Saat Kupikir Sang Buah Hati Siklus Menstruasi Pertama, Ternyata...

Ibu TR, Yulida Dawiga(34)
Ibu TR, Yulida Dawiga(34) (KLIKPOSITIF/Fitria Marlina)

PADANG , KLIKPOSITIF - Yulida Dawiga (34) mengira anaknya yang bernama TR (12) telah beranjak remaja. TR yang masih duduk di tingkat akhir sekolah dasar (SD) di salah satu sekolah di daerah Bungus Teluk Kabung Kota Padang mengalami hal yang sama layaknya seorang yang mengalami siklus menstruasi pertama. Ibunya mengira itu adalah hal yang wajar karena anaknya sudah bersia 12 tahun, dan pemikirannya anaknya mengalami masa peralihan ke remaja yang cepat.

"Namun pada Bulan Juni 2019, setelah sang anak kembali tinggal bersamanya di daerah Bypass (sebelumnya TR tinggal bersama sang nenek di daerah Bungus Teluk Kabung), pendarahan hebat terus terjadi kepada TR hingga Bulan September atau selama tiga bulan, maka kecurigaan timbul mengapa Menstruasinya terjadi begitu lama. Maka sang Tante yang juga tinggal satu rumah dengannya membawa dia untuk berobat ke seorang bidan yang ada di wilayah Bypass Padang ," kata sang Ibu Kamis malam, 28 November 2019 di rumah kontrakannya di Banda Luruih Kelurahan Sungai Sapiah Kec. Kuranji, Kota Padang .

baca juga: Banyak Merawat Pasien Covid-19, Begini Kondisi di SPH

Berobat ke bidan dilakukan sebanyak tiga kali. Berobat pertama Tiara diduga menderita penyakit luka pada bagian anus. Kemudian di kasih obat sama sang Bidan. "Pada waktu pengoobatan pertama, sang bidan sudah mulai curiga dengan penyakit yang dialami oleh TR. Ia menduga TR menjadi korban asusila, namun ia enggan mengatakan. Pada saat kembali berobat untuk ketiga kalinya, sang bidan mulai membicararakan dengan sang Tante bahwa keponakannya merupakan korban asusila sehingga ia meminta kepada sang Tante agar menanyai TR perihal kejadian itu dan siapa pelakunya," jelasnya.

Bidan menduga hal itu karena menemukan ciri-ciri yang diduga sebagai korban asusila. "Pada 9 Juni 2019 TR mengaku kepada Tantenya setelah diancam akan diusir dari rumah oleh pamannya dan mengalami sakit yang snagat hebat pada bagian anusnya. Di hari yang sama pihak keluarga langsung melapor ke Polresta Padang perihal kejadian ini. Dan pada tanggal 11 Juni TR langsung di visum dan hasilnya menyatakan bahwa tindakan tak terpuji ini telah dilakukan berulang-ulang oleh pelaku. Kejadian itu diakui TR terjadi sejak pertengahan 2018. Tindakan tak terpuji itu dilakukan oleh pelaku bernama Amirudin (66) berulang-ulang dengan memberi TR uang sebesar Rp20 ribu, Rp30 ribu dan Rp50 ribu setelah melakukan tindakan asusila itu," jelasnya.

baca juga: DLH Rencanakan Tambah Kubus Apung Tahun Depan

"Pembayaran itu dilakukan karena TR juga sebagai pedagang keliling gorengan yang dibuat oleh sang Nenek. Jadi dengan modus membeli gorengan, maka perbuatan itu dilakukan. Dalam tindakannya ia juga mengancam TR agar merahasiakan tindakan ini dari siapapun. Dalam melakukan perbuatan tak baik itu, ia melakukan di sebuah bangunan yang tak selesai dibangun," jelas Ibunya.

