Sekolah di Masa New Normal, Guru PAI Dituntut Lebih Proaktif

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF)
AGAM , KLIKPOSITIF -

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Agam dituntut untuk lebih aktif dalam proses belajar mengajar saat penerepan kebijakan belajar di rumah selama new normal. Guru PAI diminta untuk mampu mentransfer materi esensial dan aplikatif meski proses belajar mengajar melalui daring.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Agam , Mursal Asmir. Dikatakan Mursal, berdasarkan Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Nomor 3541 Tahun 2020, Guru PAI memiliki tugas yang cukup berat selama penerapan kebiasaan baru.

baca juga: Agam Tambah 2 Pasien Positif COVID-19, Salah Satunya Dokter

"Keputusan tersebut berisi tentang petunjuk teknis penyelenggaraan pembelajaran pendididkan agama Islam pada masa kebiasaan baru, yang direncanakan akan kami sosialisasikan 18 hingga 30 Juli ini," ujarnya.

Dijelaskan Mursal, berdasarkan keputusan tersebut, secara materi pembelajaran tidak memiliki perubahan. Hanya saja, materi yang sebelumnya berdasarkan Kompetensi Dasar, sekarang justru esensi dari Kompetensi Dasar itu sendiri yang akan diajarkan.

baca juga: Ada 27 Penambahan Positif COVID-19 di Sumbar per 12 Agustus, Total Jadi 1.215 Orang

"Jika sebelumnya mekanisme PAI murid lebih banyak menulis, menghafal, membaca dan sebagainya, kini justru murid dalam proses pembelajaran diharapkan mampu memahami esensi kompentensi dasar secara aplikatif," jelas Mursal.

Berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis tersebut, sambungnya lagi, materi yang ditonjolkan adalah peralihan dari materi pembelajaran seperti biasa ke materi esensial. Sehingga diperlukan pemadatan materi dan pemadatan jam pelajaran.

baca juga: Sekolah Daring Berpotensi Bikin Mata Anak Minus, Ayo Deteksi

"Untuk jam pelajaran mungkin nantinya ranah Dinas Pendidikan , di Kemenag bertugas mensosialisasikan kebijakan, mekanisme, dan materi itu sendiri ke materi esensial," katanya.

Keputusan tentang petunjuk teknis penyelenggaraan pembelajaran pendididkan agama Islam pada masa kebiasaan baru lebih ditekankan kepada guru PAI. Guru PAI dituntut memahami tiga poin penting, seperti harus mampu membuat materi secara mandiri, guru harus memahami sasaran dari materi esensial, dan guru harus memahami keputusan Dirjen Pendis itu sendiri.

baca juga: 3 Perantau yang Pulang ke Pariaman Positif COVID-19, Penutupan Posko Utama Satgas Batal

"Penekanannya ke guru, guru nantinya diberikan pembekalan, sehingga guru dapat memahami kebijakan, mampu membuat materi pelajaran sendiri, dan memahami sasaran materi ensensial," jelas Mursal.

Pihaknya berharap, walau proses belajar mengajar dilaksanakan di rumah atau daring dan luring, sasarannya adalah murid harus tetap memiliki kemampuan yang sama dengan kemampuan belajar secara tetap muka.

"Artinya guru diminta untuk lebih aktif baik di tingkat SD, SMP, SMA atau SMK, demikian juga dengan wali murid. Dulu mungkin cukup guru saja, sekarang peran orang tua juga dibutuhkan," tambahnya.

Dikatakan keputusan tersebut akan berlaku selama penerapan new normal dan masa transisi. Sebelum ada keputusan pemerintah daerah tentang pembelajaran tatap muka, maka akan tetap dilakukan metode berdasarkan keputusan tersebut.

"Sekarang Agam masuk zona kuning, artinya tidak boleh tatap muka, proses belajar mengajar dilakukan daring dan luring. Demikian juga saat transisi nantinya," tutupnya. (rel)

Editor: Rezka Delpiera