Kisah Perjuangan Guru Muda di Negeri Tak Beraspal

Joni Wandri saat mengajar muridnya di SD N 11 Tanjung Balik Sumiso, Kabupaten Solok
Joni Wandri saat mengajar muridnya di SD N 11 Tanjung Balik Sumiso, Kabupaten Solok (Ist)

SOLOK, KLIKPOSITIF - Mengabdi di daerah terpencil sebagai guru, bukanlah hal mudah. Kondisi alam menjadi tantangan terberat. Jalan tak beraspal, keterbatasan listrik dan sinyal telpon.

Akan tetapi, masih banyak anak muda yang rela mengabdi, demi mencerdaskan anak negeri.

baca juga: Kunjungi Daerah Terisolir di Kabupaten Solok, Nasrul Abit Janji Sejahtera Warga Garabak Data

Salah satunya Joni Wandri (27), guru muda asal Nagari Cupak, Kabupaten Solok ini sudah lebih setahun terakhir mengajar di SD N 11 Tanjung Balik Sumiso. Sebuah daerah nun jauh di pelosok Kabupaten Solok -Sumatra Barat.

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika alumni STKIP Adzkia Padang itu akan mengabdi di daerah pelosok Kabupaten Solok itu. Namun, nasib membawanya kesana usai lulus pada seleksi CPNS 2019 lalu.

baca juga: Banyak Lahirkan Ulama, Menag: Pesantren Harus Dibantu

"Sudah lebih satu tahun saya mengajar sebagai guru kelas IV di SD N 11 Tanjung Balik Sumiso, banyak suka dukanya," ungkap pria yang akrab disapa Wawan tersebut, Rabu (15/7/2020).

Untuk bisa sampai di sekolah terpencil itu, Wawan harus menempuh sebagian jalan tanpa aspal. jarak sekolah dari tempat tinggalnya Lebih kurang 4,5 jam perjalanan pakai motor. Itu kalau kondisi cuaca panas, kalau hujan tidak bisa sampai ke sekolah.

baca juga: Bawa Sabu dan Ekstasi, Dua Pengangguran Diciduk Polisi di Solok

Setidaknya, ada lebih kurang 15 kilometer jalan beraspalkan tanah dari Nagari Rangkiang Luluih ke Jorong Tanjung Balik Sumiso, sekitar 2 jam menggunakan motor. Itu kalau cuaca bersahabat. Kalau musim hujan, sudah pasti menjadi genangan lumpur.

Kondisi jalan tanah itu semakin diperparah akibat adanya aktivitas mobil pengangkut kayu dan mobil operasional tambang. Sudah pasti hancur. Terkadang, perjalanan guru muda ini juga dihadang pohon tumbang.

baca juga: DPR Minta Nadiem Perhatikan Kesenjangan Daerah Soal Kurikulum Darurat

"Kalau musim hujan, gak bisa masuk ke dalam, walaupun pakai motor. Parah sekali jalannya, tapi kalau musim panas, bisa ditempuh pakai motor, kadang terpaksa hanya memberikan tugas ke anak-anak," terangnya.

Demi mengajar anak-anak di sana, Wawan bersama pengajar lain asal Danau Kembar, Darman memutuskan untuk menginap di perpustakaan sekolah dengan fasilitas seadanya. Hanya ruang lepas yang diberi sekat.

Maklum sekolah di pedalaman, tidak selengkap sekolah di perkotaan, tidak ada ruang khusus bagi guru. Semangat untuk mencerdaskan anak Negri mengalahkan semua keterbatasan.

"Biasanya kami berangkat minggu sore dari rumah, kemudian menginap di rumah teman saya Rahmadani Syahputra (Aseng) di Nagari Rangkiang Luluih, baru Senin Pagi berangkat ke Sekolah, hari sabtu sore baru pulang, begitu setiap minggunya," terangnya.

Mirisnya lagi, tidak ada air bersih dan toilet di sekolah, untuk kebutuhan mandi, mencuci dan kakus, terpaksa memanfaatkan aliran air sungai. Terkadang, kalau air keruh akibat hujan atau aktivitas tambang, tidak bisa mandi.

--Tidak Ada Sinyal, Listrik 15 Jam--

Mengajar di daerah pelosok memang punya tantangan tersendiri. Selain kondisi jalan yang sangat parah, di kawasan Jorong Tanjung Balik Sumiso masih belum tersentuh listrik dan sinyal telekomunikasi.

