Mirisnya Nasib Kakek Nasir dan Nenek Rosmalini, Lansia yang Hidup di Gubuk Reyot Hanya Bisa Bergantung dari Belas Kasih Tetangga

Komunitas Jurnalis Peduli dan Wakil Bupati Ferizal Ridwan, bersama Wali Jorong Balai Tolang  saat mengunjungi Kakek Nasir dan Nenek Rosmalini
Komunitas Jurnalis Peduli dan Wakil Bupati Ferizal Ridwan, bersama Wali Jorong Balai Tolang saat mengunjungi Kakek Nasir dan Nenek Rosmalini (Ade Suhendra)
LIMA PULUH KOTA, KLIKPOSITIF -

"Mereka tidak punya anak dan saudara". Kalimat itu keluar saat rombongan Komunitas Jurnalis Peduli sampai di sebuah rumah panggung kayu berukuran 4 x 5 meter yang terletak di pelosok perkampungan Dusun Bungo Tanjuang, Jorong Balai Talang, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Lima Puluh Kota.

Usai turun mobil memasuki gapura Masjid Raya Al Falah, jalan setapak harus dilewati menyusuri rambatan semak belukar. Di sana, hanya ada dua tiga rumah yang berdiri kokoh di antara rimbunnya pepohonan.

baca juga: Perdagangan Saham Garuda di Bursa Efek Dihentikan

Hingga akhirnya sampai di rumah pasangan renta, Kakek Nasir (75 tahun) dan Nenek Rosmalini (72 tahun) yang hidup berdampingan. Berdinding papan yang nyaris lapuk dimakan usia, empat sendi penyangga bangunan juga tampak tidak begitu kokoh.

Dari jauh, badan rumah terlihat miring, seperti akan rubuh dan saat memasuki rumah lewat pintu belakang, derap langkah dan gesekan papan mengiringi ke ruang tengah, di ruang tersebut sepasang lansia ini berbagi cerita. Rumah itu berwarna abu-abu kayu yang sudah tua, tanpa cat dan hanya semak belukar mengisi halaman bagian depan dan belakang.

baca juga: Kini Bayar Pendaftaran dan Iuran Peserta BPJAMSOSTEK Bisa Melalui LinkAja

Di rumah tua berlantai kayu ini, pasangan suami istri yang telah jompo ini hanya bisa duduk dan sekali-kali berangsur dari tempat duduknya. Kakek Nasir, ternyata mengalami kebutaan dan Nenek Rosmalini juga mengalami kelumpuhan, sungguh miris melihat kondisi hidup mereka dalam keadaan terlantar.

Saban hari, Nasir dan Rosmalini hanya bisa duduk pasrah dan terbaring di dalam gubuk huniannya. Untuk makan sehari-hari saja, mereka mengharap belas kasihan dari tetangga, yang iba dan mau memberi makanan.

baca juga: Terima Kunjungan Ombudsman, Wabup Pessel: Peningkatan Pelayanan Publik Sesuatu yang Mutlak

Beruntung ada Yusneti, salah seorang tetangga yang rela dan ikhlas merawat keduanya. Perempuan yang berumur sekitar 50 tahunan tersebut, dengan kondisi ekonomi yang sulit ini, ia rela datang setiap hari melihat kondisi Kakek Nasir dan Nenek Rosmalini.

"Saya bersama orang-orang disini iba melihat kondisinya, kadang bergantian memberi makan. Karena nenek Ris dan kakek Nasir, sudah tidak bisa kerja apa-apa. Mereka hampir pikun dan tidak punya keluarga," kata Yusneti, salah seorang tetangga, saat ditemui KLIKPOSITIF , Minggu 12 April 2020.

baca juga: Ingin Hidup Lebih Sehat, Mulai dengan Berjalan 30 Menit Setiap Hari

Kedatangan sejumlah wartawan dari Komunitas Wartawan Peduli siang itu, bertujuan untuk memberikan bantuan sosial bagi para dhuafa. Adapun informasi keberadaan kakek dan nenek renta, didapat dari ketua pemuda dan wali jorong setempat.

Yusneti menyebut, yang memprihatinkan, baik Nasir maupun Rosmalini tidak memiliki BPJS . Tidak pula terdaftar sebagai keluarga miskin penerima bantuan sosial seperti PKH .

