Selain Terjatuh, Ini Bahaya yang Mengintai Pendaki di Gunung Marapi

Marapi Tampak Dari Bukittinggi
Marapi Tampak Dari Bukittinggi (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI, KLIKPOSITIF -Jatuhnya Rehan (17) di Puncak Marapi hendaknya jadi pelajaran bagi setiap pendaki .

Kejadian ini bisa dicegah seandainya para pendaki tak mendekati kawah. Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi sudah memasang plang berisi larangan ke puncak.

baca juga: Tak Mau Disanksi Kerja Sosial, Seorang Pelanggar Perda AKB di Tanah Datar Pilih Bayar Denda

Petugas PGA Marapi mengatakan, radius 3 kilometer dari kawah tak boleh didekati untuk alasan apapun, sebab Marapi dapat meletus dan kondisi cuaca pun sering tak menentu.

"Cuaca dalam dua bulan terakhir memang tidak stabil, sering berubah-ubah," kata Petugas PGA Rio Andika, Senin 10 Februari 2020.

baca juga: Pengurus LPM Tanah Datar Dikukuhkan, Bupati Harapkan Hal Ini

Plang larangan ini, kata Rio, pasti terlihat karena lokasinya 1 kilometer jelang kawah dan harus menjadi pedoman bagi tiap pendaki .

Marapi berstatus waspada sejak Agustus 2011, namun aktivitas pendakian tetap berlanjut sehingga kejadian pendaki celaka sepertinya akan terus terjadi.

baca juga: Terlibat Lakalantas, Mobil Dinas Wakil Ketua DPRD Tanah Datar Diamankan Polisi

"Erupsi bertipe freatik bisa terjadi, namun radius ancamannya 3 kilometer saja. Potensi bahayanya berupa erupsi abu dan lontaran material," katanya.

Sebelumnya, Rehan Fadilla (17) terjatuh saat akan turun dari puncak, sekitar pukul 10.30 WIB, Minggu 9 Februari 2020. Ia cedera di bagian kepala dan kaki sehingga mesti di tandu tim sar. Saat ini ia sudah berada di Rumah Sakit.

baca juga: Tiga Hari Bersama Konstituen, Andre Rosiade Salurkan Bantuan dan Aneka Pelatihan

Rio mengatakan, para pendaki hendaknya sadar akan bahaya yang mengancam, sebab aktivitas Marapi masih fluktuatif dan gempa vulkanik dangkal masih terpantau.

"Kita juga harapkan petugas pos pendakian menyampaikan kondisi terkini dari Marapi dan berkoordinasi dengan kita demi keselamatan pendaki ," katanya.

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Eko Fajri