Potret Keluarga di Pilubang yang Hidup Belasan Tahun di Gubuk Berlantai Tanah, Tidurpun Beralas Tikar

Zaidil dan Janibar beserta anak-anaknya
Zaidil dan Janibar beserta anak-anaknya (rehasa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF - Menelusuri jalan berliku pada Korong Bamban, Nagari Pilubang, Kecamatan Padang Pariaman , Sumatera Barat, begitu sedap dipandang mata. Kicauan burung, pepohonan serta aliran sungai menambah asrinya wilayah itu.

Jauh-jauh kaki menapak, lebih ke dalam pada nagari itu, ke-asrian mulai memudar, aroma udara berganti, bau tinja sayup sayup sampai membelai hidung. Bau kotoran hewan itu berasal dari salah satu kandang yang berdiri di depan gubuk yang compang camping.

baca juga: 10 Kementerian dan Lembaga Negara Tandatangani MoU, Percepat Fasilitasi Sertifikasi Halal Pelaku UMK

Saat KLIKPOSITIF telisik, bangunan itu terdiri dari tambalan kayu tak beraturan. Empat sisi rumah tak sama kayunya. Bangunan itu dihuni oleh Zaidil dan Janibar.

"Sudah 16 tahun saya tinggal di sini," ungkap Zaidil saat didampingi Janibar (istri), Kamis 30 Juli 2020.

baca juga: Bangkitkan UMKM di Tengah Pandemi, Pertamina Gulirkan Program Kemitraan Pinky Movement

Mereka persilakan KLIKPOSITIF masuk ke dalam kediaman itu yang kurang lebih berukuran 8 kali 5 meter persegi. "Silakan lihat, ini tempat kami," katanya.

Memasuki gubuk itu, jangan menyentuh pintu, jika disentuh pintu itu bisa copot. Memandang ke dalam dari pintu reyot itu, sinar mentari jatuh pada lubang-lubang atap rumah .

baca juga: Fakta Terbaru, Tersangka Kasus Pelecehan Bayi di Pariaman Pernah Alami Kekerasan Seksual

"Iya benar, itu sudah lama bocor, kalau hujan air masuk ke dalam," sela Zaidil, menerjemahkan dugaan KLIKPOSITIF terhadap kondisi atap rumbia rumahnya.

Sinar matahari siang itu tepat menyigi lantai rumahnya. Namun pada tengah hari "berdengkang" itu, dalam rumahnya terasa hawa dingin.

baca juga: Presiden Sindir Kerja Media Pada Pidatonya di MPR

"Maklum, tanah yang menjadi lantai rumah masih lembab, semalam hujan deras. Tak pernah cepat keringnya meskipun pada banyak sisi telah kami bentang tikar dari terpal," jelas Zaidil.

Zaidil menuturkan kondisi gubuk mereka, di dalam gubuk itu sudah 16 tahun menjadi tempat pembaringan.

"Saya dan istri tidur di sini," ungkapnya sembari menunjukkan lokasi.

Tempat tidur pasangan suami istri itu tanah yang beralasan terpal. Ada kasurnya yang tak lagi empuk disentuh, kecil ukurannya. Kamar itu adalah bagian sudut ruangan yang dibatasi dinding terpal sekitar 1,5 meter.

"Tiga orang anak saya yang perempuan tidur di sana. Itu kami jadikan seperti kamar, anak gadis saya tidur di sana dan adik-adiknya," ungkap Zaidil.

Saat menyibak kain pembatas pada ruangan tempat anak-anak Zaidil tidur, tak terpikir bagaimana mereka berbaring. Ruangan itu kurang lebih sepanjang satu setengah meter dan lebar tak sampai satu meter. "Mereka (anak-anaknya) bergantian tidur di sana. Sering bertiga di dalamnya," sebut Zaidil.

Sudahlah kecil, ada pula rak untuk meletakan buku pelajaran di tempat tidur anaknya. Rak buku itu sengaja di letak di sana lantaran ruangan juga dipakai untuk belajar. Yang lebih berfungsi, rak tersebut juga berguna untuk menutupi lubang dinding gubuk. Itu rak multi fungsi.

"Iya, kalau tidak ditutup pakai rak, masuk air. Pernah juga ular dan 'koncek' masuk. Kalau bagian lain ditutup pakai kain dan bekas karung," jelas Zaidil.

Iba nada kalimat Zaidil menceritakan ruangan tempat anak perempuannya, lantaran dia paham betul kondisi lantai tempat anaknya berbaring. Jika tikar yang dijadikan alas tidur itu diangkat, pasir dan tanah yang tampak.

"Begini kondisi kami, tak apa, bersyukur masih ada bagian yang tak bocor. Kalau kamar mandi tak ada, kami hanya memanfaatkan aliran sungai atau air di mushala," ungkap Zaidil.

Berselang waktu saling bercakap dengan Zaidil dan Janibar pandangan menoleh pada sudut sudut bagian atas rumahnya. Mengejutkan, belasan sarang Tawon Ramping juga ada dibangunan itu.

Zaidil juga menuturkan, mereka (8 orang) sudah terbiasa dengan kehadiran binatang melata dan berbisa di gubuk itu. "Yang paling sering ketemu Kalajengking, banyak tempat mereka masuk," sebut Zaidil sembari tersenyum.

Senyuman Zaidil itu jelas bukan pertanda canda. Perlahan senyumannya berubah kerut di kening, matanya mulai berlinang. "Kadang saya tak tahan dengan ini semua. Saya juga tau kalau anak dan istri pun begitu," kata Zaidil dengan nada sedikit berbisik.

Jelas itu pertanda Zaidil ingin terlihat tegar di depan anak dan istrinya.

Dia sangat berharap kehadiran pemerintah untuk mengubah nasibnya. "Paling tidak, kami sangat bersyukur jika dapat bantuan rumah , tak usah yang bagus, rumah yang tak bocor saja, cukup itu," harapannya. Diakuinya, untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) keluarga tersebut masih dapat tiap bulannya.

Setelah itu, dia tak lagi banyak bercerita pada KLIKPOSITIF . Dianya ingin bekerja lagi, mencari rumput untuk ternak orang lain. Sementara itu Janibar juga sadar masih banyak kelapa yang belum dikupas.

Begitulah kehidupan Zaidil dan Janibar beserta 6 orang anaknya, di Nagari Pilubang. Tak ada yang 'bagus' harta atau benda yang mereka miliki.

Gubuk berlantai tanah itu tak pernah rapi, dingin dan lembab sudah menjadi pakaian mereka. Kendatipun demikian, di gubuk itu ada satu benda yang rapi dan bersih tergantung yaitu Sajadah untuk sembahyang.

Kata Zaidil, pada Tuhan Alam dia mengadu segala keluh kesah. Dilimpahkannya segala doa di atas sajadah itu. "Dengan begitu saya tegar kembali," sebut Zaidil menutupi percakapan.

Penulis: Rehasa | Editor: Eko Fajri