Mengenal Dokter Deddy Herman, Wakil Satgas COVID-19 RSAM Bukittinggi

Deddy Herman
Deddy Herman (Yudi Prama Agustino)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF - Nama Dokter Deddy Herman mendadak viral dan menghiasi berita sejumlah media lokal maupun nasional.

Namanya mulai dikenal banyak orang, tatkala foto dan videonya beredar luas di media sosial, maupun di sejumlah media cetak, online dan elektronik. Dalam video itu, Dokter Deddy yang pulang ke rumah hanya melihat anaknya dari luar rumah, sambil menguji hafalan Alquran anaknya, yakni surat Alqadri.

baca juga: Anggota Moge Keroyok TNI, PN Bukittinggi Vonis BS 3 Bulan Penjara

Dokter Deddy mengaku sengaja membatasi dirinya dengan keluarga, untuk meminimalisir potensi terpaparnya virus corona ke keluarganya, karena setiap hari dirinya berinteraksi dengan pasien COVID-19.

Dokter Deddy juga selalu dijadikan narasumber oleh para awak media terkait pemberitaan COVID-19 di Kota Bukittinggi . Viralnya Dokter Deddy membuat banyak warga yang bertanya, siapakah Dokter Deddy Herman ini?

baca juga: Kenapa Tes Antigen Negatif Namun Hasil PCR Anies Baswedan Positif Covid-19? Ini Kata Dokter

Dokter Deddy Herman, lengkapnya dr. Deddy Herman, Sp.P (K), FCCP, FAPSR, MCH, FISR merupakan Dokter Spesialis Paru di Rumah Sakit Madina dan Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi - Sumbar, serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang - Sumbar.

Pria kelahiran Padang 7 Desember 1973 ini merupakan anak ke tiga dari enam bersaudara, yang sebagian besarnya berprofesi sebagai dokter . Dokter Deddy Herman merupakan anak Hj. Herly Herman dan almarhum Dokter Herman Safar, yang dulunya juga merupakan Dokter Spesialis Paru. Bersama isterinya Dokter Katerine, mereka dianugerahi sepasang anak.

baca juga: Dukung Erman Safar di Pilkada Bukittinggi, Ini Penjelasan UAS

Alumni SMAN 1 Landbouw Bukittinggi angkatan 91 serta Fakultas Kedokteran Unand Padang yang tamat tahun 2000 ini mulai menjadi dokter umum pada 2001. Meski saat ini merupakan Owner Rumah Sakit Madina Bukittinggi , namun setelah menamatkan studi Pendidikan Spesialis Paru di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Deddy Herman menjadi bagian RSAM Bukittinggi pada 2010 sebagai Dokter Spesialis Paru.

Tak hanya itu, Dokter Deddy Herman kemudian mendapat gelar FAPSR pada tahun 2012, serta FISR pada tahun 2017. Jadi, selain menjadi dokter spesialis paru, Dokter Deddy Herman juga merupakan dokter konsultan paru, serta dokter sub spesialis paru lainnya.

baca juga: Pilkada Bukittinggi, UAS Dukung dan Doakan Erman Safar-Marfendi

Dalam berorganisasi, Dokter Deddy Herman yang beralamat di Jalan Perawat Belakang Balok Bukittinggi juga ikut menjadi bagian pengurus pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia bidang Hubungan Luar Negeri, mulai tahun 2014 hingga sekarang.

Saat ini, Dokter Deddy Herman dipercaya menjadi Wakil Satgas COVID-19 RSAM Bukittinggi . Dalam menjalankan tugasnya, Dokter Deddy Herman harus memanfaatkan waktu senggang untuk beristirahat. Jika pasien banyak atau kondisi pasien memprihatinkan, maka tindakannya juga akan semakin lama.

"Tergantung kondisi pasien, harus masuk pagi 4-5 jam di ruangan monitor atau masuk ke ruang isolasi, sore atau malam 2-3 jam memonitor ruangan dan pasien. Kalau lelah sekali cari kesempatan tidur setengah jam di siang hari," ujar Dokter Deddy.

Dokter Deddy mengaku, penanganan pasien tidak selalu berjalan mulus. Contohnya saja, ketika Alat Pelindung Diri (APD) tidak ada, pihaknya harus mencari ke sana kemari, serta meminta bantuan ke berbagai pihak, demi jaminan keamanan petugas.

Dalam serba keterbatasan itu, malah ada juga pasien dan keluarga pasien yang kesal dan marah-marah karena menganggap penanganan yang dilakukan itu sangat lama sekali. Meski demikian, pihaknya tetap terus bersabar melayani, demi menjaga pasien agar bisa sehat dan tidak membuat orang banyak jadi terpapar.

Begitu juga di tingkat keluarga, meski saat ini pihak keluarga telah memaklumi risiko Dokter Deddy menjadi bagian dari tim penanganan COVID-19, namun awalnya banyak hal yang ditakutkan pihak keluarga, mulai dari isteri hingga orangtua.

"Jangan bang, nanti abang sakit, abang gak bisa nanti dekat-dekat anak. Jangan Nak, mama butuh kamu. Banyak hal yang dikemukakan," ungkap Dokter Deddy Herman. (*)

Editor: Haswandi