Ini Penyebab Banjir dan Tumpahan Sampah di Kompleks PSG

Sejumlah anak-anak di Kompleks Permata Surau Gadang tengah bermain si genangan air yang meluap di badan jalan kompleks
Sejumlah anak-anak di Kompleks Permata Surau Gadang tengah bermain si genangan air yang meluap di badan jalan kompleks (Ist)

PADANG, KLIKPOSITIFKompleks Perumahan Permata Surau Gadang (PSG), Kecamatan Nanggalo, Kota Padang , kembali kebanjiran dalam sepekan terakhir. Bahkan, luapan air yang merendam badan jalan dan nyaris memasuki rumah warga, juga membawa sampah kiriman dari hulu.

Akibat kejadian itu, warga yang hendak keluar kompleks, termasuk anak-anak yang ingin ke sekolah terganggu. Tidak hanya itu, bahkan dampak banjir juga menyebabkan badan jalan utama di kompleks tersebut, termasuk jalan blok kompleks yang belum lama ini dibetonisasi juga terus tergerus.

baca juga: Ini Persyaratan Jika Ingin Pindahkan Jenazah COVID-19

Menurut Ketua RT 07 Kompleks Permata Surau Gadang , Husni Jamal, kondisi ini bukan sepekan ini dirasakan warga. Bahkan dalam dua tahun terakhir ini, aliran debit air makin meningkat dan deras. Air yang memicu banjir itu berasal dari Irigasi Sawahlua yang tidak tertampung oleh drainase kompleks yang kecil.

"Sementara saluran pembuangan tidak terhubung dengan saluran yang menuju Batang Kuranji. Pemko harus mengatasi konsisi ini. Jika tidak, maka sebagian jalan yang telah beraspal itu semakin hancur. Begitu pula gang-gang kompleks yang belum lama ini selesai dibetonisasi pemko," kata Husni Jamal, Sabtu, 30 November 2019.

baca juga: Bantuan Alat Pengolahan Diharapkan Bisa Bantu Atasi Persoalan Sampah di Sumbar

Luapan air dari saluran Irigasi Sawahlua, lanjutnya, tidak hanya membuat aspal dan beton jalan semakin tergerus, tapi luapan air tersebut juga membawa sampah kiriman dalam jumlah besar. Sampah tersebut, kata Husni, sering tersangkut di sepanjang drainase kompleks, dan itu yang menyebabkan aliran air tersumbat.

“Warga di sini tidak ada yang membuang sampah ke drainase. Sampah tersebut dibawa aliran air dari hulu dan membuat risiko banjir semakin tinggi. Warga kompleks bukan tidak berupaya mengatasi masalah tersebut. Hampir setiap minggu warga goro membersihkan, tapi karena volume air dan sampah terlalu besar, upaya tersebut tidak efektif,” jelas Husni.

baca juga: 7 Nagari di Batangkapas Pessel Terdampak Banjir, Rumah dan Jembatan Rusak Parah

Oleh karena itu, dia meminta Pemko Padang melakukan upaya percepatan perbaikan dalam pengelolaan saluran irigasi dan memperbesar drainase serta pengendalian sampah kiriman dari hulu.

“Perlu penanganan di hulu dan hilir. Jika itu dilakukan, kami yakin persoalan banjir disertai sampah kiriman tersebut bisa diatasi. Apalagi kita tahu Padang merupakan kota yang meraih Adipura. Tentu ini jadi skala prioritas,” katanya didampingi Sekretaris RT Zulfahmi.

baca juga: Hujan Deras di Kota Padang, Jundul Rawang Banjir Lagi

Persoalan ini, katanya melanjutkan sudah disampaikannya ke pihak kecamatan dan dinas terkait di Pemko Padang . "Sejauh ini, Pak Camat dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pemko Padang sudah merespons dan katanya telah menurunkan tim ke kompleks untuk perencanaan penanganannya," jelas Husni.

"Sebelumnya, juga ada datang mobil Dinas Lingkungan Hidup untuk mengangkut sampah tersebut. Secara resmi, kami juga sudah bikin surat yang ditujukan ke pak wali kota agar bisa ditindaklanjuti sehingga derita warga tidak berlarut-larut. Semoga bisa direalisasikan tahun 2020," imbuh Husni.

Salah seorang warga Hendra Efison menambahkan, saat di kompleksnya tidak hujan, banjir juga melanda dan sampah kiriman berserakan sampai di depan rumah karena ketika itu hujan di hulu. "Anak-anak di sini juga rawan terserang penyakit karena saat itu mereka bermain di tengah banjir yang bercampur sampah ," ujar wartawan senior Padang Ekspres Group ini.

Selain warga, petani yang memiliki lahan persawahan dekat kompleks tersebut juga mengeluhkan banyaknya sampah plastik hingga bangkai binatang yang memenuhi areal sawah saat hujan turun.

Seperti diungkapkan Mak Uniang, salah seorang petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarumpun Boneh yang berada di Kelurahan Surau Gadang , Kecamatan Nanggalo.

"Kini sudah memasuki musim penghujan. Setiap kali hujan, sampah kiriman terus menggunung di pintu aia (pintu irigasi-red). Jika hujan lebat turun lagi dan pintu air akan dibuka, akan membuat sampah -sampah itu ikut hanyut memenuhi sawah hingga saluran di pemukiman," ungkap Mak Uniang.

Gapoktan Sarumpun Boneh ini memiliki hamparan sawah seluas 73 hektare lebih dengan anggota 104 orang. Areal persawahan ini membentang mulai dari Kalumbuk (kecamatan Kuranji), Gurun Laweh dan Surau Gadang (kecamatan Nanggalo) hingga Bawah Asam Sungai Sapiah (kecamatan Kuranji).

"Plastik saja isi tali banda. Kadang, ada juga ditemukan bangkai binatang," ungkap Burman, pensiunan TNI putra setempat, yang kini jadi petani di Surau Gadang .

Tumpukan sampah ini ditemukannya saat membersihkan tali banda menuju tiga petak sawahnya yang bersebelahan dengan Kompleks Permata Surau Gadang . "Saya berharap persoalan ini segera diatasi pemko sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas warga dan petani di Surau Gadang ," pungkasnya.(*)

Penulis: Riki Suardi