Selain Minim APD, Tenaga Kesehatan Juga Sulit Akses Tes Corona COVID-19

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Jumlah tenaga medis yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 masih terus bertambah. Berdasarkan informasi yang dikeluarkan oleh Tim Gugus Tugas COVID-19 Jakarta, hingga 12 April 2020 ada 174 orang yang tersebar di 41 rumah sakit , empat puskesmas dan satu klinik (data per 12 April 2020).

Kondisi ini disebabkan bukan hanya karena tenaga medis kekurangan Alat Pelindung Diri, yang menempatkan mereka berisiko tinggi terpapat virus tersebut.

baca juga: Begini Prosedur Pencoblosan pada Pilkada 9 Desember 2020

Menurut Ketua Kolegium Urologi Indonesia dan Penggagas Solidaritas Berantas Covid, Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU(K) mengatakan bahwa tenaga medis juga kesulitan untuk mengakses fasilitas skrining dan testing.

"Saat ini, Jakarta tercatat memiliki lebih dari 10 juta populasi sementara ketersediaan RT-PCR hanya sekitar 1.200 per hari. Hal ini berdampak pada antrian tes yang panjang serta waktu yang lama untuk mengetahui hasil tes,"ungkap Akmal dalam keterangan pers yang diterima Suara.com jaringan KLIKPOSITIF .com, Senin (20/4/2020).

baca juga: Terkait Vaksin Corona, dr Berlian Idris: Tolong Jangan Main-main dengan Nyawa Manusia

Ia melanjutkan, tenaga kesehatan dan staf di fasilitas kesehatan memiliki risiko tinggi terpapar pasien positif COVID-19 tanpa sengaja. Ini juga berpotensi menciptakan penularan lokal di dalam fasilitas kesehatan itu sendiri.

Menurutnya, penyebaran dapat ditekan bila kasus diketahui dan dilacak segera. Situasi ini menjadi alasan utama pentingnya skrining dan testing, di samping penggunaan APD lengkap serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan tenaga dan staf fasilitas kesehatan.

baca juga: Shin Tae-yong Punya Data Nama-nama Pemain Keturunan, Siapa Saja?

"Tanpa kemampuan tes yang masif dan cepat, fasilitas kesehatan akan semakin dibebani oleh krisis sumber daya manusia kesehatan. Hal tersebut kemudian berdampak pada keterlambatan tata laksana medis dan meningkatnya beban kesakitan dan kematian, ujar Akmal.

Kondisi ini juga diamini oleh dr. Syarief Hasan Luthfie, Direktur RS Haji Jakarta. Ia mengatakan, keterbatasan kapasitas tes maupun lamanya hasil keluar menjadi kendala bagi tenaga medis untuk segera mengambil keputusan isolasi maupun penanganan untuk staf kami.

baca juga: Terekam CCTV Bocah Diculik saat Main di Teras Rumah, Dimasukkan Karung

"Karena di saat yang bersamaan, jumlah pasien maupun yang terduga COVID-19 terus meningkat sehingga kami tidak dapat langsung mengisolasi semua tenaga kesehatan dalam status ODP bila belum terbukti positif," ujar dia.

Oleh karenanya, Direktur Kebijakan CISDI, Olivia Herlinda, mengatakan bahwa pihaknya bersama (SBC) memberikan dukungan bagi tenaga kesehatan berisiko tinggi, di Jakarta dan luar Jakarta, melalui akses ke pemeriksaan 1.000 Rapid Test Antibodi, 4.000 RT-PCR dan pemberian 8.000 Alat Pelindung Diri (APD) lengkap secara gratis.

Editor: Eko Fajri