Baru Berdiri, Bank Sampah Tuah Basomo Hasilkan Sampah Non Organik 3 Ton Seminggu

Ketua Bank Sampah Tuah Basamo, Wafrizul saat mempermentasekan sampah organik menjadi Eco Enzyme
Ketua Bank Sampah Tuah Basamo, Wafrizul saat mempermentasekan sampah organik menjadi Eco Enzyme (Irfansyah Pasaribu)

PASBAR , KLIKPOSITIF - Aktivitas pengelolaan sampah oleh Bank Sampah Tuah Basamo di Nagari Kapa, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat telah menunjukkan dampak positif bagi lingkungan.

Sejak berdiri di awal tahun 2020 Bank sampah ini telah mampu mengurangi produk sampah non organik sampai 1 ton per minggu dan menghasilkan jual beli sampah Rp500 ribu sampai Rp1 juta per minggu.

baca juga: Kontak dengan Dua Pasien COVID-19, Puluhan Warga Pasbar Test Swab Massal

Ketua Bank Sampah Tuah Basamo, Wafrizul mengatakan jika sampah non organik dikumpulkan masyarakat dengan baik bisa mencapai 2 ton sampai 3 ton per minggu.

"Sebanyak 3 ton sampah non organik bisa terkumpul dari tiga kecamatan yakni, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kinali dan Pasaman. Tentu ini akan berdampak positif dan mengurangi produksi sampah," katanya.

baca juga: Pulang Dari Aceh, Dua ASN di Pasaman Barat Terkonfirmasi Positif Corona

Menurutnya, saat ini di Pasaman Barat hanya memiliki satu unit bank sampah yakni bank sampah yang dikelolanya. Wafrizul mengungkapkan, hingga saat ini pemerintah setempat belum serius menanggapi keberadaan bank sampah dikelolanya.

"Dari pemerintah belum ada pembinaan atau perhatian lainnya. Ada pernah datang dari pihak pemerintah kabupaten, namun hanya sekedar meninjau, setelah itu tidak ada kabarnya," ungkap Wafrizul yang akrab dipanggil Wen.

baca juga: Diterima di Universitas Al Azhar, Santri Asal Kapar Pasbar Terkendala Biaya Berangkat

Ia menilai, sejauh ini keberadaan Bank Sampah terbukti memberikan dampak positif, baik ke lingkungan, sosial maupun ekonomi, yaitu kontribusi terhadap pengurangan sampah nasional.

Selain itu sekaligus membukan peluang pekerjaan serta memberikan penghasilan tambahan. Bahkan, Bank Sampah ini telah memiliki nasabah sekitar 120 orang yang tersebar di tiga kecamatan.

baca juga: Warga Pasaman: Pohon Pelindung Bukan Untuk Wadah Kampanye

Ia menjelaskan, saat ini isu sampah merupakan isu nasional. Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk tentu seiring dengan itu akan bertambah jumlah timbulan sampah.

Sebab, dengan meningkatnya jumlah penduduk, kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat yang menginginkan kepraktisan. Akibatnya, semakin beragam jenis sampah yang dihasilkan.

Di samping itu, tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah menyebabkan sampah belum dapat dikelola secara optimal di sumbernya. Bahkan, banyak sampah yang tercecer ke lingkungan dan berakhir di laut.

Untuk itu ia berharap, pemerintah setempat perlu menindaklanjuti dan merespons perkembangan bank sampah yang cuma satu-satu nya di Pasaman Barat itu.

" Bank Sampah tidak akan jalan dengan baik bila tidak saling bersinergi, misal dalam menjamin pasar," ujarnya.

Menurutnya dengan menjamin pasar dari bank sampah akan memotivasi mereka dalam mengembangkan Bank Sampah ditempat lainnya. Sedangkan saat ini bank sampah tuah basamo cenderung sendirian dalam memasarkan produknya.

"Harga yang ditawarkan sering berubah, akibatnya kita kesulitan dalam memasarkan produk. Seharusnya kita dibantu dengan mencarikan peluang pasar oleh pemerintah," harapnya.

Ia juga menjelaskan pihaknya kewalahan dalam proses pemilahan sampah. Selain tidak memiliki alat pengelolaan sampah, juga tidak memiliki armada dan gudang tempat penyimpanan barang yang potensial di daur ulang.

"Kita hanya menggunakan tenda, jika hari hujan maka sampah kertas atau karton akan basah. Untuk armada kita menggunakan becak motor yang nantinya menjemput sampah di tiga kecamatan," jelasnya.

Disamping itu ia juga mengatakan sampah yang dibuang masyarakat kemudian disalurkan ke tempat pembuangan, harus dilakukan kembali proses pemilahan agar barang yang potensial di daur ulang bisa didapat.

"Kita berharap semua elemen harus menyadari pentingnya lingkungan yang bersih dari sampah, bila sinergitas ini terjadi, bank sampah akan menjadi salah satu solusi pengurangan volume sampah di daerah," katanya.

Sejauh ini pengelolaan sampah tidak dikelola dengan baik. Jika dikelola dengan baik bisa menghasilkan ekonomi buat masyarakat, seperti memberdayakan sampah yang memiliki nilai ekonomis.

"Kita budayakan setiap nasabah bank sampah untuk menabung, nantinya uang nasabah yang sudah mencapai saldo Rp50ribu kita tabungkan di Bank Mandiri," paparnya.

Kemudian terang Iwen, pihaknya juga akan mengedukasi masyarakat untuk mengelola sampah organik dengan mempermentasi menjadi Eco Enzyme dan membuat kerajinan dari sampah non organik.

"Sampah organik ini bisa bermanfaat untuk pupuk cair, pembersih kaca dan pembersih lantai. Sedangkan untuk sampah non organik bisa menghasilkan uang secara langsung dan membuat kerajinan tangan," terangnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Rezka Delpiera