Cerita Seorang Sarjana di Lima Puluh Kota yang Rela Jadi Petani untuk Mendirikan Pesantren

Pesantren Daruz Zikri Manggilang.
Pesantren Daruz Zikri Manggilang. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

LIMA PULUH KOTA , KLIKPOSITIF - Ka rantau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di rumah paguno balun. Pepatah Minang itu benar-benar dihayati Muhammad Zikri (33), pemuda asal Kampung Koto Tuo, Jorong Seberang Pasar, Kenagarian Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota.

Menimba ilmu dan pengalaman selama 14 tahun di negeri orang, pria sederhana itu pulang ke kampungnya untuk kemudian mendirikan pondok pesentren pertama di Nagari Manggilang. Meski belum seperti pondok pesantren modern, proses belajar sudah berjalan seperti pesantren pada umumnya. Bidang ilmu yang diajarkan yakni Nahwu, Sharaf, Hadist, Tafsir, Fiqih, Akhlak, Tarikh, dan lainnya.

baca juga: Update COVID-19 di Lima Puluh Kota, 11 Sembuh dan 6 Positif

Pondok Pesantren Daruz Zikri Manggilang (Dazma) itu lah tempat yang belakangan cukup populer di kalangan pelajar di Manggilang dan Kecamatan Pangkalan Koto Baru untuk memperdalam ilmu agama.

Muhammad Zikri (fb.com/zikri.ahmad1)
Muhammad Zikri (fb.com/zikri.ahmad1)

Terletak di Puncak Bukit Gadang Manggilang, para pelajar harus melewati jalanan menanjak sepanjang 2 kilo meter. Di kiri kanan jalan terbentang ladang gambir dan kebut karet warga.

baca juga: Dapat Nomor Urut 4, Ini Kata Pasangan Independen Ferizal Ridwan - Nurkhalis

Setiba di puncak bukit terlihat sebuah bangunan sederhana, di depannya terlihat bendera merah putih dengan tiang bambu melambai pelan. Bangunan berukuran 3X4 meter itu terlihat dikelilingi lahan pertanian. Tidak ada papan nama, hanya ada spanduk ukuran sedang terpampang pada sisi kanan bangunan, di spanduk itu tertulis "Pondok Pesantren Daruz Zikri Manggilang, Dazma".

Pondok Pesantren Daruz Zikri Manggilang (Dazma)
Pondok Pesantren Daruz Zikri Manggilang (Dazma)

Di bagian belakang terdapat dua pondok lainnya, yang pertama berfungsi sebagai Mushala dan bangunan lain sebagai tempat belajar yang dipasangi papan tulis berwarna putih. Meski sederhana, di situ belasan pelajar Nagari Manggilang dan nagari sekitar diketahui rutin memperdalam ilmu Agama Islam.

baca juga: Ini Makna Nomor Urut Bagi Paslon Bupati dan Wakil Bupati Lima Puluh Kota

Muhammad Zikri yang merupakan pengelola sekaligus pencetus awal Pesantren Dazma bercerita bagaiamana awal mula dirinya berkeinginan mendirikan tempat belajar agama di kampung halamannya itu.

Ia mengawali cerita ketika dirinya mulai meninggalkan Manggilang pada 2002 silam, ketika itu ia bertolak menuju Kota Payakumbuh untuk menuntut ilmu sebagai santri di MTI Koto Panjang, Lampasi. Merasa ilmunya selama nyantri belum cukup untuk dibawa pulang, ia kemudian melanjutkan pendidikan di IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN) Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (2005-2010).

baca juga: Dapat Nomor Urut 3 di Pilkada Lima Puluh Kota, Ini Maknanya Bagi SAFARI

Setelah menamatkan kuliah dan menyandang gelar sarjana, Zikri kemudian mencoba peruntungan di Jakarta. Tak lama di ibu kota ia kemudian berpindah ke Pekanbaru. Enam tahun merantau dan melakoni sejumlah profesi, mulai dari karyawan swasta, pelaku seni, hingga jurnalis pernah ia jalani.

Lelah di perantauan, Zikri kemudian memilih pulang ke kampung halamannya pada 2016 silam. Ia sempat merasa kaget dengan kondisi kampung halaman yang sudah ditinggalkannya selama belasan tahun, belum ada perubahan berarti. Dunia pendidikan, khususnya pendidikan Agama Islam seperti terpinggirkan.

Sebagai pemuda yang pulang merantau, Zikri mengaku tidak memiliki modal yang cukup untuk memulai usaha. Modal dari tanah rantau yang dibawanya pulang hanyalah ilmu dan niat tulus untuk membangun dan mengabdi di tanah moyang.

Beberapa waktu tak tentu arah di kampung, ia kemudian mulai menggarap tanah milik orangtua di Puncak Bukit Gadang Manggilang. Di tengah ladang itu ia kemudian mendirikan sebuah pondok sederhana yang semula ia gunakan sebagai tempat pelepas penat.

"Awalnya ini bukan untuk pesantren , hanya sebagai tempat tinggal saja setelah berkebun. Karena saat itu saya juga membantu mengajar di Rumah Tahfiz Masjid Mukhlisin," katanya, beberapa waktu lalu.

Selama aktif mengajar di Masjid Mukhlisin, Rizki mengaku terus menggarap ladangannya. Ketika pekerjaan di ladang cukup senggang, ia menjalani profesi sebagai kuli angkut di Pasar Manggilang. Statusnya sebagai Sarjana tamatan salah satu Perguruan Tinggi Islam terbaik Sumbar sama sekali tak menghalanginya untuk mencari rezki halal. Yang terpenting baginya adalah tetap mengabdi di kampung dengan mengajarkan ilmu Agama.

"Aktif mengajar di Masjid Mukhlisin, akhirnya sejumlah warga mulai mengantarkan anaknya ke tempat tinggal saya untuk belajar," lanjutnya.

Dengan mulai mengajar di tempat tinggalnya, Zikri menerapkan sistem pesantren terhadap anak didiknya. Murid-murid tiba di pesantren pada sore hari jelang Magrib, selepas maghrib mereka belajar hingga pukul 23.00 WIB. Setelah belajar, para santri laki-laki tidak pulang. Melainkan di tidur di gubuk sesuai adab Iktikaf.

"Pada tengah malam santri dibangunkan untuk Salat Tahajud. Saat waktu subuh, seluruhnya dibangunkan dan melaksanakan Salat Subuh berjemaah, setelahnya baru santri pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap masuk ke sekolah umum," terangnya.

Dia mengaku akan terus melanjutkan metode seperti yang sudah ia jalankan itu. Pola didikan Surau di Minangkabau, begitu ia menyebutnya.

"Pagi dan siang bersama kawan-kawan dan keluarga, tetapi malam para santri ini mondok. Karena masih informal. Belum ada legalitas. Namun, saya akan mengurus legalitas formal pesantren ini ke Kemenag dalam setahun ke depan dan Insya Allah juga akan dibangun Mushalla di sini untuk para santri," harapnya.

Sampai sejauh ini, Pesantren Dazma mampu berjalan berkat bantuan sejumlah donatur. Beberapa waktu belakangan proses pembangunan mulai terus didatangkan seiring dengan berdatangannya bantuan dari orang-orang yang peduli.

"Mudah-mudahan ke depan ini semakin baik berkat adanya donatur yang peduli dengan pendidikan Agama Islam," pungkasnya. (*)

Editor: Taufik Hidayat