KLHK akan Bangun Pusat Pemusnahan Limbah Medis di Sawahlunto

Ilustrasi/KLIKPOSITIF
Ilustrasi/KLIKPOSITIF (Istimewa )

PADANG, KLIKPOSITIF - Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) berencana membangun pusat pemusnahan limbah medis atau Bahan Berbahaya dan Beracun (limbah B3) di Kota Sawahlunto.

Rencananya tahun depan sudah di mulai pembangunan pusat pemusnahan limbah medis dengan cara dibakar tersebut.

baca juga: Limbah Medis Jadi Tantangan Hentikan Penularan Covid-19, Menkes Tegaskan Hal Ini

Keseriusan untuk membangun pusat pemusnahan limbah ditindaklanjuti dengan pertemuan perwakilan KLKH dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) diwakili Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit Dinas Lingkungan Hidup Sumbar, serta Dinas terkait provinsi, Dinas Lingkungan Hidup kabupaten dan kota serta para peneliti, kemarin (25/11) di ruang rapat kantor gubernur.

Dalam pertemuan tersebut, dijelaskan pembagian tugas masing-masing instalasi, mulai dari kajian lahan, Amdal, pembahasan lahan dan hingga dana dan pengelolaan. Untuk diketahui program ini merupakan program paling prioritas dari pusat dan harus bisa terlaksana.

baca juga: Peserta Diklat SDM KLHK Kunjungi Semen Padang

Direncanakan pembangunan akan dimulai 2020, karena lahan sudah finish di Kota Sawahlunto dari rekomendasi hasil kajian Pusat Studi Lingkungan Hidup Unand.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Siti Aisyah menyampaikan, awalnya ada lima daerah yang diusulkan, kemudian mengerucut menjadi dua yakni Sijunjung dan Sawahlunto. Akhirnya Sawahlunto yang paling cocok dari hasil kajian tim peneliti dengan luas lahan mencapai 32 hektare.

baca juga: DPR Dorong KLHK Selesaikan Target Penetapan Kawasan Hutan

"Jadi sudah ada bagi tugas dalam program ini, KLKH minta tahun depan sudah jalan. Tapi, tentu kita anggarkan dulu untuk Amdal, sementara pembebasan lahan kewenangan Kota Sawahlunto," jelasnya.

Menurutnya, Sumbar sangat butuh pusat pemusnahan limbah medis dengan cara dibakar tersebut. Sebab rumah sakit daerah yang ada di Sumbar mengeluarkan biaya besar dalam penanganan limbah tersebut.

baca juga: Bantuan Alat Pengolahan Diharapkan Bisa Bantu Atasi Persoalan Sampah di Sumbar

"M Djamil saja satu tahun itu harus mengeluarkan Rp2 miliar untuk limbah medis mereka, belum lagi RSUD Pariaman, Ahmad Muktamar Bukittinggi dan rumah sakit lainnya. Ini salah satu permintaan rumah sakit, mereka ingin segera dibangun," ulasnya.

Sementara itu Wagub Sumbar Nasrul Abit mengatakan, rumah sakit di Sumbar rata-rata menghasilkan 5,2 ton per hari limbah B3. Untuk perlu adanya pusat pemusnahan agar limbah ini tidak tercecer kemana-mana.

Menurutnya, selama ini pengolahan dibawa ke Jakarta, hal itu akan memakan ongkos besar.

"Kita sudah ada kasus, limbah B3 dibuang sembarangan. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan," katanya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir