Data Dinas Pertanian Payakumbuh 3 Tahun Terakhir: Jumlah Sapi Jantan yang Dikurbankan Meningkat

Ilustrasi.
Ilustrasi. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

PAYAKUMBUH , KLIKPOSITIF - Data Dinas Pertanian Kota Payakumbuh menujukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, jumlah sapi jantan yang disembelih sebagai hewan kurban di daerah tersebut mengalami peningkatan.

Pada 2017 lalu, jumlah sapi jantan yang disembelih sebagai hewan kurban hanya 6 ekor dan sapi betina sebanyak 1.456 ekor. Setahun berselang, jumlah sapi jantan yang disembelih meningkat menjadi 141 ekor dan betinanya 1.760 ekor. Selanjutnya, pada 2019 setelah dilakukan sosialisasi secara persuasif oleh Baharkam Polri dan dinas kepada panitia kurban, telah terjadi peningkatan penyembelihan sapi jantan sebanyak 538 ekor dan 1.041 ekor sapi betina.

baca juga: Dinilai Inovatif, BNNK Payakumbuh Terima Kunjungan DPRD Kampar

"Secara persentase, untuk 2019 hewan kurban yang disembelih adalah 39 persen jantan dan 61 persen betina," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh , Depi Sastra, Selasa (7/7).

Untuk Idul Adha tahun ini, Dinas Pertanian juga sudah bekoordinasi dengan toke dan penyalur hewan kurban di daerah tersebut.

baca juga: Salah Satu SMA Negeri di Payakumbuh Kembali Ditutup Setelah Seorang Guru Positif COVID-19

"Silahkan nanti panitia kurban untuk beli ke toke, mereka sudah kita sosialisasikan sejak beberapa tahun lalu, hingga sekarang kabar baiknya mereka sanggup memasok sapi jantan. Jumlah toke yang terdata di kami berjumlah 22 orang yang terdata dan sanggup memenuhi kebutuhan kurban sapi jantan di Payakumbuh ," lanjutnya.

Menurut Depi, pelarangan memotong hewan kurban ruminansia produktif ini berdampak terhadap ketersediaan sapi lokal di Indonesia yang terus meningkat.

baca juga: Nilai Bantuan Rehab RTLH di Payakumbuh Naik, Jumlah Penerima Turun

"Untuk target kita tahun ini tentu saja peningkatan kepada persentase sapi kurban jantan yang disembelih. Kalau berlarut menyembelih sapi betina produktif, maka ke depan diprediksi akan susah dapat sapi lokal, konsekuensinya bisa saja impor dan ini akan merugikan peternak lokal kita," pungkasnya. (*)

Editor: Taufik Hidayat