Kisah Perantau Minang Tak Bisa Pulang dari Malaysia

Asrama Tempat Wahyuni Tinggal di Kilang Hosiden Malaysia
Asrama Tempat Wahyuni Tinggal di Kilang Hosiden Malaysia (Screenshot video)

KLIKPOSITIF -- Harapan Wahyuni, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumatera Barat (Sumbar) untuk pulang ke kampung halaman tertunda karena pandemi COVID-19.

Ia dan 8 orang temannya (7 asal Sumbar dan 1 asal Riau) sudah habis kontrak kerja dengan perusahaan di Kilang Hosiden Malaysia dan sudah 2 bulan lebih berdiam di asrama, tanpa kerja, tanpa pemasukan, sementara kebutuhan sehari-hari harus dicukupi untuk bertahan hidup.

baca juga: Cerita Pesepeda Asal Pessel yang Terkesan dengan Danau Kembar Solok saat Gowes

"Saya bekerja melalui sebuah agen di Kota Padang, kontrak kerja saya disini 2 tahun, dan sudah berakhir pada 30 Maret 2020 lalu, tapi semenjak COVID-19 saya tidak bekerja lagi sejak 18 Maret, dan sampai sekarang hanya di asrama saja," kata Wahyuni saat dihubungi KLIKPOSITIF , Selasa (26/5/2020).

Wahyuni dan teman-temannya tidak tinggal diam, terkait kondisi yang dialaminya bersama. Wahyuni sudah mencoba menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia .

baca juga: Khusus Untuk SD, Pemkab Pessel Ganti Pembelajaran Tatap Muka dengan Sistem Daring

"Kami sudah menghubungi kedutaan melalui nomor hotline yg di paparkan di laman media sosial Facebook KBRI, tapi hingga saat ini mereka hanya meminta data kami, setelah itu mereka tidak merespon sama sekali," ujarnya.

Selain menghubungi KBRI di Malaysia , Wahyuni juga mencoba mencari solusi lain dari agen yang mengantar ia bekerja di Malaysia .

baca juga: Pandemi COVID-19, Momentum Transisi ke Energi Terbarukan

"Kami minta solusi dari agen disini, tapi dia malah keluar dari group WhatsApp, kami telpon ditolak. Kami tidak tahu harus berbicara kepada siapa lagi," ujarnya lagi.

"Kami juga coba hubungi agen di Padang. Inisialnya RW, alamatnya dulu di Simpang Tinju, sekarang di Lapai, tapi alamat pastinya kurang tahu," sambungnya.

baca juga: Ahli Sebut Indonesia Gagal Kendalikan Wabah COVID-19, Kenapa?

Namun, lanjutnya, saat mengutarakan ingin pulang, baik menggunakan pesawat walaupun transit, agen tersebut menjawab susah untuk bisa pulang sekarang. "Katanya mau minta pendapat agen yang disini ( Malaysia ), tapi belum ada respon sampai sekarang," tuturnya.

Wahyuni menjelaskan, sejak penerapan Lockdown di Malaysia , ia dan teman-temannya tidak pernah mendapatkan bantuan. "Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kami biaya hidup masing-masing, saya tidak mengetahui stok teman-teman yang lain," sebutnya.

Menurutnya, ia dijanjikan pulang pada 1 Juni nanti, tetapi pada tanggal 25 Mei kemarin, dikabarkan kepulangan di undur kembali di Juli nanti. "Padahal kami sudah 2 bulan lebih tidak bekerja, dan harus menunggu 2 bulan lagi," ujarnya.

Wahyuni melanjutkan, Lockdown di Malaysia akan berakhir pada 9 Juni mendatang. "Itu saya lihat di berita. Kalau untuk batas Permit saya berakhir pada 16 Mei lalu, tetapi tidak perlu dikhawatirkan, katanya bagi yang masa tinggal sudah habis selama Lockdown masih diperbolehkan tinggal," katanya.

Wahyuni berharap, segera bisa pulang dan bertemu keluarga di Kabupaten Pesisir Selatan .

"Harapannya ya, semoga kami bisa di pulangkan dengan segera. Saya dapat kabar, pekerja migran akan dipulangkan serentak, dan pemerintah akan menyiapkan tempat isolasi selama 14 hari," jelasnya.

"Kami berharap itu benar. Sebenarnya bukan hanya kami yang habis kontrak kerja, banyak dari teman-teman pekerja lainnya yang bernasib sama seperti kami. Mereka dari kilang-kilang dan agen-agen yang berbeda," pungkasnya kemudian.

Editor: Muhammad Haikal