Berkunjung ke Pessel, Menteri Desa Sempatkan Singgah ke Rumah Produksi Batik di KTM Silaut

Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, didampingi istri Lilik Umi Nasriah,membubuhi tanda tangan pada kain batik yang sedang dalam proses pengerjaan printing di KTM Silaut
Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, didampingi istri Lilik Umi Nasriah,membubuhi tanda tangan pada kain batik yang sedang dalam proses pengerjaan printing di KTM Silaut (istimewa)

PESSEL , KLIKPOSITIF - Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar mengujungi usaha rumah produksi batik di Kota Terpadu Mandiri (KTM) Kecamatan Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan ( Pessel ), Sumatera Barat, Sabtu 25 Juli 2020.

Kunjungan Mendes dalam rangka mendorong dan memberikan motivasi kepada para pengrajin batik, tepatnya di Rumah Produksi Batik Printing Himpunan Wira Usaha Transmigrasi (HW Trans) Kota Terpadu Mandiri (KTM), Silaut.

baca juga: Irwan Prayitno: Perlu Sinergsitas Anggaran Pusat dan Daerah untuk Infrastruktur Darat

Pimpinan Rumah Produksi Batik Printing HW Trans Lunang Silaut, Dewi didampingi suaminya Sunardi menyampaikan, terimakasih atas kunjungan Menteri bersama rombongan ke tempat produksinya.

"Alhamdulillah, kami tak menyangka tempat ini bakal di kunjungi, Pak Menteri . Kedepan ini bakal menjadi penyemangat bagi kami dan anggota yang bergabung pada usaha rumah produksi batik di KTM Silaut. Sebab, usaha batik ini sudah dikenal secara luas oleh masyarakat untuk dijadikan motif pakaian," ungkap Dewi.

baca juga: Program Pasangan Mulyadi-Ali Mukhni: Bersihkan Sumbar dari LGBT

Ia berharap, kunjungan tersebut benar-benar menjadi angin segar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, sehingga dengan itu usaha batik yang digelutinya juga mampu berkembang pesan dan bersaing hingga tingkat internasional.

"Ada dua motif batik yang kami unggulkan dan kami produksi di sini, yakni batik Tanah Liek, dan batik Mandeh Rubiah," terangnya.

baca juga: Kisah Azwardi Merawat Tiga Anaknya yang Mengalami Karapuhan Tulang Semenjak Bayi

Terkait harga, kata dia, tergantung dari permintaan konsumen dan berapa banyak yang di produksi.

"Sebab, jika pemesan meminta batik tulis, harganya bakal lebih mahal atau di atas Rp500 ribu hingga Rp1 juta per meternya. Namun, jika pembuatannya dilakukan dengan cara diprinting, tentu harganya lebih murah lagi. Namun, itu tergantung pada dasar kain," jelasnya.

baca juga: Beritakan Nasrul Abit Keturunan Partai Komunis, Pimred Akurat.co Minta Maaf

Kesempatan itu, Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, didampingi istri Lilik Umi Nasriah, serta Bupati Pessel Hendrajoni, menyempatkan diri membubuhkan tanda tangan pada kain batik yang sedang dalam proses pengerjaan printing.

Melihat dengan adanya produksi batik di Kecamatan Silaut, ia berharap hal itu bisa berkembang maju dan dapat menjadi nilai ekonomis bagi pengrajin batik, serta mampu memjawab kebutuhan industri sandang, diantaranya batik asal Pessel .

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Ramadhani