Penerapan New Normal Indonesia, Ahli: Ada Desakan Kapital

ilustrasi
ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Banyak yang mempertanyakan alasan Indonesia terburu-buru menerapkan konsep new normal atau kelaziman baru.

Terlebih banyak ahli yang menilai bahwa kasus virus corona Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda terkendali.

baca juga: BMKG Sebut Gempa 6,1 SR di Jepara Jenis Deep Focus, Apa Itu?

Bahkan kurva kasus infeksi Covid-19 belum melandai dan masih amat tinggi.

Di sisi lain, Direktur Regional WHO Eropa juga mengatakan ada 6 kriteria negara boleh menerapkan new normal, salah satunya adalah terkendalinya wabah.

baca juga: Naik Lagi, Harga Emas Rp934 Ribu Per Gram

Hal itu yang membuat pakar Epidemiolog FKM Unhas Prof. Ridwan Amiruddin, S. KM menduga adanya dorongan kapital yang kemudian membuat Indonesia menerapkan kebijakan ini.

"Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk masuk ke new normal. Ini adalah desakan kapital, desakan modal agar ekonomi berjalan," ujar Prof. Ridwan dalam diskusi publik online, Kamis (28/5/2020).

baca juga: Menteri PPPA Desak DPR Masukkan Kembali RUU PKS dalam Prolegnas Prioritas

Ia mengatakan loncatnya pemerintah dari tahapan penanganan wabah, dimana seharusnya harus lebih dulu memastikan keamanan publik dari penyakit, ke fase kedua yaitu memperbaiki sektor ekonomi , disebutnya sebagai jalan tengah.

"Ini sebenarnya adalah jalan tengah. Bagaimana mengendalikan Covid-19, dan bagaimana kehidupan berlangsung, itu sebenarnya poinnya," ungkapnya.

baca juga: Ratusan Ilmuan dari Puluhan Negara Sebut Droplet Bisa Menyebar Puluhan Meter

"Jadi, pertarungannya adalah bagaimana mengendalikan pandemi dan bagaimana ekonomi berjalan. Kalau kita menggunakan piramida tadi, bahwa selesaikan keamanan publik kesehatan pandemi dikendalikan, baru masuk ekonomi , baru memulihkan reputasi," sambungnya.

Menurut data reproduksi virus corona atau yang diwakilkan dengan data R, tidak boleh di atas angka satu, sedangkan di banyak provinsi Indonesia angkanya masih cenderung di atas satu.

"Jadi indikator ini yang tidak terpenuhi, kalau beberapa negara menggunakan reproduksi (R) efektifnya. Itu kan belum ada satu provinsi di bawah satu. Jakarta saja masih di atas satu, untuk Sulawesi Selatan masih 1,95 jadi berarti secara umum belum terkendali," tutupnya.

Jika angka reproduksi corona lebih tinggi dari dari satu, maka jumlah kasus cenderung meningkat secara signifikan dan masih bergulir.

Tapi jika semakin turun, maka penyakit itu semakin terkendali, dan perlahan akan menghilang hingga tidak ada kasus baru.

Sumber: Suara.com

Editor: Eko Fajri