Dari tindakan itu, bagian belakang kewanitaan TR tak berfungsi dengan baik. Maka pada Juli 2019 dilakukan operasi pertama di Rumah Sakit Umum Pusat M Djamil Padanguntuk membuat tempat buang air besar di pinggang. "Antara buang air besar dan darah telah bercampur sehingga ia harus menggunakan pempers setiap harinya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

baca juga: BST Tahap Enam Dikucurkan untuk 21.808 Penerima di Padang

Dan pada operasi kedua, TR dinyatakan menderita kanker lekctrum. "Saat ini ada pembengkakan kecil di kaki TR sehingga ia tak bisa lagi berjalan. "Segala kegiatannya dilakukan oleh saya sebagai Ibu. Selain itu, dia juga sudah mulai jarang bicara dan hanya bermain Smartphone untuk menghilangkan kebosanannya," tutur sang Ibu.

Setelah operasi kedua, keadaan TR sempat drop dan mengalami kejang-kejang dan koma selama satu hari. "Namun Alhamdulillah kondisinya kembali normal. Untuk saat ini dokter memberikan obat pereda rasa sakit," jelasnya.

baca juga: Wali Kota Janjikan Rasa Aman Berinvestasi di Kota Padang

Diakui sang Ibu, anaknya sering mengigau dan mengeluarkan kata-kata seperti takut akan seseorang. "Dan itu membuat hati kami pilu mendengarnya. Terkadang ia juga sering mneyatakan inginnya untuk kembali sekolah dan bermain dengan anak-anak seusianya," jelasnya dengan air mata berlinang.

Ia menuturkan sebelum pihak keluarga mengetahui kejadian ini, Kakak TR menuturkan bahwa adiknya mengalami perubahan perilaku dan nafsu makan. "Makannya mulai berkurang. Kemudian dia lebih suka makan kerupuk. Biasanya rajin puasa dan Salat Tarawih, namun setelah beberapa bulan belakangan hal itu tidak dilakukan lagi," kata Ibunya menambahkan keterangan yang didapat dari sang Kakak.

Sang Ibu mengakui anaknya bukanlah orang yang banyak tingkah dan banyak bicara. "TR pendiam dan patuh dengan apa yang diperintahkan. Tak pantang dengan makanan apapun yang dimasak. Dia juga termasuk orang yang cuek. Sama seperti sifat bapaknya," katanya.

Pelaku bernama Amirudin (66) yang merupakan tetangga korban di daerah Bungus, saat ini masih buron setelah dilaporkan sejak 6 Juni 2019. Amirudin dalam kesehariannya berprofesi sebagai penarik jala di daerahnya. "Ia sudah menghilang bersama keluarganya setelah tahu dilaporkan kepada pihak berwajib. Kami sekeluarga berharap pihak berwajib segera menangkap pelaku dan dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku," pinta sang Ibu.

Dengan kondisi anaknya yang sekarang, pihak keluarga bersama komunitas padang berhijrah akan membawa TR untuk pengobatan lebih lanjut ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sore ini (Jumat, 29/11). TR akan berangkat sore ini yang juga dibantu oleh politisi Sumbar Andre Rosiade.

"Harapan kami hanya satu. Anak kami sembuh dan bisa kembali meraih cita-citanya yang tertunda. Karena dari kata-kata dan inginnya, dia hanya ingin kembali sekolah dan bermain dengan mereka," harapnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit yang menjenguk korban semalam mengutuk perbuatan keji ini. Ia meminta agar kasus ini segera dituntaskan. "Ini terlalu lama untuk ditindaklanjuti. Korban sudah melapor sejak Bulan Juni, hingga sekarang pelaku masih berkeliaran. Saya berharap pelaku bisa ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," jelasnya.

Dalam kunjungan itu, Wakil Gubernur Nasrul Abit juga menyerahkan bantuan dari Baznas sebesar Rp10 juta. Ia juga berpesan agar orang tua menjaga anaknya dengan baik dan tidak membiarkan anak bergaul dengan orang sembarangan. "Tolong dijaga anak kita dengan baik, dan pastikan dia tidak bergaul dengan orang yang tidak kita kenal," jelasnya. (*)

Penulis: Fitria Marlina