Satgas Terpadu Temukan Puluhan Kubik Kayu Diduga Hasil Ilegal Logging di Hutan Lindung Lima Puluh Kota

Dandim 0306/50 Kota Letkol Kav. Ferry Lahe dan Kabid Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Mgo Senatung di lokasi penemuan kayu.
Dandim 0306/50 Kota Letkol Kav. Ferry Lahe dan Kabid Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Mgo Senatung di lokasi penemuan kayu. (Ade Suhendra)
LIMA PULUH KOTA, KLIKPOSITIF -

Tim Satgas Terpadu Peduli Alam Kodim 0306-50 Kota, Polres 50 Kota dan Dinas Kehutanan Sumbar temukan puluhan kubik kayu tak bertuan di hutan lindung yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota. Penemuan ini disampaikan Dandim 0306/50 Kota Letkol Kav. Ferry Lahe saat dihubungi Senin 30 Maret 2020.

Letkol Kav. Ferry Lahe mengatakan penemuan puluhan kubik kayu tersebut ditemukan pada Jumat 27 Maret 2020 lalu. Penemuan ini terletak di Desa Kotobaru, Tanjung Pauh, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota yang berbatasan langsung dengan kawasan Kampar, Riau.

baca juga: Hari Ini Seorang Warga Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Tanah Datar, Dinkes : Capaian Vaksinasi Baru 29 Persen

"Temuan sementara oleh tim adalah kayu sebanyak 10 hingga 20 kubik. Waktu itu kami juga mendengar bunyi sinso dan menemukan 2 camp yang kemudian di bakar. Melihat kondisi di lapangan, sepertinya pengolahan kayu ini dilakukan di dalam yang kemudian setelah berbentuk balok kayu baru diangkut menggunakan transportasi," kata Dandim 0306/50 Kota.

Ia menjelaskan, akan menindaklanjuti penemuan kasus ilegal logging ini dan kalaupun ada oknum yang bermain maka akan tetap dilaporkan. Saat ini pihaknya akan koordinasi dengan Provinsi Riau terkait penjagaan karena untuk masuk ke lokasi penemuan harus memasuki Kawasan Koto Tuo, Kampar.

baca juga: Industri Sawit Punya Nilai Ekonomi Ratusan Triliun, Ini Langkah Pemerintah

"Posisinya berada di kawasan hutan lindung Sumbar, di lokasi juga ditemukan tapal batas yang sudah roboh dan telah kami bangun kembali serta dilakukan penanaman beberapa bibit pohon oleh Tim Satgas Terpadu Peduli Alam Kodim 0306/50 Kota sebagai penanda," ujar Letkol Kav. Ferry Lahe didampingi Kabid Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Mgo Senatung.

Menurutnya, saat ini ada beberapa lokasi yang tengah dipantau sebagai langkah antisipasi terjadinya erosi di hutan. Pasalnya, saat terjadi hujan deras maka tidak ada penahan air di perbukitan yang nantinya akan mengakibatkan banjir di daerah Pangkalan sebagai akibat gundulnya hutan karena ditebang secara liar.

baca juga: Akselerasi Pemberian Vaksinasi Covid-19 Perlu Peran Aktif Seluruh Elemen, Wapres: Jika Perlu Jemput Bola

Sementara itu, Kabid Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat Mgo Senatung menambahkan aksi penebangan hutan tersebut telah berlangsung lama. Sebab saat dirinya memasuki kawasan hutan tersebut terlihat dua punggung bukit yang sudah rusak.

"Kemungkinan ini sudah lama, diperkirakan sekitar 20 hektar areal hutan lindung ini sudah dirusak oleh pelaku ilegal logging yang melakukan penebangan secara liar," kata Mgo Senatung.

baca juga: PKS: Ketahanan Keluarga, Perlindungan Ibu dan Anak Catatan Besar Pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin

Ia menjelaskan meskipun Tim Satgas Terpadu Peduli Alam tidak berhasil menemukan pelaku perambahan hutan tersebut, tapi nama-nama pelaku pemalakan liar sudah dikantongi. Pihaknya bersama tim gabungan akan terus melakukan pemantauan terhadap kayu olahan yang ditemukan di lokasi tersebut.

"Nama-nama pelaku yang diduga bermain di sini sudah kita kantongi. Sekarang tinggal menunggu mereka ke luar dan baru nanti kita tangkap," kata Kabid Perlindungan Hutan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistim Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Barat.

Dalam operasi penemuan puluhan kubik kayu ini, Tim Satgas Terpadu Peduli Alam juga melakukan penanaman 100 batang pohon serta memperbaiki tanda tapal batas yang roboh. Tim juga memberikan himbauan dan larangan kepada masyarakat terkait aksi ilegal logging yang dapat merusak lingkungan serta mengancam terjadinya banjir.

Penulis: Ade Suhendra | Editor: Eko Fajri