Hari Pertama Dibuka Kembali, TMSBK Catat 1000an Pengunjung

Salah Satu Sudut TMSBK
Salah Satu Sudut TMSBK (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF --Pemerintah Kota Bukittinggi memutuskan lepas dari PSBB demi menjalani "new normal".

Keputusan Ini diambil dengan pertimbangan terkendalinya penyebaran virus corona dan ekonomi yang babak belur.

baca juga: Ratusan Ilmuan dari Puluhan Negara Sebut Droplet Bisa Menyebar Puluhan Meter

Hidup "new normal" secara perlahan diterapkan 1 Juni 2020, kendati demikian objek wisata di Bukittinggi sudah mulai dibuka hari ini, termasuk Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang merupakan objek paling populer bagi wisatawan.

Pantauan KLIKPOSITIF , tampak cukup banyak wisatawan yang datang ke TMSBK hari ini setelah ditutup sejak Maret 2020. Beberapa bahkan datang dari luar Bukittinggi seperti Pasaman.

baca juga: Dugaan Pakar: Virus Corona Sudah Ada Bertahun-tahun Tapi Tidak Aktif

"Hari ini ada 1000an pengunjung. Normalnya sehari itu bisa 2000-3000an pengunjung yang datang,"ucap Kepala Bidang TMSBK Ikbal, Sabtu 30 Mei 2020.

Pengunjung yang datang, diberi beberapa ketentuan seperti wajib memakai masker dan diperiksa suhu tubuhnya. Jumlah kunjungan pun dibatasi agar tak terjadi kepadatan di areal TMSBK yang punya luas lebih dari 3 hektar. Sementara petugas TMSBK, juga telah dirapid test demi mencegah penyebaran COVID-19.

baca juga: Kunjungi Rumah Warga Penderita Gangguan Jiwa, Pejabat Lima Puluh Kota Janjikan Hal Ini

Saat ini, TMSBK tengah merampungkan pengerjaan Aviari, yaitu kandang burung berukuran raksasa yang nantinya juga dilengkapi spot selfie.

TMSBK merupakan kebun binatang tertua di Sumatera Barat yang dihuni lebih dari 500 satwa plus areal benteng Fort de Kock. Beberapa satwanya, adalah hewan dilindungi seperti Gajah, Singa, dan Harimau Sumatera.

baca juga: COVID-19 Belum Selesai, Wabah Pes Mengancam

Untuk masuk ke TMSBK, dikenakan biaya 20 ribu rupiah untuak anak-anak, 25 ribu untuk dewasa dan 40 ribu rupiah untuk turis asing. (*)

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Eko Fajri