WHO: Mungkin Tidak Akan Pernah Ada Peluru Perak untuk Melawan Virus Corona

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Direktur Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) menyatakan bahwa mungkin tidak ada senjata ampuh untuk melawan virus corona . Hal tesebut ia sampaikan dalam akun resmi Twitter WHO pada Senin (3/8/2020).

"Sejumlah vaksin sekarang dalam uji klinis fase 3 dan kami semua berharap memiliki vaksin efektif yang dapat membantu mencegah infeksi virus corona ," tulis Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada konferensi pers.

baca juga: 165 Ribu Wisman Kunjungi Indonesia Sepanjang Agustus 2020, BPS: Bukan Liburan

"Namun, tidak ada peluru perak saat ini (untuk mlawan Covid-19) dan mungkin tidak akan pernah ada," tambahnya.

Melansir dari Huffpost, Tedros kemudian mendesak masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan demi mengindari penularan wabah. Ia juga meminta agar pemerintah melakukan berbagai strategi seperti pelacakan kontak, isolasi, perawatan, dan pembatasan.

baca juga: Timothy, Orang Pertama yang Sembuh dari HIV Meninggal akibat Leukemia

Sebelumnya dalam WHO juga telah memperingatkan bahwa pandemi kemungkinan akan terjadi lebih lama.

" WHO terus menilai tingkat risiko global Covid-19 yang kini jadi sangat tinggi," kata pihak WHO dalam sebuah pernyataan seperti yang dikutip dari Independent.

baca juga: DPR Dorong KLHK Selesaikan Target Penetapan Kawasan Hutan

"Kami menyoroti kemungkinan durasi panjang pandemi Covid-19 yang perlu diantisipasi dengan memperhatikan pentingnya upaya berkelanjutan dari masyarakat, nasional, regional, dan global," tambahnya.

WHO memperingatkan bahwa penyebaran Covid-19 secara global masih meningkat dengan jumlah kasus dua kali lipat dalam enam minggu terakhir. Direktur Organisasi PBB itu juga memeringatkan bahwa dampak pandemi mungkin akan dirasakan sampai beberapa dekade mendatang.

baca juga: Dirikan Partai Ummat, PAN: Amien Rais Sudah Bukan Keluarga Besar Kami

"Pandemi adalah krisis kesehatan sekali dalam seabad yang dampaknya akan terasa selama beberapa dekade mendatang," kata Tedros.

Editor: Eko Fajri