Begini Perjalanan Hidup Ikal Jonedi Sebagai Anggota DPRD Pessel, Hingga Jadi Bos Durian

Ikal Jonedi, Anggota DPRD yang juga Bos Durian di Pessel
Ikal Jonedi, Anggota DPRD yang juga Bos Durian di Pessel (Kiki Julnasri/Klikpositif.com)

PESSEL , KLIKPOSITIF - Ikal Jonedi, satu dari banyak anggota DPRD di Kabupaten Pesisir Selatan ( Pessel ), Sumatera Barat yang selain sibuk dengan aktivitas legislatornya, ia juga menggeluti dunia usaha bisnis sebagai sandaran ekonominya. Bahkan, usaha itu jauh dijalani, sebelum terjun ke dunia politik, seperti saat ini.

Berbicara nasib memang tidak ada yang bisa menerka. Beragam lika-liku kehidupan dialami setiap orang, begitu juga dengan Ikal Jonedi. Berkarier dari nol, itulah perjalanan kisah sukses dirinya, hingga memiliki aset mencapai miliar rupiah hari ini.

baca juga: Gempa di Pessel, Dirasakan di Sejumlah Daerah di Sumbar

Banyak pengalaman yang bisa diserap dari perjalan hidupnya, karena memang dulu, ia bukanlah siapa-siapa. Merangkak naik, dari bawa bukanlah suatu hal yang muda baginya. Pernah, jatuh bangun, namun terus dilalui dengan keyakinan dan ketabahan.

"Semua hanya seperti air mengalir, tak ada yang diharapkan. Selain, sebelumnya dengan yakin dan semangat untuk bisa lebih baik," ucap anggota DPRD Pessel yang akrap disapa Ikal Bos ini saat bincang-bincang dengan KLIKPOSITIF .

baca juga: Rabu Pagi, Warga Pessel Dikejutkan Gempa

Berkecimpung di dunia politik, saat ini ia juga juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Pessel . Menjabat selama dua periode, hingga kini membuat lebih aktif berbuat sosial. Di antara aktif menyambung berbagai keluh kesah masyarakat di daerah pemilih (Dapil)-nya. Tak pelak dengan berbagai persoalan, orang butuh pekerjaan kerap mengadu padanya.

Dan berbuat sosial, bukan ketika saat ia sudah duduk sebagai legislator dua periode dari sejak 2015 lalu. Jauh sebelum itu, ia sudah aktif membantu banyak orang. Karena, memang itu dikatakan sudah bagian dalam perjalanan hidup, hingga meraih apa yang tidak pernah dimimpikannya.

baca juga: Sempat Tersendat, Saat Ini Pesanan Estalase di Pessel Mulai Laris Manis

"Tamat SMA, sebentar di kampung saya merantau di Batam. Di sana, saya sedikit ikut menjual durian bersama orang. Dan pengalaman itulah yang saya bawa ke kampung, sampai akhir terus menekuni sampai sekarang," terangnya.

Menurutnya, ia mulai menggeluti dunia usaha sebagai tauke atau pengusaha durian itu, sejak 2005 lalu. Itu pertamakali, hanya dengan modal Rp3 juta, dari satu unit sepeda motor Astrea Grand melalui pinjaman bank, dan sampai saat ini motor tersebut masih disimpannya sebagai sejarah perjalanan usahanya.

baca juga: Diluncurkan Kemendes, Pessel Kini Miliki Tiga Kampus Nagari

"Karena banyak kenanangan dari Astrea Grand butut ini. Makanya, masih saya jaga dan saya simpan," ujarnya.

Ia mengaku, perjalanan hidup sebagai tauke durian hingga sekarang, ia telah bisa menguasai pansa durian hingga ke luar Sumbar. Tak pernah putus usaha, saat ini ia juga memiliki gudang perwakilan di sejumlah daerah ketika musim durian berbuah.

"Kalau durian, penjualan kita sudah merata ke seluruh Indonesia. Jadi, kalau tidak ada stok dalam Sumbar. Pemasok rutin kita, Medan, Bengkulu dan Palembang. Tapi, paling rutin Medan," jelasnya.

Untung besar saat ini bisa diraup Ikal dari durian, paling minimnya dal sebulan jika buah durian tidak merata, ia bisa meraup omzet hingga Rp puluhan juta perbulan. Tapi, kalau musimnya sedang banjir sedikitnya bisa meraup omzet hingga seratusan juta, bahkan lebih.

"Alhamdulillah nilai aset yang terkumpul dari hasil durian ini, sudah ada sekitar Rp3 Miliar. Mulai dari mobil, kebun, tanah perumahan, dan lahan pertanian. Ini semua saya, dapat sebelum jadi anggota dewan," tutupnya.

Sekian perajalanan hidup Ikal Jonedi sebagai anggota dewan, ternyata juga memiliki bisnis usaha sebagai sandaran tetap ekonominya. Memang tidak sebegitu detail, setidaknya kisah pria kelahiran Nagari Surantih, Kecamatan Sutera- Pessel -Sumbar, 3 Maret 1976 ini bisa memotivasi kita semua untuk meraih kesejahteraan hidup.

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Haswandi