Pembangunan Gedung Terbengkalai, DPRD Pasaman Masih Berkantor di GOR

Kondisi Kantor sementara DPRD Pasaman di GOR Tuanku Rao di Lubuk Sikaping
Kondisi Kantor sementara DPRD Pasaman di GOR Tuanku Rao di Lubuk Sikaping (Istimewa)

PASAMAN , KLIKPOSITIF - Ketua DPRD Pasaman Bustomi menyesalkan sejak dibongkarnya gedung DPRD yang lama akhir Maret 2020, pembangunan kantor baru masih terbengkalai.

"Rehab berat kantor DPRD ini, kita usulkan 2019 dan telah disetujui, karena memang sudah tidak representatif lagi. Sejak berdiri belum pernah direnovasi," sebut Bustomi, Kamis (16/7/2020).

baca juga: Peredaran 102 Kilogram Ganja Digagalkan di Pasaman, Polisi Sita Air Softgun

Ia mengatakan, pemerintah setempat menjanjikan rencana pembangunan dilakukan pada awal Februari tahun ini. Namun, sejak diratakan dengan tanah pada akhir Maret 2020, tidak ada realisasi berikutnya.

"Padahal perencanaan pembangunan kantor DPRD yang representatif dalam artian memenuhi standar perkantoran itu, direncanakan sudah dimulai sejak November 2019. Tapi, sampai sekarang terbengkalai," katanya.

baca juga: Puluhan Pelaku Usaha di Pasaman Dibekali Ilmu Manajemen Kewirausahaan

Bustomi menjelaskan, saat ini sebanyak 35 anggota DPRD Kabupaten Pasaman terpaksa harus berkantor di Gedung Olah Raga (GOR) Tuanku Rao Lubuk Sikaping sejak lima bulan yang lalu.

"Bangunan lama sudah diratakan dengan tanah dan rencana renovasi berat tak kunjung direalisasi oleh pemerintah setempat, ini menjadi penyebab kita berkantor di lokasi yang seharusnya diperuntukkan untuk kegiatan olahraga," jelasnya.

baca juga: Belasan Paket Besar Ganja Kering Dimusnahkan di Pasaman

Lanjut Bustomi, kondisi gedung DPRD yang lama pertama kali dibangun pada tahun 1973 silam dan sudah tidak layak serta representatif lagi digunakan sebagai tempat kegiatan kedewanan.

Sehingga pada tahun 2019 diusulkan ke Pemerintah Kabupaten Pasaman untuk dilakukan rehab berat. Usulan tersebut kemudian disetujui dan tahapan untuk proses rehab berat pun dilaksanakan dengan menggunakan anggaran dari APBD sebesar Rp20 miliar.

baca juga: Bekuk Dua Tersangka, Polres Pasaman Sita 15 Paket Besar Ganja Kering

Karena tidak adanya ketersediaan lahan baru, maka rehab berat bangunan yang lama menjadi solusi terbaik. Untuk sementara waktu hingga pengerjaan selesai, satu-satunya opsi yang ada yakni, kantor pindah ke GOR Tuanku Rao.

"Agar proses lelang bisa terlaksana dengan baik, maka seluruh barang dan aset yang ada dipindahkan ke GOR Taunku Rao. Lapangan yang kerap digunakan untuk olah raga voli dan sejenis lainnya pun disulap menjadi kantor," terangnya.

Bustomi menilai, pembangunan ini terbengkalai karena ada semacam ketidak becusan kerja dari Dinas PUTR setempat. Karena dari awal pemerintah berjanji akan memberikan hasil perencanaan ke LPSE untuk proses lelang dan tender.

"Sejak dijanjikan pada awal Februari 2020, sampai sekarang sama sekali tidak ada realisasi. Bagaimana proses pengerjaan bisa terlaksana. Sementara hasil perencanaan ke LPSE saja belum ada sama sekali," katanya.

Ia juga menjelaskan kalau perencanaan sudah dimulai pada November 2019 dengan menggunakan anggaran perubahan sebesar Rp 100 juta. Setelah dirobohkan oleh pemenang lelang yang ditunjuk oleh balai lelang Bukittinggi.

"Di LPSE pun tak ada proses lelang dan tender selanjutnya. Jadi lah seperti ini kondisinya, kita berkantor di GOR dengan ruangan diskat pakai triplek. Ini kita kena PHP terus sama PUTR," katanya.

"Sudah beberapa kali rapat dengar pendapat dengan PUTR, sampai sekarang jawaban mereka ngambang terus. Tidak ada kejelasan. Toh, kalau memang ada kendala kan bisa sampaikan ke kita," tuturnya.

Pihaknya juga tidak bisa berbuat banyak selain mendesak Pemerintah Kabupaten Pasaman untuk segera melaksanakan proses lelang dan tender serta pembangunan gedung.

"Dalam hal ini domainnya memang berada di pemerintah sebagai pengguna anggaran. Selain tidak representatif, berkantor di GOR juga menghambat aktifitas bidang olah raga," paparnya.

Penulis: Irfansyah Pasaribu | Editor: Rezka Delpiera