Pembunuhan Mertua oleh Menantu di Tanah Datar, Ini Kronologinya

Kapolres melihatkan barang bukti dan terduga pelaku pembunuhan di Padang Ganting
Kapolres melihatkan barang bukti dan terduga pelaku pembunuhan di Padang Ganting (irfan taufik)

TANAH DATAR, KLIKPOSITIF - Kasus pembunuhan yang cukup menghebohkan warga Tanah Datar di Jorong Koto Alam, Nagari Padang Ganting, Kecamatan Padang Ganting, Minggu 19 Januari 2020 sekira pukul 09.00 WIB, tenyata antara mertua dengan menantu.

Kapolres Tanah Datar AKBP Rohkmat Hari Purnomo di Pagaruyung, Senin 20 Januari 2020 menyebutkan korban bernama Pendi (30 tahun) dengan terduga pelaku AL (25 tahun), dimana hubungan keduanya adalah mertua dengan menantu yang sama-sama dari Kepulauan Nias.

baca juga: Agenda Padat Irfendi Arbi Selama PSBB, Pastikan Penerapan di Lapangan dan Sosialisasikan Wajib Masker

Kapolres menjelaskan kronologis kejadian berawal dari pelaku setelah menikah dengan anak korban dan mempunyai anak perempuan usia 1 tahun. Sekitar 2 tahun menikah tanpa sepengetahuan orangtua dari pihak perempuan, mereka tinggal di tempat kerja daerah Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau.

"Dua minggu yang lalu pelaku mengantarkan istrinya untuk bertemu dengan orangtuanya di Padang Ganting, kemudian kembali ke tempat kerjanya di Riau," tutur Rohkmad.

baca juga: Puskesmas Berperan Mengedukasi Masyarakat Untuk Memutus Rantai Corona

Sementara di sisi lain ternyata ada permasalahan antara korban dan pelaku dimana korban yang sudah menikahi anaknya sesuai dengan adat yang ada di Nias harus membayar uang mahar (Jujuran) sebesar Rp15 juta. Namun korban sampai saat ini belum sanggup menebusnya.

Pada Sabtu 18 Januari 2020, pelaku kembali ke Padang Ganting untuk melihat istri dan anaknya dan berniat ingin membawa kembali tempat tinggalnya di Pangkalan Kerinci, Riau.

baca juga: Tanah Datar Bersatu Melawan COVID-19, Ini Upaya Penanganan yang Dilakukan

Dalam perjalanan, pelaku menghubungi korban melalui gawai menanyakan kondisi istri dan anaknya, dan dijawab korban agar tidak usah menemui istri dan anaknya lagi dengan alasan mereka sudah dibawa oleh kakaknya ke Jakarta.

Sampai di rumah korban, pada Minggu 20 Januari 2020 di waktu Subuh, dari kejauhan pelaku melihat istri dan anaknya. Merasa sakit hati dengan tipuan mertuanya, dan kebetulan melihat korban keluar dari rumahnya untuk memperbaiki saluran air dengan membawa tombak dan parang yang biasa dipakai sehari-hari untuk berkebun.

baca juga: Warnet Dilarang Beroperasi di Tanah Datar Sampai Berakhir Wabah COVID-19

Sampai di TKP, keduanya terlibat cekcok, dan akhirnya pelaku melukai korban dengan senjata tajam sampai akhirnya meninggal dunia di tempat kejadian. Kemudian pelaku sempat mengikat dan mengancam adik dan istri korban agar tidak melaporkan kejadian itu ke orang lain.

Beberapa saat kemudian datang paman korban Budi dan karena pelaku takut akhirnya dilepas ikatan adik dan istri korban. Pelaku langsung membawa istri dan anaknya berjalan kaki selama sekitar 10 jam meninggalkan pondok menuju Sulit Aia Solok.

Polisi mengetahui setelah istri korban melaporkan kejadian itu. Seluruh jajaran Polres menyebar dan mengetahui informasi bahwa pelaku memesan travel perjalanan dari Solok menuju Pangkalan Kerinci, Riau.

Polisi akhirnya menemukan pelaku di jalan tepi Danau Singkarak dalam sebuah razia kendaraan, Senin 20 Januari 2020 sekira pukul 00.50 Wib. Kemudian pelaku bersama istri dan anaknya diamankan untuk proses penyelidikan.

Selain pelaku, Polisi juga telah mengamankan barang bukti berupa satu baju korban, satu buah tombak dengan tangkai kayu, satu bilah parang, sepotong kayu, 3 buah gawai, dan uang tunai Rp70 ribu. Pelaku diancam melanggar Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. (*)

Penulis: Irfan Taufik | Editor: Joni Abdul Kasir