Tiga Hari Wafatnya Pimpinan MTI Pasia, Untaian Doa Terus Mengalir

Buya H. Awis Karni Husin memberi tausiah
Buya H. Awis Karni Husin memberi tausiah (Ist)

AGAM , KLIKPOSITIF - Wafatnya Buya H. Awis Karni Husin, pimpinan Pondok Pesantren MTI Pasia pada tanggal 8 Juni 2020 telah memberikan duka mendalam bagi keluarga, murid, dan kolega. Sejumlah pelayat terus berdatangan kerumah duka.

Malam ba'da maghrib di rumah duka (10 Juni 2020) digelar zikir, sholawat, doa dan taushiyah. Untuk memfasilitasi antusias masyarakat, panitia pun menggelar acara secara livestreaming.

baca juga: Kisah Sekeluarga di Agam Tinggal di Rumah Hampir Roboh

Selain dirumah duka dalam pantauan penulis acara doa pun digelar di sejumlah tempat seperti Jabodetabek, Jogjakarta, Riau, dan berbagai lokasi di Sumatera Barat yang umumnya dihadiri oleh Keluarga Besar Tarbiyah Pasia dan Keluarga Tarboyah.

Setelah berdoa ditempat masing-masing semua jama'ah focus ke rumah duka untuk mendengarkan Tuashiyah dari Buya H. Afisal Husin, adik Almarhum.

baca juga: Puting Beliung Rusak 8 Rumah di Agam

Buya Afisal Husin dalam taushiahnya tidak lupa memberi pesan bagaimana hubungan guru dan murid.

Hubungan itu terus terhubung hingga di akhirat kelak. Seiring dengan itu beliau mengutip perkataan sahabat Rasul Ali bin Abi Thalib K A

baca juga: Update COVID-19 di Agam, Pasien Sembuh Sebanyak 624

"saya ini hamba sahaya (budak) bagi orang yang telah mengajarkan saya walaupun satu huruf".

Beliau mengajak semua yang hadir agar rajin mengkaji al Quran agar hati tetap tenang. Setiap hari tidak pernah absen membaca al Quran. Setelah membacanya kemudian berdoa agar pahalanya juga mengalir kepada Ayah, Ibu dan para guru.

baca juga: Hari Pertama Operasi Yustisi di Agam, 49 Orang Terjaring

Dalam kesempatan yang sama buya Alfisal Husin mengingatkan bahwa MTI Pasia adalah mahakarya dari para guru termasuk Buya H. Awis Karni Husin. Harus tetap dijaga. Karena MTI adalah ladang amal mengkaji ilmu pengetahuan.

Sosok Buya Haji Awis Karni Husin

Buya H. Awis Karni Husin lahir di Pasia, Ampek Angkek, 19 Agustus 1945 dan Wafat 8 Juni 2020. Selama hidup beliau mendedikasikan diri menjadi pengajar dan pimpinan MTI Pasia. MTI Pasia, yang akrab disebut Tarbiyah Pasia didirikan oleh Ayah beliau Husein Amin pada Tahun 1937.

Buya Husein adalah murid pertama dari Buya H. Sulaiman Arrasuli, Inyiak Canduang.

Kembali kepada Buya H. Awis Karni Husin. Beliau lebih akrab dipanggil Ustadz Awis oleh para muridnya.

Beliau sepertinya tak lepas dari kaji. Dia hobi mengaji, konsisten dengan kajinya, dan orang minta kaji kepadanya.

Kaji yang beliau dalami sangat ketat dengan Aliran Ahlussunnah Wal Jama'ah, dan mazhab syafi'i. Kajian dalam kitab Ianatuthalibiin dan kitab secorak dengan itu amat beliau pegang teguh.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari beliau konsisten menjalankan ajaran ini. Katakanlah misalnya dalam berjual beli, beliau terus meng-akad-kan jual beli kepada siapapun beliau berbelanja.

