Perayaan Imlek Sepi di Bukittinggi

Kawasan Kampung Cina Yang Sepi
Kawasan Kampung Cina Yang Sepi (KLIKPOSITIF/HATTA RIZAL)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF -Perayaan Imlek di Bukittinggi yang jatuh pada 25 Januari 2020 sepertinya bakal sepi, kendati kota kelahiran Bung Hatta itu punya kawasan pecinan yakni Kampung Cina.

Secara administratif, Kawasan Pecinan berada di Kelurahan Benteng Pasa Ateh , Kecamatan Guguk Panjang. Tak terlihat ada lampion atau atribut imlek kendati di sini ada sebuah bangunan mirip vihara milik etnis Tionghoa.

baca juga: Polsek Bukittinggi Ringkus Dua Pelaku Pungli di Terminal Aur Kuning, Ini Modusnya

Lurah Benteng Pasa Ateh Hendra Antoni Hatta menyebut, minimnya jumlah etnis Tinghoa, sehingga tak ada perayaan Imlek .

"Jumlahnya sekitar 100 jiwa, kebanyakan yang menetap di sini mayoritas yang tua-tua saja. Hingga hari ini, saya belum mendapat informasi bakal ada perayaan atau semacamnya,'' sebutnya, Jumat 24 Januari 2020.

baca juga: Bukittinggi Tambah 1 Pasien Positif COVID-19, Total 21 Kasus

Ia menyebut, etnis Tionghoa Bukittinggi pada perayaan Imlek biasanya berkumpul di Padang, bahkan hanya merayakannya di rumah saja sehingga Kampung Cina tetap saja sepi.

"Dahulu pernah ada Barongsai di sini. Sayangnya sekarang tak ada lagi. Kita inginnya sih tetap ada, itu kan bisa menjadi atraksi wisata,'' ujar Hendra.

baca juga: Satreskrim Polres Bukittinggi Ringkus Pelaku Parkir Liar di Pasar Aur Kuning

Kelurahan Benteng Pasa Ateh merupakan daerah multietnis di Bukittinggi . Selain didominasi Minangkabau, warga keturunan Tionghoa, India dan Jawa juga bermukim di sini. Keempat etnis ini hidup berdampingan dengan damai tanpa adanya konflik sosial. Khusus Tionghoa, populasinya sekitar 7-8 persen dari total populasi Benteng Pasa Ateh sebanyak 1400 jiwa.

Tak diketahui sejak kapan Tionghoa menghuni Bukittinggi . Dalam buku Boekittinggi Tempo Doeloe karya Zulqayyim, disebutkan mereka sudah terdaftar sebagai penduduk Bukittinggi dalam sensus penduduk pertama di Sumatera Barat tahun 1852, dengan jumlah 49 jiwa dalam masa pendudukan Belanda. Dari dulu hingga sekarang, umumnya mata pencaharian mereka adalah berdagang.

baca juga: Bertambah Lagi, Total Kasus COVID-19 di Agam Menjadi 39

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Rezka Delpiera