"Padahal, sejak 6 bulan lalu, keduanya mulai sering sakit-sakitan. Mereka tidak punya anak dan saudara," ujarnya.

Selama ini, Yusneti lah yang selalu membantu memberi makanan ke Nasir dan Rosmalini. Itu pun jika mereka ada sisa kelebihan rejeki karena uang yang didapat Yusneti dari hasil buruh tani dan sebenarnya itu pun terbatas.

"Tapi, saya sebenarnya kewalahan karena, saya juga tulang punggung keluarga. Saya ada anak, suami tidak bekerja. Tapi saya tidak tega melihat mereka tidak makan, apalagi tidak ada yang mengurus," kata Yusneti dengan mata berkaca-kaca dengan suara nyaris tercekat.

Wali jorong Balai Tolang, M Anshar yang ikut mengantar bantuan sembako juga tidak menampik informasi yang disampaikan, Yusneti. Ia mengaku, dirinya bersama pemerintah nagari sudah tiga kali mengurus administrasi dan permohonan ke dinas terkait, agar bisa membantu Nasir dan Rosmalini.

"Kemarin itu, ada kesalahan administrasi dari data kependudukannya. Nama Nasir tidak sesuai dengan KTP, tapi sudah kami urus lagi dan tengah dalam perbaikan. Mudah-mudahan, OPD terkait di pemerintah daerah bisa mempermudah administrasi, agar mereka dibantu," katanya.

Anshar menjelaskan bahwa Nasir sebelumnya bukan warga Nagari Guguak VIII Koto tetapi warga Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Guguak. Keduanya baru beberapa bulan pindah administrasi kependudukan, karena tidak punya tempat tinggal pasti.

"Gubuk yang dihuni Nasir bersama istrinya ini bukan miliknya dan hunian tersebut punya orang lain. Sehingga jika bukan tanah pribadi, tentu tidak bisa pula diberi bantuan rumah tidak layak huni, di sinilah persoalannya," ujar Wali Jorong didampingi Ketua Pemuda Atma Yudian.

Sementara itu, Wakil Bupati Limapuluh Kota , Ferizal Ridwan yang ikut mengantarkan bantuan sosial mengaku prihatin melihat kondisi Nasir dan Rosmalini. Kasus tersebut, diakuinya, merupakan kealpaan pemerintah daerah dalam menangani persoalan sosial masyarakat.

"Saya selaku wakil pemeritah, mengakui jika ini sebuah masalah sosial yang belum tertangani oleh kami. Saya sebut ini sebuah kecolongan dan seharusnya tidak boleh ada lagi masyarakat kita yang terlantar, apalagi orang tua renta seperti ini," kata Ferizal Ridwan bersama Komunitas Jurnalis Peduli seperti Dodi Sastra, Aking Romi Yunanda, dan Rino Chandra.

Ferizal menambahkan bahwa pihaknya akan mendesak dinas terkait supaya bisa membantu pemecahan persoalan sosial yang dialami Kakek Nasir dan Nenek Rosmalini. Sebab menurutnya, sekecil apa pun masalah sosial yang terjadi di masyarakat, itu menjadi tanggung jawab selaku penyelenggara negara.

"Banyak program sedianya dapat disalurkan tanpa harus selalu terkendala oleh anggaran dan administrasi. Kami turut mengajak para pejabat pemerintahan dapat lebih memakai empati dalam menjalankan sumpah dan tanggung jawab tugas kepada negara terhadap masyarakat.

Secar terpisah, Aking dari Komunitas Jurnalis Peduli menambahkan untuk donatur yang ingin ikut berpartisipasi dapat langsung menghubunginya via telepon. Kemudian juga dapat mengirimkan donasi melalui rekening BNI - 071 890 099 4 atas nama Aking Romi Yunanda.

"Selain itu, bisa menghubungi nomor telepon atau WA di 0821 9956 6864. Semoga bantuan dari para donatur ini dapat bermanfaat bagi warga Payakumbuh dan Lima Puluh Kota yang telah kita data serta kami juga membuka diri bagi para donatur yang ingin memberikan bantuan untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan," ujarnya bersama Arya Irfanus, Eko, dan Dodi Codoik.

Penulis: Ade Suhendra | Editor: Eko Fajri