Banjir di Kepulauan Mentawai, Ini Kata Wabup Kortanius Sabeleake

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF - Banjir yang menggenang 10 desa di Kepulauan Mentawai pada Jumat 1 Mei 2020 lalu diduga karena adanya kegiatan pembalakan hutan oleh perusahaan di daerah Pulau Siberut.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Bupati Mentawai , Kortanius Sabeleake dalam wawancara online pada Minggu 3 Mei 2020.

baca juga: Pakar Gempa Ingatkan Warga Terkait Gempa dan Tsunami yang Masih Mengancam Kota Padang

Meskipun perusahaan tersebut telah mendapatkan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) oleh pemerintah pusat, dampaknya tetap dirasakan oleh masyarakat.

"Mungkin saja itu karena keadaan hutan di daerah hulu sudah kurang kayu yang besar. Makanya tidak bisa lagi menyerap air hujan," katanya.

baca juga: ACT Sumbar Berangkatkan Kapal Ramadhan Mentawai, Isinya Bantuan untuk Mualaf di Siberut Selatan dan Sikakap

Sementara untuk izin perusahaan tersebut tidak bisa dihentikan oleh pemerintah daerah, karena hal tersebut merupakan kewenangan pemerintah provinsi.

"Untuk kehutanan dan kelautan kan izinnya semua oleh provinsi, kami tidak bisa apa-apa juga. Apalagi perusahaan itu diberikan izin selama 35 tahun terhitung sejak 2003 lalu," lanjutnya.

baca juga: Gempa 5,7 SR Guncang Mentawai, Terasa Hingga Payakumbuh

Sementara untuk melakukan reboisasi, pihaknya juga masih belum bisa melaksanakan. Pasalnya, dari penelitian perhutanan, tutupan hutan di Pulau Siberut masih aman.

"Dengan begitu, keadaan hutan di Mentawai masih aman dan masih belum bisa dilakukan reboisasi," sambungnya.

baca juga: KMP. Tanjung Burang, Kapal Baru Rute Padang - Mentawai

Menurutnya, dampak banjir yang selama ini yang diduga diakibatkan oleh kegiatan perusahaan itu menguras kas daerah.

"Kami mendapatkan hanya sebanyak Rp2 sampai Rp3 milyar dalam setahun. Sementara anggaran yang dihabiskan untuk bencana ini lebih dari itu," sambungnya.

Ia berharap pemerintah provinsi atau pusat bisa membantu untuk mengatasi permasalahan bencana di Kabupaten Kepulauan Mentawai itu.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Haswandi