Sengketa Tanah di Padang Berujung Penganiayaan

Hendrizal Saat Menunjukkan Berkas Pengaduannya
Hendrizal Saat Menunjukkan Berkas Pengaduannya (Klikpositif/Haikal)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Sengketa tanah berujung penganiayaan dialami oleh Hendrizal (63), warga Jalan Situjuah III Nomor 17, RT 1, RW 3, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang . Peristiwa tersebut, dialaminya pada Senin (23/3/2020) sekira pukul 15.30 WIB, di Villa Mega, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan.

Menurut Hendrizal, dugaan penganiayaan yang dialaminya dilakukan oleh seorang berinisial JK, yang merupakan rekan dari anggota DPRD Kota Padang berinisial AA.

baca juga: DPRD Padang Rencana Gunakan Hak Interpelasi pada Wali Kota, Terkait Hal Ini

Akibatnya kejadian tersebut, ia mengalami luka di bagian kepala dan tangannya, dan melaporkan ke Polresta Padang dengan Laporan Polisi Nomor : LP/179/B/III/2020/SPKT Unit II Tanggal 23 Maret 2020.

"Kejadiannya berawal di saat saya akan memasang plang di sebuah tanah yang berada di depan rumah AA. Tiba-tiba datang salah seorang rekan pelaku AA ini yang melarang saya memasang plang tersebut," katanya di Padang, Senin (20/4/2020).

baca juga: Satreskrim Polres Bukittinggi Ringkus Pelaku Parkir Liar di Pasar Aur Kuning

Dilanjutkannya, setelah rekan AA yang melarang pemasangan plang tersebut pergi, kemudian datang AA bersama dengan lebih kurang 8 orang lainnya mendekati dan JK langsung melakukan penyerangan terhadapnya.

"Akibatnya bagian kening ini (sambil menunjuk arah keningnya) mengeluarkan darah akibat luka robek. Di bagian tangan juga mengalami luka robek dan mengeluarkan darah. Setelah menerima penganiayaan tersebut, AA kemudian mengeluarkan kata-kata yang mengancam akan membunuh saya apabila masih berani memasang plang tersebut. Tak terima yang saya alami, akhirnya saya melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian,"ujarnya.

baca juga: Diduga Hilang Kendali, Pajero Sport Tabrak Tukang Parkir dan 4 Unit Mobil di Depan Eks Balai Kota Padang

Hendrizal menambahkan, pemasangan plang yang dilakukan tersebut karena tanah yang di pasang plang olehnya tersebut di klaim oleh AA, yang merupakan tanahnya karena telah di beli kepada pihak lain berinisial GG.

"Namun disini saat Kami minta bukti kepemilikan berupa sertifikat tanahnya, baik AA maupun GG tidak bisa mempunyai sertifikat seperti yang Kami minta," ujarnya.

baca juga: Bawa 191 Orang, Pesawat Air India Express Jatuh hingga Terbelah Dua

Hendrizal melanjutkan, tanah tersebut merupakan tanah milik ahli warisnya dari Suku Tanjung yang telah turun temurun menjadi hak milik ahli waris keluarganya.

"Tanah tersebut oleh ahli waris di sebut dengan Tanah Puteri Rahmat (Putitaramek) yang telah di akui oleh Datuk, serta KAN setempat, dan saat inipun sertifikatnya dalam proses penyelesaiannya," tuturnya.

Menurutnya, berubahnya kepemilikan tanah yang diklaim milik seorang berinisial GG ini, berawal pada zaman dahulu dimana tanah yang awalnya memang terbengkalai tersebut diminta kepada seseorang untuk menggarap tanah tersebut.

"Namun dari saudara GG ini yang tidak mengetahui asal-usul tanah tersebut langsung mengklaim tanah tersebut miliknya yang telah turun temurun dari nenek-neneknya terdahulu. Nyatanya nenek-nenek terdahulu tersebut hanya diminta untuk menggarap tanah tersebut oleh nenek-nenek Kami terdahulu. Kemudian dari saudara GG inilah, saudara AA yang melakukan penganiayaan kepada Saya ini membeli tanah tersebut,"ungkapnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polresta Padang Kompol Rico Fernanda membenarkan, pihaknya telah menerima laporan dari salah seorang warga kota Padang yang telah mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh salah seorang rekan anggota DPRD Kota Padang berinisial AA.

"Laporan telah kami terima, saat ini perkara tersebut masih dalam tahap penyelidikan kami," ujar Rico.

Editor: Muhammad Haikal