Sistem PPDB Tahun Ini Bikin Pelajar Terancam Putus Sekolah, Mario Syahjohan: Harus Segera di Evaluasi

Mario Syahjohan Saat berbicara di salah satu rapat
Mario Syahjohan Saat berbicara di salah satu rapat (Ist)

SOLSEL KLIKPOSITIF - Anggota DPRD Sumatera Barat dari Partai Gerindra Daerah Pemilihan (Dapil) Sumbar 7 Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan Mario Syahjohan mengatakan karena daya tampung terbatas, sistem Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) atau zonasi harus segera dievaluasi agar tidak ada siswa yang putus sekolah.

"Ada beberapa sekolah yang kelebihan pendaftar tetapi ada juga yang kurang sehingga yang berlebih tersebut terancam putus sekolah, hal ini menimbulkan kepanikan orang tua terhadap masa depan anaknya," kata Mario Syahjohan

baca juga: Kontak Erat Dengan Pasien Positif Kluster Bank Nagari, 24 Warga Sutera Pessel Dikarantina

Menurutnya harus ada solusi, dan pemerintah harus cepat mencarikan solusi tersebut agar mereka yang tidak diterima pada saat PPDB bisa tetap melanjutkan pendidikan . Misalnya, merekomendasikan sekolah terdekat diluar zonasi yang masih kekurangan siswa atau menjadikan ruang tata usaha sebagai lokal jika sekolah tersebut kekurangan ruang belajar.

"Yang penting sekarang semua tamatan SMP sederajat bisa tetap melanjutkan pendidikan dan itu perlu cepat direspon," katanya.

baca juga: Bukan Kelinci Percobaan, Pakar Sebut Ini Manfaat Uji Coba Vaksin COVID-19 di Indonesia

Dia menyesalkan Sistem PPDB dan Zonasi tersebut diterapkan tahun ini. Menurutnya, sistem Zonasi tahun ini seharusnya belum diterapkan, cukup sebatas sosialisasi dan cara manual masih diberlakukan.

"Harus dipersiapkan matang. Contohnya, dilokasi sekolah yang pendaftarnya banyak harus ada penambahan lokal supaya siswa didalam zonasi tetap bisa bersekolah dan tidak terkendala kouta,"jelasnya.

baca juga: Wajib Tahu, Ini Hubungan Pola Asuh dan Kecanduan Internet pada Anak

Terpisah Wakil ketua DPRD Solok Selatan Armen Syahjohan mengatakan, Sekarang sistem belajar daring sudah dimulai dan sebelum melangkah lebih jauh sistem zonasi ini harus ditinjau ulang supaya semua tamatan SMP sederajat bisa melanjutkan pendidikan karena saat ini ada yang berlebih tetapi ada yang kekurangan pendaftar.

Dia berharap Pemerintah mulai dari pusat hingga daerah harus mencarikan solusi bagi anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena terkendala zonasi tersebut.

baca juga: 519 CPNS di Pasaman Barat Akan Jalani Tes SKB, Ini Jadwalnya

"Generasi muda ini merupakan penerus bangsa sehingga harus mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang layak dan jangan sampai putus sekolah," katanya.

Dia khawatir, kalau mereka di usia tersebut tidak mendapatkan pendidikan yang layak bisa-bisa angka kriminal meningkat sebab mereka masih labil dan perlu bimbingan.

"Khusus untuk Solok Selatan belum ada sekolah swasta, sehingga mereka yang tidak diterima di sekolah negeri terancam putus sekolah," katanya.

Kepala sekolah SMA Negeri 3 Solok Selatan Akmalu Rijal mengatakan, pihaknya pada tahap satu menerima pendaftaran siswa baru sebanyak 432 orang dan tahap dua 164 orang.

Yang tidak lulus tahap satu mendaftar lagi di tahap dua yang jumlahnya sebanyak 164 orang dan dinyatakan lulus 129 orang sesuai kuota yang masih tersedia.

"Kami diberi jatah penerimaan siswa oleh Provinsi sebanyak 350 orang sehingga ada 34 orang yang tidak diterima," ujarnya.

Sementara itu Kepala sekolah SMA Negeri 1 Solok Selatan Asril mengatakan, tahun ini pihaknya menerima kuota dari Provinsi sebanyak 360 orang siswa dan yang masuk hanya 315 orang.

"Bisa ditambah tetapi, Kalau untuk penambahan guna pemenuhan kuota harus ada izin Dinas Pendidikan Provinsi," katanya.

Penulis: Kamisrial | Editor: Eko Fajri