Cerita CPNS BPK RI Penyandang Disabilitas, Status CPNS Dicabut Karena Dinilai Tidak Sehat Jasmani dan Rohani

Alde Maulana di LBH Padang
Alde Maulana di LBH Padang (Klikpositif/Haikal)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Alde Maulana (37), merupakan penyandang disabilitas yang dinyatakan lulus seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) melapor ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang karena diberhentikan dengan hormat oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).

Alde menceritakan, ia mengikuti tes CPNS di tahun 2018 di portal Sistem Seleksi CPNS Nasional (SCCN), dengan mengikuti seluruh tahapan dan menerima Surat Keputusan (SK) CPNS Terhitung Masa Tanggal (TMT) 1 Maret 2019.

baca juga: Permohonan Penangguhan Penahanan Tak Digubris Hingga Meninggal, Tim PH Lehar Adukan Dua Penyidik Polda Sumbar ke Divpropam Polri

"Saya kualifikasi pendidikan Sarjana Hukum Unand dengan mengambil formasi disabilitas sebagai pemeriksa ahli pertama atau calon auditor di BPK RI," katanya, Senin (1/6/2020).

Alde menambahkan, setelah dinyatakan lulus, kemudian mengikuti Diklatsar Prajabatan selama 4 bulan di Medan, kemudian melakukan habituasi ke tugas masing-masing sesuai apa yang telah diajarkan selama Diklatsar.

baca juga: Usia Lanjut dan Miliki Riwayat Medis Jadi Alasan Upaya Penangguhan Penahanan Lehar, PH: Namun Tak Digubris

"Dan dipresentasikan kembali ke Diklatsar apa yang telah diterapkan tersebut. Kemudian, lanjut ke Diklat jabatan fungsional selama 1 bulan," ujarnya.

Saat Diklat Jabatan Fungsional, saya mengalami sakit kejang-kejang, dan dibawa ke RSUP Adam Malik Medan, hasil CT Scan dan ada penumpukan cairan di bekas bekas aunorisma, yang pernah dilakukan operasi di tahun 2015 lalu.

baca juga: Tidak Terima Anggota Keluarga Kalah Berkelahi, Ayah dan Kakak Ikut Aniaya Korban Hingga Meninggal di Sijunjung

"Hasil rekomendasi dokter, saya tidak boleh berpikir berat dan berpikir terlalu banyak. Atas hal itu, manajemen memberikan dispensasi saya tidak boleh ikut ujian, namun boleh masuk kelas mengikuti materi dipersilahkan, saya mau mengetahui core bisnis yang diajarkan juga," ujarnya lagi.

Setelah selesai Diklat di akhir November 2019 saya ditempatkan di BPK Sumatera Barat. Akhir Januari 2020, untuk formasi disabilitas wajib melakukan medical check up sebagai syarat pengangkatan CPNS di RSPAD Gatot Soebroto. Saat itu jumlah formasi disabilitas ada 11 orang.

baca juga: Tersangka Penipuan dan Pemalsuan Surat Tanah Lehar Meninggal Dunia

"Saya mendapat memo dinas lagi untuk medical check up yang kedua. Awal Februari 2020, disitu saya dinyatakan cukup sehat dengan beberapa catatan yang ditulis oleh dokter," tuturnya.

Istri Alde Maulana, Dewi Ratnasari menambahkan, pada Senin 24 Februari 2020, pelantikan CPNS dilakukan di BPK Sumbar pukul 14.00 WIB, suaminya tidak dilantik pada hari tersebut.

"Pada Kamis sebelumnya, suami saya mengirimkan foto yang berisi tentang sumpah pelantikan CPNS. Besoknya disampaikan, pelantikan suami saya ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Padahal awal Maret gaji sudah masuk, namun ditarik kembali dengan alasan status belum jelas," sebutnya.

Dewi melanjutkan, selang beberapa hari, atau tanggal 3 Maret, suaminya diberhentikan secara hormat, dalam Petikan Keputusan Sekretaris Jenderal Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 73/K/X-X.3/03/2020 dengan alasan tidak sehat jasmani dan rohani. "Status CPNS dicabut, di poin ketiga, bila ada perlu direvisi surat ini direvisi kembali," ujar Dewi.

Alde berharap, dirinya ingin mendapatkan haknya kembali sebagai abdi negara, sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) karena dirinya baru menikah pada 17 Januari 2020 lalu.

"Sebagai kepala keluarga saya punya tanggungan yang perlu saya nafkahi, ini sangat berpengaruh terhadap diri saya, terhadap istri saya dan keluarga saya," harap Alde.

Bagi Alde, cukup berat sebagai seorang disabilitas ini dalam menjalani kehidupan sehari-hari, ia merasa cukup sedih dengan apa yang telah didapatkan selama ini dan kemudian mendapat pemberhentian dengan hormat dengan alasan tidak sehat jasmani dan rohani.

"Padahal hasil medical check up saya dinyatakan sehat, menurut saya cukup sehat dan tidak sehat itu sangat jauh berbeda," pungkasnya kemudian.

Editor: Muhammad Haikal