ICW Pertanyakan Rencana Prabowo yang Ingin Beli 15 Pesawat Bekas

Ilustrasi
Ilustrasi (Youtube)

KLIKPOSITIF - Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo menekankan keberadaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan itu memperkuat semangat negara untuk memiliki alutsista modern.

Namun, semangat itu justru terpatahkan dengan rencana Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang justru ingin membeli 15 pesawat Eurofighter bekas dari Austria.

baca juga: Cuaca Buruk, Pesawat Garuda Gagal Mendarat di Pontianak

Adnan mengungkapkan, Indonesia telah lama menjadi market alutsista bekas. Karena itulah lahir UU 16/2012 agar ada batasan-batasan pengadaan alutsista .

"Nah, ketika kita menjadi market barang-barang bekas, ya apa bedanya kita dengan market pakaian bekas? Ini kan sama juga, kita menghadapi situasi yang mirip," kata Adnan dalam sebuah diskusi virtual pada Senin (27/7/2020).

baca juga: KNKT Duga Mesin Pesawat SJ 182 Dalam Kondisi Hidup Sebelum Membentur Air

Adnan pun mempertanyakan, upaya negara untuk memodernisasi alutsista yang dimiliki. Sebab saat ini, ia mengetahui Prabowo hendak membeli pesawat Eurofighter bekas penggunaan angkatan bersenjata Austria.

"Bagaimana supaya alasan-alasan untuk memodernisasi alutsista itu justru difasilitasi dengan pengadaan bekas? Bagaimana kita mau modern?" tanyanya.

baca juga: Sempat 3 Kali Ganti Jadwal, Satu Keluarga Jadi Korban Sriwijaya Air SJ182

Apalagi, informasi soal Eurofighter Austria itu sudah banyak bertebaran di internet. Eurofighter Typoon itu sudah didesain sejak 40 tahun lalu dan dibeli Austria pada 2002 hingga 17 tahun berikutnya. Kalau misalkan Indonesia jadi membeli, maka hanya akan bisa menggunakan 13 tahunan karena usia pesawat itu.

Meskipun sebentar, biaya operasionalnya tidaklah sedikit. Kalau dihitung, setidaknya pemerintah harus menganggarkan Rp 65 triliun per tahun sampai tidak bisa digunakan kembali.

baca juga: Sempat Buat Heboh Unggah Foto Pesawat Menukik Tajam, Ngabalin: Maafkan Saya

"Nah, kalau sangat sebentar tapi biaya operasionalnya begitu banyak, saya kira ini menjadi pertanyaan, apa dasar kebijakan yang telah diambil oleh Kementerian Pertahanan dalam hal ini Menteri Pertahanan Prabowo, itu yang secara kemudian cepat kepada otoritas di Austria untuk mengajukan minatnya untuk membeli pesawat -pesawat itu," kata Adnan.

Sumber : suara.com

Editor: Haswandi