Begini Proses Pembuatan Tembikar dari Padang Pariaman, Toni: Seperti Filosofi Hidup

Toni, pengrajin Tembikar saat didampingi Serda Erry
Toni, pengrajin Tembikar saat didampingi Serda Erry (rehasa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF - Siang itu langit tampak sedikit mendung di Korong Kabun Mudiak, Nagari Kapalo Koto, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman . Sementara dari kejauhan hujan tampak seperti tirai, menyelimuti pohon ditebing Bukit Barisan, Sabtu (25/1/20).

Saat itu, KLIKPOSITIF bersama dengan Serda Erry, Babinsa Koramil 07/Pauah Kamba menyusuri kawasan tersebut. Kabarnya pada Korong Kabun Mudiak, ada pengrajin Tembikar atau Wadah Emas yang masih berkarya. Pengrajin Tembikar itu Toni Hidayat namanya. Dia telah melakoni pekerjaan sebagai pengrajin selama sepuluh tahun.

baca juga: Usai Melemah, Minyak Dunia Kembali Menguat

Sampai di lokasi yang dituju, Toni Si-Pengrajin Tembikar tampak sedang membentangkan terpal biru dengan ukuran 2 X 4 meter persegi. Terpal tersebut untuk menjemur tanah liat dalam proses pembuatan Tembikar.

Pertemuan dengannya diawali dengan sapaan dan saling mengenalkan diri. Sembari itu, Serda Erry sigap membantu Toni membentang terpal. Tentara itu tampak cekatan ikut serta dalam membantu Toni yang merupakan warga binaannya.

baca juga: Turun Lagi, Harga Emas Dunia Kembali Melemah

Berselang waktu, Toni Hidayat membeberkan perihal proses pembuatan Tembikar. Dikatakannya langkah awal membuat Tembikar yaitu dengan pengambilan tanah liat.

"Pertama mengambil tanah liat. Saya dapat dari sekitar sini, di belakang rumah juga ada. Saya gali sendiri, sebab tanah liat yang bagus bisa didapat kalau digali, bukan lapisan atas permukaan," jelas Toni, yang sudah bekerja semenjak 2010.

baca juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Melemah di Tengah Penguatan Dolar

Diungkapkannya bahwa tanah liat yang bagus untuk pembuatan Tembikar berwarna merah atau putih kecoklatan.

"Usai tanah liat dikumpulkan lalu saya bawa dengan ember untuk disiram air. Tanah harus disiram secara merata. Setelah merata kita harus menunggu beberapa hari untuk proses "Pamadu", dimana proses itu membuat unsur lengket pada tanah liat semakin kuat," ungkapnya.

baca juga: Transaksi Hari Ini, Emas Batangan Turun Harga Cukup Drastis

Toni memperlihatkan tanah liat yang telah melalui proses Pamadu. Lalu dia mengatakan setelah tanah liat basah yang diendapkan itu siap untuk tahap selanjutnya, maka dilakukan proses penggilingan.

Diperagakannya proses penggilingan tersebut dengan cara menginjak-injak tanah liat hingga menjadi ulet dan halus.

"Penggilingan dilakukan secara manual dengan kaki. Proses ini dibutuhkan untuk membuat unsur tanah menjadi lebih rekat dan liat," kata Toni sembari membenamkan telapak kakinya pada tanah itu.

Dikatakannya juga, selain dengan cara manual penggilingan tanah bisa dilakukan dengan mesin, hanya saja menurut Toni cara manual lebih baik hasilnya.

"Ada kok orang yang pakai mesin penggiling untuk proses ini namun hasilnya tidak lebih bagus ketimbang manual begini. Makanya saya lakukan secara manual untuk mendapatkan kualitas tanah liat yang bagus," ungkap dia.

Untuk penggilingan tanah tersebut Toni hanya membutuhkan waktu 30 hingga 40 menit saja. Lalu dia masuk pada proses pembentukan pola Tembikar.

"Setalah melewati proses penggilingan, maka tanah liat siap dibentuk sesuai dengan keinginan. Nah pada tahap ini ukuran banyak tanah liat yang digunakan tergantung pada pola atau bentuk apa yang akan dibuat. Begitupun dengan waktu yang digunakan, tergantung pada bentuk pola yang dibuat," sebut Toni.

Toni tampak membawa tanah liat yang akan dibentuknya. Tanah itu diletaknya diatas Perbot (alat pemutar). Dia mempergakan cara membuat Tembikar dimana kedua tangannya membentuk tanah liat sementara kedua kakinya memutar Perbot seperti orang menjahit menggunakan mesin jahit.

Sembari memutar Perbot Toni katakan, proses pembentukan ini sangat membutuhkan konsentrasi. "Ditahap ini dibutuhkan keseimbangan atau kesamaan gerak serta konsentrasi yang tinggi. Jika tidak maka hasil pembuatan tidak akan simentris,' jelas dia.

Dia tampak mahir dalam melakukan pembuatan pola Tembikar diatas Perbot. Bersamannya tampak alat-alat lain yang dibutuhkan seperti alat pemukul, batu bulat, kain kecil persegi, serta air pada wajan.

Tak sampai 1 jam, Toni bisa menyelesaikan lima bentuk Tembikar dari tanah liat. Dikatakannya hasil itu belum bisa jemur pada sinar matahari.

"Nah hasil ini tidak langsung dijemur tapi kita biarkan saja dulu hingga sedikit mengering. Lalu tahap selanjutnya jika sudah agak mengeras seperti ini kita haluskan dengan kain yang dibasahi air. Setelah itu baru dibatik menggunakan batu api," sebut Toni sembari memperagakan proses tersebut.

Belasan Tembikar yang telah dipola dan dihaluskan oleh Toni dijemur pada terpal. Dikatakannya lamanya proses penjemuran tersebut tergantung pada terik matahari.

"Usai dijemur hingga benar-benar kering lalu kita masuk pada tahap pembakaran. Saya biasanya kumpulkan di tungku pembakaran dan membakarnya hingga benar-benar kering. Tujuan dari pembakaran ini agar Tembikar tidak mudah pecah," jelas dia.

Sementara bahan untuk pembakaran yang digunakan Toni adalah jerami, daun kelapa kering serta kayu bakar.

Setelah itu, kata Toni lagi, usai Tembikar dibakar hingga benar-benar keras dan kering baru masuk pada tahap akhir.

"Tahap akhir ini disebut tahap penyempurnaan, dimana Tembikar yang sudah melalui proses pembakaran dicat atau diglasir sesuai keinginan. Cat untuk ini khusus juga tidak bisa menggunakan cat tembok biasa. Nah usai dicat Tembikar bisa dijual," ungkap Toni.

Pada kawasan tersebut, tidak banyak pengrajin yang bisa ditemui. Toni Hidayat merupakan salah satu pengrajin yang masih memproduksi karya Tembikar. Dengan usahannya itu Toni menghidupkan keluarganya.

Toni mengaku keterampilan dia dalam membuat Tembikar didapat dari orang tuanya. Dia bangga melakoni profesi itu, baginya membuat Tembikar merupakan pekerjaan yang istimewa. Sudah 10 tahun dia membuat Tembikar, perihal itu memberikan filosofi hidup tersendiri baginya.

"Hidup seperti proses pembuatan Tembikar, untuk menjadi yang terbaik tidak bisa instan, harus melalui berbagai proses, bahkan harus dibentuk, ditempa dan dibakar," katanya.

Penulis: Rehasa | Editor: Eko Fajri