Terbukti Bersalah, Penganiaya Anak Divonis 2 Bulan Penjara Dengan Masa Percobaan 5 Bulan di Padang

Sidang Vonis di Pengadilan Negeri Kelas I A Padang
Sidang Vonis di Pengadilan Negeri Kelas I A Padang (Ist)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pengadilan Negeri Kelas I A Padang menggelar sidang kasus dugaan penganiyaan terhadap anak. Sidang mengagendakan vonis terhadap terdakwa berinisial LS, Kamis (9/7/2020).

Dalam putusannya, Majelis Hakim yang dipimpin oleh Lifiana Tanjung, dan Hakim Anggota Suratni dan Asni Meriyenti menilai, terdakwa LS secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga.

baca juga: Video Dugaan Penganiayaan Remaja Putri di Padang Viral di Medsos, Ini Kata Polisi

"Menjatuhkan kepada terdakwa, pidana penjara selama dua bulan. Dengan ketentuan, pidana itu tidak perlu dijalani kecuali terdakwa melakukan kembali perbuatan tersebut sebelum lewat masa percobaan lima bulan," kata Ketua Majelis Hakim Lifiana.

Hal-hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa melukai korban. Selain itu, belum ada perdamaian dan permintaan maaf dari terdakwa kepada keluarga korban.

baca juga: Baru Bebas Program Asimilasi, PD Tusuk Seorang Pria Gara-gara Hal Sepele di Padang

"Keadaan yang meringankan, terdakwa belum pernah dipidana dan baru pertama kali melakukan tindak pidana. Serta terdakwa telah bekerja sebagai abdi negara yang cukup lama dan mengakui perbuatan," ujarnya.

Penasehat Hukum terdakwa LS, Desmon Ramadan mengatakan, pihaknya menilai, memang kliennya dinyatakan terbukti bersalah. Menurutnya, putusan tersebut ada sedikit yang kurang begitu pas, namun apakah akan melakukan upaya hukum atau tidak, pihaknya akan melakukan musyawarah kembali.

baca juga: Sengketa Tanah di Padang Berujung Penganiayaan

"Kami pikir-pikir dulu, kami akan mencoba bermusyawarah dulu dengan pihak prinsipal, langkah-langkah apa yang akan diambil, kami ambil pendapat beliau apakah menggunakan upaya hukum atau tidak," katanya usai persidangan.

Desmon menambahkan, hukuman percobaan secara hukum menyatakan LS terbukti bersalah. "Tapi ada tenggang dalam masa percobaan, jika melakukan perbuatan yang sama baru dihukum dengan yang diputuskan tadi," ujarnya.

baca juga: Aniaya Anak, Pasutri di Halaban Diamankan Polres Payakumbuh

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yuli Sidra mengatakan, pihaknya juga pikir-pikir atas vonis yang ditetapkan Majelis Hakim. "Kalau kami dari sendiri mengajukan tuntutan tiga bulan penjara, tapi memang hakim memutuskan dua bulan dengan masa percobaan lima bulan," katanya.

Terkait dengan putusan tersebut, JPU diberikan waktu untuk berpikir selama tiga hari. "Sekarang kami masih pikir-pikir terkait putusan tersebut, begitu," ujarnya.

Terpisah, Penasehat Hukum korban, Poniman Agusta mengatakan, pihaknya menghormati putusan majelis hakim PN Padang Kelas IA. Namun menurutnya, putusan itu terlalu ringan untuk perkara kekerasan fisik terhadap anak dibawah umur.

"Kami minta kepada penuntut umum untuk melakukan upaya hukum banding. Sebab ini menyangkut kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur," kata Poniman.

Perkara ini adalah perkara dugaan kekerasan fisik yang dilakukan terdakwa LS, yang tidak lain merupakan adik kandung dari nenek korban, pada sekitar 20 April 2018 lalu. Atas tindakan tersebut, terdakwa dilaporkan oleh ayah korban AE ke Polresta Padang.

Berdasarkan hasil visum yang dikeluarkan RS Bhayangkara Polda Sumbar, ditemukan lebam kehijauan pada bahu kiri korban berukuran 3,5 x 3,5 centimeter, lebam pada paha kanan korban berukuran 2 x 2 centimeter dengan jarak dari lutut ke atas 14 centimeter.

Terdakwa LS didakwa oleh JPU Kejari Padang dengan dua dakwaan alternatif yakni Pasal 44 dan 45 ayat (1) Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

Seperti diberitakan KLIKPOSITIF sebelumnya, diduga jadi korban penganiayaan selama hampir tiga tahun oleh keluarga ibunya, seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun asal Kota Padang, bacakan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dalam video berdurasi 2 menit 44 detik yang diterima KLIKPOSITIF , bocah perempuan tersebut menceritakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dan memohon perlindungan hukum, karena

Ia menceritakan tindak kekerasan yang dialami, kekerasan fisik berupa dipukul, dicekik, ditinju, dikejar gunting, dihukum disuruh berdiri dari pukul 10 malam sampai pukul 3 dinihari, hanya karena persoalan terlambat pulang mengaji.

"Kepala saya juga pernah dibenturkan kedinding hingga saya pingsan dan dia (pelaku) membiarkan saya begitu, adik saya yang mengobatinya," katanya dalam video tersebut.

Sedangkan perlakuan dugaan penganiayaan juga dialami oleh adiknya, sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Bahkan, harta peninggalan orang tuanya juga dirampas oleh keluarga ibunya. "Saya juga pernah dipaksa dan diancam untuk membuat surat damai dan video agar tidak berurusan dengan polisi lagi," ujarnya.

"Saya mohon kepada Bapak Presiden dan Ibu Puan Maharani untuk memberikan keadilan dan penanganan hukum untuk pelaku penganiayaan anak dibawah umur, dan rasa keadilan kepada saya dan adik saya. Semoga bapak presiden selalu memperhatikan anak-anak dibawah umur yang dianiaya oleh orang dewasa," ujarnya lagi.

Editor: Muhammad Haikal