Masyarakat sekitar hanya mengandalkan aliran listrik dari pembangkit listrik manual (turbin), hidupnya pun terbatas, dari pukul 17.00 sampai 08.00 Wib. Sistem belajar mengajar memang masih sangat manual.

"Kalau listrik hidupnya hanya 15 jam sehari, itupun kalau tidak ada kendala dengan turbinnya, kalau ada masalah, bisa tanpa listrik sama sekali," terang Wawan.

Selain itu, tantangan yang sangat dirasakan oleh tenaga pengajar di Nagari Tanjung Balik Sumiso adalah tidak adanya sinyal komunikasi. Tidak ada gunanya Handphone di sana, apalagi android.

"Kalau ada perlu menelpon, kami harus ke Nagari Batu Bajanjang atau Nagari Simanau, lebih kurang 2 jam pakai motor, tapi kalau hujan, sudah pasti kita tidak bisa keluar," ceritanya.

Terkadang, dirinya juga memanfaatkan fasilitas Wi-fi milik Nagari Rangkiang Luluih untuk mencari berbagai informasi soal pembelajaran. Itupun kalau Wi-fi hidup, kalau mati tidak bisa.

Jumlah siswa yang bersekolah di SD N 11 Nagari Tanjung Balik Sumiso memang terbilang sedikit, sebab, yang bersekolah di sana hanya anak-anak sekitar. Saat ini, total seluruh siswa hanya berjumlah 20 orang.

"Tahun ajaran baru ini, jumlah murid baru hanya 3 orang, sebab yang sekolah di sana hanya masyarakat sekitar, masyarakat di sini cukup peduli dengan pendidikan ," terangnya.

Dirinya berharap, ada perhatian serius pemerintah terhadap kondisi masyarakat di Nagari Tanjung Balik Sumiso. Kebutuhan mendasar seperti listrik, jaringan telekomunikasi hingga jalan sangat diharapkan masyarakat.

"Harapan kita, kalau bisa ada perbaikan terhadap kondisi di Nagari Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, masyarakat merindukan perubahan," tutupnya.

--Sekolah Butuh Perhatian--

Kondisi Sekolah SDN 11 Tanjung Balik Sumiso sebenarnya cukup memprihatinkan. Di sekolah ini hanya terdapat 5 ruangan saja. 3 ruangan untuk belajar, 1 ruangan untuk perpustakaan dan 1 ruangan untuk ruang majlis guru.

Untuk ruangan belajar siswa, hanya ada tiga ruangan. Tiap-tiap ruangan dibagi dua dengan sekat triplek. Kelas I dan II belajar di satu ruangan, kelas III dan IV di satu ruangan, kemudian kelas V dan VI juga satu ruangan yang dibagi dua bagian.

Sekolah itu tidak memiliki fasilitas lain di luar lima ruangan tersebut, tidak ada musala ataupun toilet. Untuk ibadah, siswa dan guru salat di surau yang ada di Jorong Tanjung Balik Sumiso. Jorong tertua di Nagari Tanjung Balik Sumiso.

Untuk keperluan MCK, guru dan siswa terpaksa memanfaatkan aliran sungai yang memang tidak begitu jauh dari sekolah. Semua aktivitas yang berkaitan dengan MCK dilakukan di sungai.

Kondisi ruangan sekolah juga banyak yang rusak. Sejumlah loteng yang terbuat dari triplek sudah mulai lepas, termakan usia dan menyisakan lobang, hampir di seluruh bangunan.

Dari tiga ruangan belajar siswa, hanya satu ruangan yang memiliki keramik. Selebihnya hanya dari coran beton dan sudah banyak yang berlubang. Setidaknya, sekolah ini sangat butuh bantuan.

Di Nagari Tanjung Balik Sumiso, terdapat empat Sekolah Dasar, masing-masing satu jorong memiliki sekolah dasar. Kondisi sekolah tidak jauh berbeda dengan SDN 11 tanjung Balik Sumiso. Di Nagari itu, terdapat sebuah SMP untuk melanjutkan pendidikan bagi lulusan SD yang ada di daerah yang jauh dari sentuhan pemerintah tersebut.

Penulis: Syafriadi | Editor: Rezka Delpiera