Beliau sangat marah dengan anak murid yang punya rambut menutupi kening, sebab dalam mazhab syafi'I kening saat sujud dalam sholat tak boleh dihalangi apapun termasuk rambut.

Sebagai ahlussunnah wal jamaah, beliau gemar membaca sholawat dan mengajak murid dan jamaah beliau untuk selalu membaca sholawat dan barzanji. Selalu menekankan kepada anak-anak muridnya agar rajin sholawat untuk selamat dunia dan akhirat.

Menurut Zelfeni Wimra, dalam pengamatan murid beliau ini, rumah Ustazd Awis dibangun dengan tata ruang rumah berbasis fikih syafi'iyah. Mulai dari bagaimana membersihkan pakaian dengan mesin cuci diatur sedemikian rupa sehingga pakaian itu terjaga kesuciannya.

Pertimbangkan debit air yang dipakai dengan mesin cuci, harus air yang suci lagi mensucikan, harus lebih dua kullah (luas/diameter wajan air minimal selingkar pergelangan tangan orang dewasa) dan air itu tidak boleh berubah warna dan baunya.

Bagaimana posisi toilet ditinggikan guna menghindari percikan hadas ke badan atau ke pakaian saat beraktivitas di kamar mandi. Berapa komposisi jarak antara kamar mandi, tempat berwuduk, dan musala di dalam rumah, semua kami pahami persis seperti fikih yang Beliau ajarkan di kelas.

Ini belum lagi soal bagaimana memasang niat sebelum salat, bagaimana khotbah yang benar, dan yang paling penting, dan ini menurut saya adalah jantung ketarbiyahan, bagaimana cara zikrullah dan berselawat kepada Rasul-Nya.

Di MTI Pasia, sekolah dengan mengaji kitab kuning, kitab klasik kajian Ulama dahulu.

Kitab kuning ini berbahasa arab klasik dan tanpa baris. Ada banyak proses pengetahuan yang mesti dimiliki untuk memahami kitab kuning, tentunya harus mampu menentukan baris sehingga kalimat itu bisa dibaca.

Belum selesai sampai disitu, si pembaca juga harus tau terjemahan setiap kata. Dan, tak cukup demikian, setiap kata harus mendapatkan maksud kalimat si pengarang kitab sehingga mendapatkan makna dari kitab tersebut.

Sampai dimakna belum tentu mampu pula menyurahkan kitab itu. di MTI Pasia selama 7 tahun lamanya murid-muridnya mengkaji kitab kuning tak berbaris ini.

Jika tak mampu membaca kitab kuning, surah kaji dari Ustazd awis tetap lekat dikepala anak tarbiyah.

Makanya setiap murid merindukan kaji dari sang Ustazd.

Tapi beliau harus mengajar anak-anak sekolah mulai dari Kelas 2 hingga kelas 7. Bahkan harus menggantikan guru-guru yang tak hadir. Untung saja beliau menyediakan waktu ngaji malam. Beliau kembali kesekolah di malam hari ba'da isya untuk mengajar anak-anak sekolah, dijatah per 2 hari untuk anak kelas 5,6 dan 7 setiap minggunya.

Saat ngaji malam, jarang murid yang absen. Walau tak ada absen saat ngaji malam. Tujuannya tak lain adalah mendapat surah kaji dari Ustazd Awis. Ngaji malam itu asyik, tema nya bisa diminta oleh murid.

Beliau seakan tak pernah lelah jika berhadapan dengan kaji. Mungkin setiap mengaji amanah sang buya ayahanda beliau selalu menjadi energy, dengan mengaji berarti berupaya selamat dunia dan akhirat. Kelak murid membawa ilmu ke keluarga dan ketengah masyarakat, untuk mencerdaskan.

Kaji beliau sesuai dengan amanah dari buya Husein Amin yaitu berpegang teguh kepada mazhab syafii dan berlaliran ahlu sunnah waljamaah. Dalam mengaji beliau memiliki kharismatik mempesona.

