Epidemiolog Unand: Sumbar Masuki Gelombang Kedua COVID-19

Epidemiolog Universitas Andalas (Unand) Defriman Djafri, S.KM., M.KM., Ph.D
Epidemiolog Universitas Andalas (Unand) Defriman Djafri, S.KM., M.KM., Ph.D (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF -- Penambahan kasus infeksi COVID-19 meningkat tajam lagi di Sumbar sejak akhir Juli 2020. Peningkatan paling tinggi terjadi pada 31 Juli dengan penambahan 41 kasus.

Pada 2 Agustus, terjadi lagi penambahan sebanyak 9 kasus. Ditambah 17 kasus pada 3 Agustus dan 13 kasus pada 4 Agustus. Total kasus di Sumbar hingga 4 Agustus sebanyak 987 positif COVID-19.

baca juga: Tak Pakai Masker, 20 Pedagang di Padang Ditindak

Epidemiolog Universitas Andalas (Unand) Defriman Djafri, S.KM., M.KM., Ph.D melihat penyebaran kasus positif di Sumbar memasuki gelombang kedua (second wave).

"Saya berani mengatakan kita (Sumbar) sedang memasuki gelombang kedua penyebaran COVID-19," ujarnya kepada KLIKPOSITIF , Rabu (5/8).

baca juga: Istri Karyawan PDAM Padang Positif COVID-19, Ratusan Karyawan di Swab

Kurva di Sumbar, sebutnya, telah membentuk gelombang. Gelombang pertama terjadi pada Mei 2020 dengan peningkatan kasus paling tinggi 35 kasus.

Kemudian, jumlah kasus menurun pada Juni sampai akhir Juli. Ada beberapa kali Sumbar melaporkan kasus nol. Andaipun terjadi penambahan kasus, selama dua bulan itu nyaris tidak ada penambahan lebih dari 10 kasus.

baca juga: PJS Bupati Solsel Mulai Tegakkan Aturan Terkait Corona, Ini Langkah yang Dibuat

Artinya, sebut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) ini, pola kurvanya sudah membentuk gelombang. Bandingkan dengan kurva level nasional yang sampai hari ini belum melandai. Secara nasional, kurva penyebaran masih merangkak naik.

"Sekarang di Sumbar merangkak naik lagi. Awalnya 16, kemudian 17, lalu 41. Kita tidak tahu ke depannya karena orang-orang terus bergerak," ujarnya.

baca juga: Salut Kinerja Penanganan COVID-19 di Sumbar, Staf Khusus Jokowi Kunjungi Gubernur

Penyebaran ini, sebutnya, sedang membentuk gelombang baru. Dan terus menuju puncak. Puncaknya ini sulit diprediksi sebab penyebaran virus berpacu dengan pergerakan orang.

Defriman mengingatkan, belajar dari sejarah, gelombang kedua berpotensi lebih berbahaya karena orang-orang mulai tidak peduli.

Pemerintah, sebutnya, harus terus menggencarkan promosi protokol kesehatan kepada masyarakat sembari mempersiapkan kapasitas rumah sakit.

Pandemi, sebut Defriman, selalu hadir dengan gelombang-gelombang. Tidak mungkin kasusnya nol. Sebab, kalau bicara pandemi, kita tidak melihat pengendalian kasus di dalam saja, tapi juga melihat keluar. Kenapa? karena orang-orang terus bergerak keluar dan kedalam. Ketika ke dalam bisa dikendalikan, seperti yang dilakukan Sumbar, ancamannya adalah mengendalikan kasus impor. (*)

Editor: Pundi F Akbar