Pasca Banjir Limapuluh Kota, Petani Akui Gagal Panen

(KLIKPOSITIF/ Halbert)

LIMAPULUH KOTA , KLIKPOSITIF -- Banjir yang menggenangi Nagari Taram sejak Senin 9 Desember 2019 hingga Kamis 12 Desember 2019 sudah menyusut. Yang tersisa hanya lumpur dan bekas genangan yang membekas di jalan dan rumah warga.

Tapi, bagi masyarakat di sana banjir tidak hanya menyisakan puing-puing itu, tetapi juga menyisakan duka kedepannya.

baca juga: Produknya Diboikot, Pemimpin-pemimpin Eropa Beri Dukungan Presiden Prancis

Sawah yang mereka rawat sejak tiga bulan terakhir tidak lagi bisa dipanen setelah amukan batang Sinamar yang menggenangi tempat tinggal mereka.

Padi di sawah seluas 55 hektar itu digenangi air saat luapan sungai menggenangi Jorong Subarang Taram itu.

baca juga: UMP 2021 Tak Naik, Menkeu Sebut Itu untuk Bantu Perusahaan

Mulyanis (46) perlahan mengeluarkan rumpun padi yang terendam banjir dan sudah tidak bisa dipanen lagi di sawah yang ia garap.

"Kalau sawah yang saya olah itu seluas empat hektar. Kalau dengan keadaan seperti ini kemungkinan yang selamat hanya separoh saja," ujarnya kepada KLIKPOSITIF .com.

baca juga: Kilang Tutup Akibat Badai, Harga Minyak Dunia Bergerak Naik

Hasil panen yang ia harapkan bisa untuk menyambung hidup, tidak lagi bisa diharapkan. Gabah yang diharapkan bisa untuk dijual, gugur ditelan banjir yang berhari-hari menggenangi sawahnya.

"Saya berharap agar pemerintah bisa membantu kami dalam hal bibit atau keperluan pertanian lainnya," ujarnya.

baca juga: Masuki Libur Panjang, Harga Emas Batangan Stagnan

Tidak hanya Mulyanis, Haji Tando (64) juga mengalami hal yang sama. Padinya yang baru akan berbuah, ditelan banjir yang menggenangi hingga ujung-ujung daun.

"Sawah saya seluas tiga hektar. Tidak ada yang bisa dipanen kalau keadaannya seperti ini," ujarnya sambil terus menatapi tanaman padinya.

Padi sebanyak tiga ton yang ia harapkan bisa dipanen alhir tahun ini tak lagi akan maksimal hasilnya. Ia hanya bisa menatap setiap rumpun padi yang ia tanam sejak beberapa bulan lalu.

"Kalau seperti keadaan padi saya saat ini, tidak ada sepertinya yang selamat. Kalaupun bisa selamat, palingan hasilnya hanya 20 persen dibanding biasanya," lanjutnya.

Dalam penuturannya, Tando tidak berharap banyak kepada pemerintah. Ia hanya bisa untuk berusaha lagi agar kedepannya sawah yang ia tanami tidak lagi tergenang banjir . [Halbert Caniago]

Penulis: Eko Fajri