Tak sedikitpun suara terdengar selain suara beliau saat mengaji. Murid khusuk mendengar. Saat pendekatan humor yang beliau keluarkan semua akan tertawa, bahkan terkadang kelas disebelah pun terbawa arus mendengarkan surah kaji beliau.

Kedekatan dengan anak murid saat mengaji beliau bangun dengan dekat. Murid tak segan langsung bertanya kepada beliau saat mengaji.

Pertanyaan murid akan menjadi dialektika yang mencerahkan, murid jarang lupa dengan dialektika itu, lekat dikepala.

Ustazd Awis akan sangat marah jika murid tak menyimak kaji. Beliau selalu menyangsikan jika tak menyimak kaji kelak tak mampu menjawab Tanya masyarakat di kampung.

Itulah barangkali sebabnya jika ada yang tak menyimak kaji, beliau akan marah. Dan saat beliau marah, biasanya beliau akanmelakukan sesuatu yang membuat si anak murid lupa.

Kemarahan beliau bisa saja membludak hingga meminta murid se lokal untuk mencari sekolah lain.

Tentu saja ujung-ujungnya semua murid tak akan mau melakukannya, dan meminta maaf kepada beliau.

Setiap waktu dalam hidupnya memikirkan sekolah. Sebab disekolahlah anak-anak akan mengaji, di sekolah pula para guru mengajar kaji.

Untuk menjaga sekolah Tarbiyah Pasia, beliau memikirkan luar dan dalam. Beliau memikirkan pembangunan sekolah, honor guru, dan memastikan anak tarbiyah paham dengan kaji.

Tak ada terbayang tujuan materil dengan dedikasi beliau terhadap sekolah.

Tapi dengan kegigihan beliau membangun sekolah

Wakaf yang diberikan masyarakat beliau jaga dengan sangat baik. Bahkan beliau diwaktu-waktu sela menyapu sekolah, mengikis lumut-lumut yang hinggap dikeramik sekolah.

Kenapa beliau melakukan itu, jawabnya sederhana menjaga wakaf orang, jika cepat rusak takut pahalanya tak lagi mengalir sempurna kepada si pewakaf. Jika pada saat kejadian ini beliau mendapatkan tamu, tamu tak akan menyangka jika beliau adalah Pimpinan MTI Pasia.

Gedung mewah bertingkat empat pun terbangun.

Pembangunan itu menurut penulis tak akan mampu dibiayai dari uang SPP para murid saja. Uang yang dibayar anak siak (sebutan untuk siswa MTI Pasia) tiap bulan, jangankan untuk membangun gedung, untuk honor guru pun barangkali Ustazd Awis harus memutar otak.

Kepergian beliau mengahdap sang khalik pada tanggal 8 Juni 2020 tentu saja kehilangan bagi keluarga beliau, murid-murid beliau, masyarakat, dan sekolah. Semua kehilangan salah satu tokoh yang selalu mengajarkan ajaran mazhab syafi'I kepada murid dan jamaahnya. Tapi kepergian beliau ini bukti, manusia tak sedikitpun memiliki hak terhadap hidup dan mati seseorang.Hanya Allah SWT yang memiliki hak tersebut.

Berdasarkan penafsiran yang Beliau ajarkan, bahwa melalui Al-Fatihah, ruh manusia bisa saling terhubung, saling menguatkan dalam doa. Titik kumpul pemahamannya pada kalimat ihdin siratha al-mustaqm. Ada dhamir nahnu (kami) pada "ihdin".Berkirim al-Fatihah juga merupakan pernyataan, bahwa manusia adalah umat yang satu: tunjuki kami jalan mustaqm, yakni jalan bagi mereka yang Engkau mampukan mencapai kenikmatan ilahiyah, bukan jalan bagi mereka yang tidak Engkau pantaskan mendapatkan kenikmatan itu.

Maka diakhir tulisan ini penulis berkirim alfatihah kepada beliau, lahu alfatihah.

Oleh:Zainal AbadiAlumnus MTI Pasia tahun 2003, sekarang sebagai Komisioner KPU Kabupaten Agam

Editor: Rezka Delpiera