50 Pesantren Jadi Posko Gugus Tugas Pencegahan COVID-19 Kemenag

Ilustrasi
Ilustrasi (kemenag.go.id)

KLIKPOSITIF - Sebanyak 50 pondok pesantren menjadi posko Gugus Tugas Pencegahan COVID-19 Kementerian Agama. "Untuk Jabodetabek, gugus tugas pesantren ini diharapkan dapat menjadi benteng pertahanan pesantren secara mandiri," ungkap Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Imam Safei, di Ciputat, Kamis (23/04) yang lalu.

Pondok pesantren Annahdlah, Pamulang, Tangerang Selatan dan pondok pesantren Darus Sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan menjadi dua pesantren terakhir yang tergabung dalam Gugus Tugas COVID-19 Kementerian Agama RI.

baca juga: Survei BPS: Perempuan Lebih Patuh Protokol Kesehatan COVID-19

Pesantren yang masing-masing didirikan oleh Dr. H.M. Asrorun Nian dan Imam Besar Masjid Istiqlal, almarhum KH Ali Mustofa Yaqub itu mendapat penyemprotan menyeluruh dan alat-alat screening.

Menurut Imam, yang juga menjabat Plt Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren , saat ini terdapat 28.961 pondok pesantren di Indonesia. Sebanyak 9.167 di antaranya berada di Jawa Barat. Di Ibukota DKI Jakarta terdapat 106 pesantren .

baca juga: Sebanyak Empat Personel Polres Payakumbuh Positif COVID-19 Setelah Berkegiatan Padang

"Saat ini kita baru menjangkau Jabodetabek karena daerah ini menjadi pusat sebaran korona terbesar. Bila ini selesai, ke depan akan diteruskan ke daerah-daerah," kata Imam.

Menurutnya, pemberdayaan pesantren penting untuk mencegah virus korona berkembang di pesantren dengan penerapan kewaspadaan dalam bentuk yang tepat.

baca juga: Update Hari Ini, Pasien COVID-19 Agam Banyak yang Sembuh

Imam menuturkan, sejauh ini pesantren masih tergolong steril, untuk itulah pertahanan diri diperlukan dengan cara menguasai prosedur pencegahan dan penangahannya.

"Ini penting dilakukan karena pandemik korona terus meluas di Jabodetabek. Pesantren penting memiliki gugus tugas yang terkoordinasi dengan pemerintah," kata Iman Safei.

baca juga: Kasus COVID di Pessel Terus Bertambah, Total Hingga Hari Ini Sudah Tercatat 253 Orang

Semantara Kasubag Humas Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Sholla Taufiq mengungkapkan, sebagai lembaga pendidikan berasrama, pesantren merupakan salah satu titik rawan penularan COVID-19. Hal ini menjadi perhatian Kementerian Agama.

Ini merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada pesantren . "Bila tidak diantisipasi sejak dini, hal ini akan memicu naiknya angka penderita COVID-19" katanya.

Saat ini menurut Sholla, sebagian besar pesantren telah meliburkan santrinya hingga awal juni mendatang. "Yang perlu diantisipasi, pada saat masuk nanti, ribuan orang dari berbagai daerah akan berkumpul di pondok dan tentu saja akan terjadi kontak intensif," tutur Sholla.

Oleh karena itu, protokol dan mitigasi COVID-19 penting dikuasai pengelola pondok pesantren agar lingkungan pondok tidak menjadi sarang penularan virus korona. "Ini salah satu materi yang diberikan oleh gugus tugas khususnya kepada 50 ponpes yang menjadi posko," tuturnya.

Sholla menambahkan di antara 50 ponpes yang telah bergabung sebagai posko Gugus Tugas Pencegahan COVID-19 ini juga telah dibentuk grup guna mempermudah jalur koordinasi.

Pengurus pesantren Darus Sunnah, Muhammad Hanifuddin mengungkapkan, di pondoknya yang memiliki kompleks asrama 1000 meter persegi ini menaungi 400 orang santri putra putri. Kontak antar santri di lingkungan pondok tidak mungkin terhindarkan lagi karena di asrama seperti ini tidak memungkinkan penerapan social distancing.

Saat masuk nanti diperlukan penanganan yang benar sesuai protokol yang direkomendasikan otoritas kesehatan. "Prosedur penanganan dan pencegahan penting supaya kami lebih waspada dan sigap apabila terjadi masalah," katanya.

"Yang paling jelas, screening suhu badan akan diterapkan pada saat awal masuk santri nanti" tambahnya.

Alat pendeteksi suhu badan, tambah Hanifuddin, sempat sulit didapat di pasaran. Ia mengaku terbantu dengan alat thermoscanning bantuan Kemenag ini.

Editor: Haswandi