Lamang Hitam, Kuliner Unik dari Talang Babungo

Nurhayatis sedang memasak lemang hitam
Nurhayatis sedang memasak lemang hitam (Halbert Caniago)

TALANG BABUNGO, KLIKPOSITIF -- Lamang merupakan sebuah kuliner khas lebaran di beberapa daerah di Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Solok .

Lamang yang ada di Nagari Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok -Sumatera Barat berbeda dengan lamang pada umumnya.

baca juga: KPU Pasbar Umumkan Jumlah DPS Sebanyak 259.329 Tersebar di 1.034 TPS

Kuliner khas lebaran tersebut berwarna hitam dan dibungkus dengan bambu yang panjangnya kurang lebih satu meter.

Perbedaan kentara itu tidak hanya ada pada warnanya saja, tetapi juga terdapat pada rasanya yang sangat manis.

baca juga: Ini Pesan Wagub Sumbar Saat Pelepasan Jenazah Bupati Irdinansyah Tarmizi di Pagaruyung

Tidak hanya itu, proses pembuatannya juga berbeda dibanding lemang yang biasanya diproduksi di beberapa daerah di Sumatera Barat.

Nurhayatis (70) mengatakan bahwa tradisi malamang sudah dilakukan oleh masyarakat sejak zaman nenek moyangnya dulu.

baca juga: Bupati Tanah Datar Tutup Usia, Indra Catri Sampaikan Rasa Duka

"Kalau lamang hitam ini hanya bisa didapatkan saat lebaran saja di Kecamatan ini. Setahu saya tidak ada daerah lain yang membuat lamang seperti ini," katanya.

Ia menjelaskan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat lamang hitam ini berbeda dengan lamang pada umumnya.

baca juga: Pelepasan Jenazah Bupati Irdinansyah Tarmizi di Indo Jolito, Ahli Bait Sampaikan Permohonan Maaf

Lamang hitam dibuat dengan beras 'siarang' yang berwarna hitam dan ditumbuk hingga menjadi tepung, lalu diaduk dan dicampur dengan tepung beras biasa.

"Nanti tepung itu diaduk dengan manisan tebu dan didiamkan hingga asam selama satu malam," lanjutnya.

Setelah itu, adonan tersebut dimasukkan ke dalam bambu yang sudah disiapkan dan dibakar seperti pembuatan lemang pada umumnya.

"Warna hitam itu karena beras hitam yang kami gunakan. Rasa manis bercampur asam juga menjadi sebuah ciri khas kuliner ini," tutupnya.

Penulis: Halbert Caniago | Editor: Eko Fajri