang menerobos itu tampak pula debu beterbangan.

Lebih lanjut perbincangan dengan Pak Ali semakin tingkah bertingkah. Ia sebutkan aktifitas nya sehari-hari.

"Ya, sehari-hari saya di Pasar Pariaman . Kerja apa saja yang penting halal. Saya lebih sering jual ikat pinggang dan dompet. Tapi tidak yang baru, saya cari ikat pinggang atau dompet rusak, saya jahit lagi, itu yang dijual," jelas Pak Ali.

Dengan begitu dia mencari uang. Kadang ada, kadang tidak.

"Lebih sering tak ada nan beli. Kalau untung iyalah ada. Ini cukuplah daripada saya ngemis atau minta-minta," sebut Pak Ali yang hidup sebatang kara itu.

Kendatipun demikian, Pak Ali katakan juga bahwa ada-ada saja rezekinya. Banyak juga orang yang memberikan dia nasi atau makanan lainnya.

"Alhamdulillah sampai sekarang masih diberi waktu dan rezeki. Masih kuat jalan dan melakukan aktifitas sehari-hari, saya tak mau mengemis" kata Pak Ali.

Ia mengatakan, tanah tempat rumahnya berdiri merupakan punya orang tua. Dipekarangan rumahnya itu ada kolam kecil dan berisi empat ekor ikan berwarna merah. Pengakuan Pak Ali, dia buang hajat di kolam itu.

"Ya mana ada kakus, kalau mandi pakai air sumur itu," jelas Pak Ali sambil mengacungkan bibir ke arah sumur yang berada di bagian kiri rumahnya.

Saat itu, segala pertanyaan dalam menyoal kehidupan Pak Ali, dijawabnya dengan sahaja. Namun saat dilontarkan perihal anak dan istri terlihat mata Pak Ali berbinar.

"Tiga orang anak saya, namun tinggal dengan pasangan masing-masing. Kalau Istri, cerai sih tidak, dia pergi begitu, entah lah dimana sekarang," sebut dia sembari mengalihkan pembicaraan ke wacana yang lain.

Sepertinya dia enggan menyoal perihal keluarga lagi.

Tak lama berselang itu, Pak Ali menceritakan tentang tetangga sekitar rumahnya. "Kalau dari jalan tak tampaklah rumah ini. Terhalang rumah tetangga yang tinggi-tinggi," kata Pak Ali.

Posisi rumahnya berada di belakang rumah tetangga. Untuk menuju rumahnya harus melalui jalan setapak. Jika dipantau dari luar atau jalan umum tak kan tampak gubuk reok Pak Ali.

Kendatipun demikian, Pak Ali cukup dikenal oleh warga setempat. Jumlah Kepala Keluarga di Kampuang Jao Duo itu ada sekitar 400 KK.

Pak Ali dikenal warga sebagai orang yang bersahaja. Warga juga mengenal Pak Ali sebagai warga Pariaman yang miskin.

Selain sikapnya yang bersahaja, Pak Ali juga orang yang suka menata. Di setiap sisi pekarangan rumahnya, sampah dikelola semaunya dia.

"Ini rumah saya kok, tak ada yang melarang. Sampah plastik tak boleh dibuang, saya susun jadi pagar atau saya onggok satu-satu biar tampak bersih," kata dia.

Memang tampak seperti itu, berbagai bentuk sampah atau barang barang bekas ditata Pak Ali sesuai tempatnya. Bahkan seperti barang bekas, boneka kecil, poster bergambar bagus, kaset CD bekas dan lain-lainya digantung pada posisi tertentu. Tampak lebih warna warni dan memberikan suasana riang.

"Ini saya sebut cafe, meskipun tak tampak seperti cafe biasanya. Yang penting tampak bersih. Saya terhibur dan lebih banyak menghabiskan waktu dipekarangan ini ketimbang dalam rumah," sebut Pak Ali.

Dari segala hal itu, ada sesuatu pemandangan yang membawa kesan filosofi di pekarangan rumah Pak Ali. Di batang pohon kelapa miliknya terpajang satu jam dinding yang tak berdetak. Arah jarum jam dinding tersebut menunjuk angka 6 lebih 2 menit, sama seperti usia Pak Ali yaitu 62 tahun.

"Sudah 62 tahun saya hidup, saya terus menghitung dan mengingatnya, pun segala hal yang telah dilalui. Seumur ini, saya juga tak berhenti berharap, pemerintah bantu saya untuk dapat rumah yang layak huni," harapan Pak Ali. (Rehasa)

Penulis: Eko Fajri