Filosofi Ayam dan Silek Minang

Tuo Silek Limbago Budi Cupak, Rizal Intan Sati saat melatih murid di sasaran
Tuo Silek Limbago Budi Cupak, Rizal Intan Sati saat melatih murid di sasaran (Klikpositif)

SOLOK, KLIKPOSITIF - Sudah menjadi budaya yang mengakar bagi masyarakat Minang , jika hendak berguru silek (beladiri Minang ) harus diawali dengan memotong seekor ayam jantan muda.

Lantas, Apa hubungannya antara belajar silek dan tradisi memotong ayam ?

baca juga: Budaya Merantau, Dimana Ada Kehidupan Disitu Ada Orang Minang

Silek merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Minang . Dalam kehidupan, muda-mudi Minang mesti menguasai seni beladiri sebelum menginjakkan kaki di tanah perantauan. Nyaris menjadi sebuah keharusan.

Silek sangat erat kaitannya dengan tradisi merantau bagi generasi muda Minang . Kalaulah sudah menguasai Silek , barulah diperbolehkan untuk beranjak dari kampung halaman. Begitu budayanya sejak zaman dahulu.

baca juga: Minang Diaspora Salurkan Beasiswa

Tak ayal, generasi muda minang sudah belajar Silek sedari kecil. Tempat latihan silek Minang disebut Sasaran. Disinilah, dalam sekali atau dua kali seminggu mereka menimba ilmu dan melatih ketangkasan membela diri.

Sebelum belajar Silek , ada syarat yang harus dipenuhi oleh seorang murid ?

baca juga: Kopi Minang Belum Bisa Penuhi Permintaan Pasar Internasional

Menurut Tuo Silek Perguruan Limbago Budi Cupak, Rizal Intan Sati-Pandeka Alam, dalam tradisi silek Minang , pada dasarnya ada 4 syarat yang harus ada dalam berguru Silek

"Ampek sarek Baguru (empat syarat berguru), Ado nan maagieh (ada guru), ado nan manarimo (ada calon murid), ado Tampek (ada sasaran) jo ado mahar (ada mahar)," terangnya saat berbincang santai dengan KLIKPOSITIF beberapa waktu lalu.

baca juga: Dua Novel Tentang Ulama Diterbitkan, Berikut Reviewnya

Selain endong (celana) dan baju silek lengkap dengan ikat kepala, salah satu mahar yang terlebih dahulu dipenuhi adalah ayam jantan muda. Ayam ini nantinya akan dipotong.

Memotong ayam (mambantai ayam) menjadi syarat utama sebelum belajar Silek . Namun dari sekian banyak jenis ternak peliharaan, kenapa harus memakai ayam kampung.?

Menurut Guru (sapaan akrab Rizal Intan Sati), ayam jantan dipilih sebagai syarat berguru Silek karena banyak filosofi hidup orang Minang yang mengacu pada kebiasaan ayam.

"Ayam itu memiliki taji, dan melambangkan diri seorang Pandeka (pesilat), setiap Pandeka harus bertaji atau bernyali dalam membela diri dan membela kebenaran," terangnya.

Selain itu, ayam jantan, sesuai kodratnya selalu berkokok menjelang subuh. Makanya, sejak dulu ayam menjadi penanda jelang masuknya subuh. Begitu juga dalam berguru Silek , sesama murid seperguruan harus saling mengingatkan untuk kebaikan.

"Jadi ayam selalu berkokok menjelang subuh, mau orang bangun atau tidak, itu sudah urusan masing masing, kewajiban ayam sudah dikerjakan, begitu juga dalam basilek, kalau ada kawan salah harus diingatkan, mau didengar atau tidak, yang penting kewajibannya sudah dikerjakan," tukasnya.

Yang tidak kalah penting, bak pepatah orang Minang , "Kusuik-kusuik bulu ayam, parueh juo nan kamanyalasaian" (Kusut-kusut bulu ayam, paruh juga yang akan menyelesaikan). Artinya, jika ada permasalahan antara murid, kadukan kepada guru untuk ditengahi atau diselesaikan.

Artinya, jika ada perselisihan sesama murid saat belajar silek , harus diselesaikan secara kekeluargaan (internal). Bukan diselesaikan di luar dengan cara-cara yang tidak baik.

Kemudian tradisi makan bersama gulai ayam menjadi pengikat rasa kekeluargaan atau ukhuwah sesama murid seperguruan maupun dengan guru.

"Bak pepatah orang tua-tua kita, kalaulah terminum air orang berarti sudah badunsanak, ini bukan lagi air, tapi sudah gulai ayam, artinya, semua murid seperguruan sudah badunsanak, harus saling menjaga dan mengingatkan," paparnya.

Sebetulnya, masih banyak lagi filosofi hidup orang Minang yang belajar dari kehidupan ayam. Begitu juga dalam berguru silek . Hal itu yang konon menjadikan ayam sebagai syarat belajar Silek dari dahulu kala.

Namun ditegaskan Rizal, budaya membantai ayam di perguruan Silek Limbago Budi sebelum belajar, murni semata-mata untuk tujuan silahturahmi. Tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistis.

"Itu tergantung keyakinan dan kebiasaan masing-masing, tapi kami di Limbago Budi Cupak, memotong ayam hanya syarat atau mahar berguru dan tujuannya untuk membangun silahturahmi," tutupnya.

Dalam pemahaman masyarakat selama ini, memotong ayam merupakan hal yang sangat sakral dalam belajar silek . Konon, ada yang meyakini, dari ayam yang dipotong, bisa menjadi media dalam melihat karakter atau watak seseorang, tergantung kearifan lokal masing-masing daerah.

Penulis: Syafriadi | Editor: Rezka Delpiera